» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Hankam
07-04-2016
Hikmah Kejayaan dan Keruntuhan Yunani bagi Indonesia
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif GFI
Sejarah membuktikan, masa kejayaan Yunani mencapai puncaknya di era Iskandar Zulkarnaen, putra Raja Philip dari Makedonia. Raja Makedonia, awalnya menduduki dan menaklukkan Yunani di tengah-tengah perseteruan tak kunjung usai antara Athena dan Sparta.
 
Uniknya Raja Philip dari Makedonia, ketika menaklukkan Yunani yang sedang terpecah-belah, bukan untuk menjarah sumber daya alamnya atau menghisap perekonomian Yunani. Melainkan karena cita-cita luhurnya untuk menyatukan seluas mungkin elemen-elemen bangsa yang yang ada di bumi Yunani. Karena Raja Philip punya sasaran pokok: Menaklukkan Persia.

Hanya saja, cita-cita besar Raja Philip dari Makedonia yang sudah bersenyawa sebagai Raja Yunani itu, baru kesampaian di era putranya, Raja Iskandar Zulkarnaen, atau yang di eropa lebih populer dengan sebutan Alexander yang Agung. Alexander the Great.
 
Di masa Iskandar Zulkarnaen inilah, bukan saja Persia, bahkan seluruh daerah yang sekarang masuk Afrika dan Timur Tengah berhasil dikuasai Yunani. Seperti Mesir, Mesopotania (Irak) hingga Mesir.
 
Ketika Iskandar wafat, beliau tidak memilih penggantinya, kecuali mengatakan, cari yang layak. Akibatnya, di era pasca Iskandar, Yunani kembali terpecah-belah.
 
Hanya saja, kebesaran Yunani di era Iskandar, bukan saja dari segi Pertahanan-Keamanan(militer), melainkan juga dari segi IPOLEKSOSBUD.
 
Maka meskipun Yunani secara militer sedang grafik menurun, secara spiritual dan kebudayaan, di era itu Yunani justru pengaruhnya menembus lintas batas nasional negaranya. Pengaruhnya dari segi kebudayaan, terutama filsafat, meluas dan mengembang ke seluruh kawasan dunia.
 
Apalagi kenyataan bahwa Iskandar Zulkarnaen, mentornya adalah seorang filsuf besar Yunani, Aristoteles. Yang legenda dan reputasinya tak kalah sohor dibandingkan gurunya, Sokrates.
 
Maka itu, bagi Indonesia, sejarah kejayaan dan keruntuhan Yunani jadi pelajaran yang amat bernilai. Betapa ketahanan nasional sebuah bangsa, tak cukup hanya dari segi kemiliteran semata. Ideologi, Politik-Ekonomi dan Sosial-Budaya, harus berkembang kuat secara bersama-sama.
 
Sejarah keruntuhan Yunani baik secara kemiliteran maupun politik-ekonomi pasca kekaisaran Iskandar, ternyata ketahanan budaya Yunani tetap bisa menopang ketahanan nasional Yunani baik di dalam negeri, dan bahkan di mancanegara.
 
Bahkan Bung Hatta, salah seorang proklamator dan salah satu founding fathers bangsa Indonesia, semasa perjuangan kemerdekaan di era 1930-an, secara khusus menyajikan materi tentang pengenalan Sejarah Filsafat Yunani, sebagai salah satu modul pelatihan dalam pendidikan pengkaderan politik bagi para aktivis pergerakan pemuda dan mahasiswa di era itu.



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »