» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Sejarah Nusantara
24-03-2016
Pemerintah RI Menolak Melakukan Penelitian Mengenai Sejarah Agresi Belanda 1945-1950
Penulis : Batara R. Hutagalung
Rekan-rekan yang budiman,
 
Saya forward ulang berita yang disampaikan oleh teman saya, sejarawati Belanda/Italia, Dr. Stef Scagliola, bulan Februari 2013. 
 
Dr. Stef Scagliola memberikan informasi, bahwa tiga lembaga penelitian sejarah terbesar di Belanda: NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdokumentatie/Institut Belanda untuk Dokumentasi Perang), KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde/Lembaga Kerajaan untuk Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi) dan NMH (Netherlands Institute for Military History) membuat proposal untuk melakukan penelitian yang sangat rinci mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia selama agresi militer Belanda antara tahun 1945 – 1950. Namun pemerintah Indonesia yang menolak.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa penulisan sejarah di buku-buku sekolah di Indonesia sangat banyak yang ngawur, berorientasi ke barat, menggunakan terminologi mantan penjajah, bahkan menggunakan versi Belanda.
 
Di buku-buku sejarah untuk sekolah-sekolah, tidak diberikan penjelasan yang rinci mengenai perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dan sama sekali tidak ada keterangan yang rinci mengenai pembantaian terhadap sekitar SATU JUTA rakyat Indonesia selama agresi militer Belanda.
 
Sekarang para sejarawan Belanda/internasional yang ingin melakukan penelitian, TANPA MEMINTA DANA DARI INDONESIA, MENGAPA JUSTRU PEMERINTAH Indonesia yang menolak? Mengapa pemerintah Indonesia membantu menutup-nutupi kejahatan perang Belanda?
 
Mohon direnungkan.
 
Salam,
 
Batara R. Hutagalung


Artikel Terkait
» Pembantaian Westerling dan Puputan Margarana, Bali: Australia Dan Inggris Ikut Bertanggungjawab
» PUPUTAN MARGARANA: AGRESI MILITER BELANDA TERHADAP REPUBLIK INDONESIA YANG MERDEKA DAN BERDAULAT
» Menggugat Mitos Bangsa Bodoh Ciptaan Kolonialisme Barat



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Holding BUMN dan Bancakan Kekuasaan

Federasi Nusantara dan Segala Hal yang Perlu Diperjuangkan

Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »