» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Asean
13-05-2016
Mengkapitalisasi Dialog Kemitraan ASEAN-RUSIA Untuk Kepentingan Nasional
Penulis : Tantowi Yahya, Wakil Ketua BKSAP DPR-RI dan anggota Komisi I DPR RI

Lingkungan Strategis

TANTANGAN GEO-EKONOMI GLOBAL

1. Proses pemulihan ekonomi global saat ini diperkirakan akan berlangsung moderat. (Pemulihan ekonomi AS berlangsung secara bertahap, kawasan Eropa diperkirakan akan tetap lemah dan rentan akibat masih tingginya tingkat utang dan fragmentasi keuangan. Sementara pertumbuhan ekonomi negara berkembang di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara dan Asia Timur cukup tinggi).


2. Pusat pertumbuhan ekonomi dunia ke depan diperkirakan akan bergeser terutama di kawasan Eropa-Amerika ke kawasan Asia. (Kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara berkembang terhadap PDB dunia pada tahun 2019 diperkirakan akan mencapai 43,8 persen; padahal pada tahun 2010 hanya sebesar 31 persen).

3. Tren perdagangan global ke depan tidak saja dipengaruhi oleh peranan perdagangan barang, tetapi juga oleh perdagangan jasa yang terus meningkat dan menjadi bagian penting dari mesin pertumbuhan global.

4. Harga komoditas secara umum diperkirakan menurun, namun harga produk manufactur dalam tren meningkat. (Bank Dunia memperkirakan indeks harga komoditas energi akan turun dari 123,2 pada tahun 2015 menjadi 121,9 pada tahun 2019. Di sisi lain, indeks harga komoditas non energi diperkirakan akan mengalami sedikit kenaikan yang relatif konstan. Indeks harga produk manufaktur akan meningkat dari 109 pada 2015 menjadi 115,4 pada tahun 2019. Sumber: Bank Dunia, Commodity Price Forecast)

5. Semakin meningkatnya hambatan non tarif di negara tujuan ekspor. (Hal ini merupakan salah satu akibat dari krisis global yang memicu kecenderungan masing-masing negara untuk mengamankan pasar domestiknya).  

6. Implementasi MEA. (Dengan MEA, ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan satu kesatuan basis produksi sehingga akan terjadi aliran bebas barang jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil antarnegara ASEAN).

7. Pergeseran fenomena kerjasama ekonomi ke arah plurilateral dan mega blok. (Tiga kesepakatan kerjasama ekonomi yang sedang dalam proses perundingan diperkirakan akan menjadi tiga Mega Blok Perdagangan/Mega Trading Block), yaitu TPP/Trans Pacific Partnership yang saat ini beranggotakan 13 negara Asia dan Pasifik; TTIP/Trans Atlantic Trade and Investment Partnership yang terdiri dari Amerika dan Uni Eropa; dan RCEP/Regional Comprehensive Economic Partnership yang terdiri dari 10 negara ASEAN dan 6 negara mitra ASEAN). Ketiga mega blok perdagangan ini diperkirakan akan menjadi penentu arsitektur perdagangan dan investasi global.    


TANTANGAN GEO-POLITIK  GLOBAL

Amerika masih merupakan kekuatan utama dunia. Upaya penyeimbangan kembali oleh Amerika di kawasan Asia Pasifik merupakan salah satu perkembangan geopolitik saat ini.

Eropa Barat juga merupakan aktor besar yang dapat mempengaruhi percaturan politik global.  Peran negara-negara Eropa Barat dalam persoalan di Timur Tengah (Arab Spring), persoalan nuklir, dan penyelesaian sengketa di kawasan Afrika sangat signifikan.

Kekuatan baru Tiongkok dengan pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduknya yang besar, serta peningkatan kekuatan militernya menandai peta politik ekonomi global dan regional.

Australia merupakan faktor yang semakin penting dalam peta politik di kawasan Pasifik Barat. Australia memiliki kekuatan seperti politik, ekonomi, militer, dan teknologi sebagaimana negara-negara barat.   

Rusia muncul sebagai salah satu poros kekuatan yang besar   

Dunia mengalami proses perubahan situas global yang ditandai dengan pergeseran hegemoni negara-negara barat menuju kebangkitan ekonomi negara-negara Timur.

Pergeseran ini tidak terlepas dari strategi negara-negara Timur menyiasati globalisasi, yakni memanfaatkan momentum krisis yang melanda negara-negara Barat dan memantapkan nasionalisme di dalam negerinya dengan melakukan proteksi terhadap potensi geo-politik dan geo-ekonomi dari berbagai bentuk intervensi asing.

Dengan pergeseran gravitasi geo-strategi dunia ke Asia Pasifik, kawasan ini menjadi pengendali kunci politik global karena kurang lebih 41 persen penduduk dunia berada di kawasan ini dan 50 persen transaksi dunai terjadi di kawasan ini.

DIALOG ASEAN-RUSIA

ASEAN dan Rusia memulai hubungan dialog informal pada tahun 1991 dan meningkat menjadi hubungan formal kerja sama kemitraan ASEAN-Rusia pada tahun 1996.

Kerja sama kemitraan ASEAN-Rusia terus diperkuat ditandai dengan pelaksanaan KTT pertama ASEAN-Rusia tahun 2005 di Kuala Lumpur, Malaysia dengan menghasilkan Deklarasi Bersama Kepala Negara/ Pemerintahan Negara-negara Anggota Asosiasi Bangsa Bangsa Asia Tenggara dan Kepala Negara Federasi Rusia pada Progresif dan Kemitraan Komprehensif.

Hubungan kerja sama kemitraan tersebut semakin ditingkatkan melalui penyelenggaraan KTT ke-2 ASEAN-Russia tahun 2010 di Hanoi, Viet Nam. Saat ini, Laos merupakan country coordinator Kerja Sama Kemitraan ASEAN-Rusia periode 2015-2018 dan dilanjutkan oleh Indonesia pada tahun 2018-2021.
 
KTT Rusia-ASEAN akan diadakan di Sochi pada 19 – 20 Mei. Acara ini akan menjadi KTT internasional terbesar di Rusia sepanjang 2016. KTT ini diadakan di bawah slogan "Menuju Kemitraan Strategis untuk Kebaikan Bersama.“

Selama pelakasanaan KTT Rusia-ASEAN mendatang, sebuah deklarasi yang akan menjadi landasan rencana aksi kerja sama Rusia-ASEAN di bidang politik, ekonomi dan budaya, serta di bidang keamanan, diharapkan dapat diadopsi.

Biasanya, KTT kemitraan serupa diadakan di wilayah negara-negara anggota ASEAN. Namun tahun ini, pemilihan Sochi sebagai tempat dilaksanakannya pertemuan puncak KTT merupakan sesuatu yang bersifat simbolik untuk merayakan 20 tahun kemitraan Rusia-ASEAN
 
Suramnya prospek kerja sama ekonomi dengan Barat serta ancaman resesi yang mengintai Rusia membuat langkah Rusia mengubah haluan dan membangun hubungan kerja sama yang lebih kuat dengan Asia terlihat sebagai keputusan yang logis. Selain itu, Rusia perlu masuk ke 'lokomotif pembangunan' Asia jika ingin mengembangkan diri secara maksimal, karena pembangunan Siberia dan Timur Tengah tak mungkin tercapai tanpa dukungan yang kuat dari pasar Asia.

Secara spesifik, Moskow ingin ASEAN menjadi komunitas internasional yang lebih kuat dan mandiri, di tengah ancaman yang datang dari pihak yang mengklaim wilayah maritim mereka di Laut Cina Selatan. Ada dua hal yang diinginkan Rusia dari Asia Timur: perdamaian dan pembangunan.

Memburuknya situasi di Laut Cina Selatan saja dapat membuat Rusia mengalami kerugian besar.

Selama 20 tahun terakhir, sejak Rusia menjadi Mitra Dialog ASEAN, kerja sama telah berkembang hingga mencakup area-area kunci dalam kolaborasi yang ada, termasuk sains dan teknologi, pendidikan, keamanan pangan, agrikultur, energi, pariwisata, transportasi, dan manajemen bencana.

Perdagangan dan investasi ASEAN-Rusia telah meningkat pesat. Jumlah total perdagangan antara ASEAN-Rusia tumbuh sebesar 9,9 persen, dari 18,2 miliar dolar AS pada 2012 menjadi 19,9 miliar dolar AS pada 2013. Investasi langsung luar negeri (FDI) yang mengalir dari Rusia ke ASEAN telah meningkat secara signifikan dalam dua tahun, sebesar 369,2 persen pada 2012 (180 juta dolar AS) dan 194 persen pada 2013 (542 juta dolar AS).

ASEAN mengimpor mesin teknologi tinggi, peralatan militer, produk kimia, bahan bakar dan energi, yang semuanya dapat disediakan oleh Rusia. Sementara Rusia mengekspor bahan bakar dan energi, negara-negara ASEAN mengekspor barang pabrik dan produk pertanian.

Rusia dan ASEAN dapat mengambil manfaat dari keadaan saling melengkapi ini, menjadi partner dalam proyek-proyek bersama bidang infrastruktur dan teknologi tinggi.

DINAMIKA HUBUNGAN INDONESIA-RUSIA

Uni Soviet merupakan salah satu anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengecam agresi militer Belanda pertama pada 1948. Sesaat setelah Republik Indonesia merdeka, Soviet memberi dukungan. Menteri Luar Negeri Soviet Andrei Vyshinsky mengucapkan selamat atas lahirnya negara baru di Tanah Air. Indonesia lantas berinsiatif membuka komunikasi, melalui telegram yang dikirim Wakil Presiden Muhammad Hatta.

Uni Soviet yang kemudian berubah menjadi Federasi Rusia secara resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia sejak 3 Februari 1950.

Selama era Presiden Soekarno, hubungan RI-Soviet mengalami masa bulan madu. Pada 1956-1960, Indonesia memperoleh banyak dukungan dalam bidang militer dan ekonomi dari negara komunis tersebut. Soviet menyokong terbentuknya Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta hingga menghibahkan beberapa teknologi untuk pembangunan reaktor nuklir Serpong.

Uni Soviet juga memberikan dukungan alutsista senilai USD 2,5 miliar berupa Kapal Perang tipe Sverdlov, 12 kapal selam kelas Whiskey, 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed, maupun 30 unit pesawat MiG-15. Semuanya digunakan Indonesia saat menggelar operasi Trikora merebut Papua dari pendudukan Belanda.

Hubungan kedua negara renggang setelah Peristiwa G 30 S/PKI 1965. Pemerintah Orde Baru menyebutkan Soviet terlibat menggerakkan beberapa faksi TNI menggulingkan Soekarno.

Presiden Soeharto akhirnya memecah kebekuan dengan melawat ke Moskow pada September 1989. Dua tahun kemudian, republik unitaris Soviet pecah, berubah menjadi Federasi Rusia. Ideologi negara pun tak lagi komunis, serta berkembang perekonomian pasar di Moskow hingga Vladiwostok.

Setelah Indonesia memasuki reformasi, hubungan RI-Rusia semakin menguat. Adalah Presiden Megawati Soekarnoputri yang membuat kedua negara akrab kembali, terutama karena pembelian jet tempur Sukhoi.

Hubungan diplomatik antara Rusia-Indonesia yang harmonis terus berlanjut hingga era Presiden SBY.  Kini, di era Presiden Joko Widodo Rusia menyatakan terus mendukung Indonesia. Hubungan bilateral kedua negara telah mencapai usia 65 tahun.

 


TIGA BIDANG TERPENTING YANG MEMPERKUAT HUBUNGAN INDONESIA-RUSIA

1. Senjata dan Militer

Pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk membeli satu skuadron Su-35 milik Rusia secara bertahap pada September lalu. Pesawat tempur ini nantinya akan menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger milik Amerika. Sepertinya, Indonesia pun akan mendapat pinjaman lunak senilai tiga miliar dolar AS atas pembelanjaan ini.

Selain itu, Kementerian Pertahanan Indonesia juga berencana membeli lima kapal selam Rusia. Sebelumnya, pihak Indonesia telah melakukan negosiasi dengan pihak Rusia mengenai pembelian kapal selam bekas proyek 877 Paltus, tetapi kemudian pihak Indonesia mengumumkan pembatalan kesepakatan ini dan memilih untuk membeli kapal selam bertenaga diesel terbaru Amur-1650. Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengatakan  bahwa kapal selam bertenaga diesel milik Rusia memiliki karakteristik terbaik.

Kemungkinan Indonesia juga akan membeli sistem pertahanan udara jarak menengah. Pemberian kredit tersebut kepada pihak Indonesia akan mempermudah senjata Rusia masuk ke pasar Indonesia.

Rusia dan Indonesia memiliki pengalaman positif dalam kerja sama di bidang militer. Sejak tahun 2000, TNI menerima beberapa modifikasi jet tempur Su, helikopter Mi-17-IV dan Mi-35M, BTR-80A, BMP-3F, dan senjata AK-101 serta AK-102.

2. Energi Nuklir

Pada bulan Juni 2015 di Moskow, Indonesia dan Federasi Rusia menandatangani nota kesepahaman kerja sama di bidang energi nuklir damai. Pada bulan September 2015 di Jakarta, telah ditandatangani nota kesepahaman terkait pembangunan proyek PLTN berdaya tinggi dan PLTN terapung di Indonesia. Indonesia juga berusaha untuk mengembangkan teknologi nuklir damai. Pada tahun 2016, universitas-universitas teknik Rusia berencana menerima 20 siswa dari provinsi Kalimantan Timur yang akan mempelajari energi atom di Rusia.

3. Proyek Infrastruktur

Setelah pertemuan antara Menteri Perekonomian Indonesia Hatta Rajasa dan Duta Besar Rusia Aleksander Ivanov pada 2011 silam, keinginan Rusia untuk berinvestasi dalam pembangunan kereta api di Indonesia menjadi jelas.

Perusahaan kereta api Rusia RZD (Russian Railways) telah resmi mengonfirmasi minat dalam proyek tersebut. Pada tahun 2014, perwakilan Russian Railways menyampailkan bahwa proyek ini akan dibiayai oleh VEB, Gazprombank, dan beberapa lembaga keuangan lainnya.

Pembangunan jalur kereta api (dengan panjang sekitar 300 km) antara Provinsi Kalimantan Tengah dan Timur menuju terminal batu bara akan dikerjakan oleh Kalimantan Rail. Dalam proyek ini, Russian Railways memiliki 50 persen + 1 saham perusahaan. Pada kuartal IV 2018, Kalimantan Rail berencana membangun jalur kereta api (dengan panjang 190 km) dan terminal laut untuk ekspor batubara termal dari endapannya di Kalimantan Timur.


 

REKOMENDASI

1. Negara-negara ASEAN harus melakukan konsolidasi. Tanpa konsolidasi, ASEAN hanya akan menjadi forum diskusi, bukan menjadi alternatif bagi kekuatan politik besar yang sepertinya akan memecah-belah wilayah tersebut dalam beberapa tahun ke depan.  Negara-negara ASEAN harus memiliki alternatif aliansi selain Tiongkok dan AS. Dan, itu adalah hal yang juga dibutuhkan oleh Rusia.

2. Belum pulihnya situasi ekonomi Rusia adalah kesempatan bagi negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia untuk menjamah pasar Rusia, terutama di bidang yang tak terlalu kompetitif di kalangan para produsen lokal. Para pejabat dan pengusaha Rusia belum terlalu mengenal negara-negara ASEAN. Oleh karena itu, negara-negara Asia Tenggara harus berinisiatif mempromosikan diri mereka di Rusia.

3. Strategi hubungan Rusia dan ASEAN harus dikembangkan. Sebaiknya memang tidak ada satu mitra atau negara yang lebih diutamakan. Perlu  ada kesimbangan. Namun, Indonesia sebagai negara anggota yang paling besar, dengan jumlah penduduk yang besar, dan sekaligus memiliki pangsa pasar yang besar, sangat wajar jika Rusia menjalin kemitraan yang lebih kuat dengan dengan Indonesia.

 

*) Disampaikan dalam Seminar Dialog kemitraan ASEAN-RUSIA Momentum membangun strategi perimbangan kekuatan di Asia Tenggara, Kampus universitas nasional 11 Mei 2016  

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »