» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Sejarah Nusantara
09-04-2016
JOKO DOLOG (1)
Kertanagara Nan Tangguh
Penulis : M. Djoko Yuwono

JOKO Dolog, masih ingat, kan? Itu lo, patung di depan kantor gubernuran di Surabaya, yang katanya sebagai patung perwujudan Prabu Kertanagara, Raja Singasari terakhir (1268-1292).


Ya, ya, Joko Dolog. Dalam bahasa Jawa, 'joko' berarti perjaka, 'dolog' (dholog) berarti batang kayu bulat yang keras berisi. Joko Dolog adalah simbol pemuda jantan, bertekad kokoh, tak tergoyahkan, tidak minderan.

Itulah sosok Prabu Kertanagara, yang di kitab Pararaton diversikan sebagai seorang yang suka mabuk dan gemar berpesta pora. Ups, abaikan kitab Pararaton yang kontroversial itu. Kita ambil saja rujukan dari kitab Nagarakertagama: Kertanagara adalah seorang yang cerdas, seorang negarawan yang baik, bersosok 'bhairawa-anoraga' (perkasa di luar, lembut di dalam).

Tak sia-sia Kertanagara mewarisi ajaran nenek moyangnya, Ken Dedes, ajaran Dasaparamita:
1. Dhana (bermurah hati);
2. Sila (berperilaku utama);
3. Ksanti (tenang dan sabar);
4. Virya (berani);
5. Prajna (waspada);
6. Upayaka (berusaha);
7. Usalya (bersarana);
8. Pranidhana (berteguh hati);
9. Bala (berkawan);
10. Juana (berilmu).

Dengan semangat yang dilandasi 10 ajaran itu, Kertanagara berhasil menaklukkan tanah Jawa Tengah dan Bali (1284), juga sukses mengirimkan ekspedisi ke tanah Malayu (pesisir utara Sumatera), termasuk mempermalukan Kubilai Khan dengan memotong telinga utusannya, Meng Qi (simak tulisan berikutnya di seri 2). Semua itu dilakukan demi kemakmuran rakyatnya.

Sebagai sosok yang 'bhairawa-anoraga', lihat perwujudannya pada patung Joko Dolog: tubuhnya kekar menggambarkan keperkasaan, namun wajahnya yang polos mengekspresikan kelembutan jiwanya; juga sikap 'mudra'-nya (duduk bersila) dengan tangan menunjuk ke bumi melambangkan betapa dia memiliki sifat setia kepada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, dan selalu berbuat baik.

Oh, alangkah idealnya. Tipikal macam itu pula kiranya yang mesti dimiliki oleh para anak negeri ini, tipikal manusia Indonesia yang ber-'bhairawa-anoraga'. Hmm ... (bersambung)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »