» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Geopolitik
01-04-2016
Penyanderaan 10 ABK Indonesia Bermotif Jangka Panjang
Penulis : Jolly Horonis, Pemerhati Kemaritiman dan Pegiat Sosial-Budaya, tinggal di Manado, Sulawesi Utara
Peristiwa penyanderaan kapal Brahma 12 yang didalamnya ada 10 ABK asal Indonesia oleh kelompok yang mengaku sebagai kelompok Abu Sayyaf ini telah menyita seluruh perhatian dunia. Peristiwa ini perlu mendapat perhatian mendalam mengenai dampak dan agenda lain yang tak kasat mata atau tangan-tangan bayangan di belakang layar.

Berkaca dari perompak Somalia dulu yang sering menyandera  kapal-kapal Asia dengan tujuan atau target utama memperlambat dan melemahkan ekonomi Tiongkok via jalur laut. Kelompok Somalia ini juga didukung dari belakang oleh kekuatan tertentu yang merasa terancam oleh ekonomi Tiongkok.
 
Selanjutnya, Malaysia dulu juga pernah disengketakan dengan Filipina via kesultanan Sulu dalam peristiwa yang disebut dengan 'konflik Sabah', hal ini diindikasikan karena kiblat Malaysia saat itu sudah tidak lagi ke AS. 
 
Konflik ini juga bukan semata-mata Filipina-Malaysia, tapi ada kekuatan yang tak pro dengan posisi Malaysia saat itu dengan memanfaatkan kekuatan lain yaitu Filipina.
 
Penyanderaan 10 ABK asal Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina ini saya pikir bukan hanya sekedar tragedi biasa, tapi memiliki motif jangka panjang oleh Negara besar yang punya kepentingan di Indonesia serta kepentingan kekuatan besar yang bersengketa di Pasifik, dan Indonesia-Filipina bias dijadikan medan bertempur (proxi war) dua kekuatan ini, layaknya AS vsRusia di Ukraina dan sebagainya.
 
Bisa juga peristiwa di utara Indonesia juga merupakan pergeseran konflik dari tiga penjuru mata angin Indonesia yaitu GAM di barat, OPM di timur dan lepasnya Timor Leste di selatan Indonesia. Mengingat dari dulu utara Indonesia ini selalu adem ayem dan tak pernah ada konflik. Mungkin sekarang sudah saatnya.
 
Peristiwa ini juga seharusnya membuka mata Indonesia bahwa betapa kuatnya posisi silang Indonesia dan betapa hebatnya jika kita bias memanfaatkan ALKI sepenuhnya sebagai posisi tawar dan kepentingan Negara Republik Indonesia.
 


Artikel Terkait
» Kesiapan Kekuatan Maritim NKRI Sebagai Antisipasi Untuk Menghadapi Pertarungan Global AS-China Di Asia Pasifik
» Skema Geopolitik Maritim Jepang-India Dalam Kawasan Asia Pasifik
» Betapa Gurihnya Indonesia di Mata Dunia
» Perlu Pendidikan Geopolitik Sejak Dini (Menanggapi Gagasan Menteri Pertahanan Tentang Bela Negara)
» Geopolitik Lumajang
» Menakar Kepedulian Presiden RI Terhadap Papua
» Membayangkan Masa Depan Sulut dalam Kiprah Global



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Menyimak Konflik Sosial di Indonesia

Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »