» “Kegenitan Geopolitik” » Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara


Sejarah Nusantara
08-03-2016
Geger Cina di Batavia
Penulis : M Djoko Yuwono

TAHUN 1730-1740-an terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia. Pada bukunya yang fenomenal, The History of Java, Thomas Stamford Raffles menyebutkan bahwa saat itu kota Batavia berada dalam tingkat kemakmuran yang sangat tinggi. Para pedagang berdatangan dari semua penjuru. Barang-barang yang diperdagangkan sangat melimpah. Hal ini mengundang kehadiran para budak.


Jenderal Valckenier yang berkuasa di Batavia memberi keleluasaan kepada orang-orang Cina. Kebijakannya itu membuat tidak ada satu pun ras bangsa lain di Batavia memperoleh tingkat kemakmuran yang tinggi seperti orang-orang Cina, kecuali orang-orang Belanda. Hal apa pun yang mudah dilakukan diberikan kepada orang-orang Cina. Ras-ras lain, termasuk pribumi, sangat sulit menjalani kehidupan di Batavia.

Karena itulah, semua ras lainnya tidak senang kepada orang-orang Cina. Apalagi, orang-orang Cina bertambah sombong seiring dengan kekayaan mereka yang semakin bertambah. Hal ini menjadi pembicaraan luas, kemudian mereka sampaikan kepada pemimpin-pemimpin budak.

Setiap terjadi perselisihan yang mereka bawa ke pengadilan, orang-orang Cina selalu kalah dan harus membayar denda. Hal ini membuat para Cina tidak nyaman. Mereka menghimpun diri dalam berbagai perkumpulan, dengan tujuan melakukan balas dendam. Mereka berkumpul di dekat pabrik penggilingan tebu di Gandaria. Jumlah mereka mencapai lebih dari 1.000 orang. Mereka menunjuk seorang pemimpin pergerakan untuk menentang penguasa Eropa dan melakukan pembalasan kepada para budak.

Karena menyadari bahwa perlawanan tak akan bisa dilakukan secara terbuka, mereka melakukan berbagai perusakan melalui kelompok-kelompok kecil pada malam hari. Segera setelah pemerintahan Belanda mendengar hal itu, ditugasilah beberapa orang pribumi untuk menangkapi orang-orang Cina yang berada di Gandaria.

Tugas dijalankan dengan baik. Orang-orang pribumi berhasil menangkap sekitar 200 orang Cina, kemudian menyerahkannya kepada penguasa untuk diberi hukuman setimpal. Atas keberhasilan itu, mereka mendapat hadiah 6 keping uang emas untuk setiap orang Cina yang ditangkap.

Pemerintah Belanda menyatakan bahwa orang-orang Cina yang menjadi tahanan itu akan dibuang ke negara lain. Mereka diberangkatkan menggunakan sebuah kapal. Tetapi, dalam perjalanan di tengah laut, para tahanan itu dilempar dari kapal. Banyak di antara mereka tidak bisa berenang dan meninggal. Sebagian kecil yang bisa berenang berhasil menyelamatkan diri, kemudian kembali ke Gandaria.

Kepada teman-temannya, mereka menceritakan perlakuan yang mereka dapatkan dari Belanda. Mereka berkesimpulan bahwa penguasa Belanda sepertinya punya niat melenyapkan ras Cina dari Batavia. Atas simpulan itu, mereka bersepakat melakukan perlawanan secara terbuka. Mereka siapkan berbagai peralatan perang.

Orang-orang Cina lainnya yang berada di berbagai daerah, yang juga terganggu oleh tindakan para budak, melakukan perlawanan karena merasa tidak mendapatkan keadilan dari penguasa. Semua berkumpul di Gandaria. Jumlahnya terus bertambah, sampai sekitar 5.000 orang. Seorang bernama si Panjang ditunjuk sebagai pemimpin. (bersambung)



Artikel Terkait
» PERADABAN INDONESIA (Sebuah catatan yang hilang)
» Cina dan Arab Korban stereotype Warisan Belanda di Indonesia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Trump Dikte Anaknya Berbohong, Gedung Putih Cari Pembenaran

Pabrik Farmasi asal Jerman Siap Beroperasi

HMI Cabang Padang: Keluarkan Israel dari Keanggotaan PBB

Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »