» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Asean
14-05-2016
Kalau Mau ke Rusia, Kita Harus Lewat Perantara Cina
Penulis : Basilio Dias Araujo, Asisten Deputi Keamanan dan Ketahanan Maritim, Kementerian Kemenko Maritim

Saya tidak banyak tulisannya. Jadi, para bapak-bapak ibu-ibu kita belajar peta saja, ya kita sama-sama belajar peta saja. Saya tidak akan lama, tapi pada pertemuan kali ini saya ajak kita semua untuk melihat peta. Kalau kita ingin melakukan kerjasama dengan siapa saja, dilihat siapa saja kah. Maka pertanyaan pertama adalah siapakah lawan kita? Nah, ini Rusia, kalau kita mau kerjasama sama dengan Rusia, kita harus liat dulu siapa Rusia itu.


Kalau kita lihat peta ini, bagaimana Rusia itu dari timur sini sampai ke barat sana. Tapi ada satu titik strategis yang perlu menjadi perhatian kita, di barat dia ada laut, di timur juga dia ada laut. Ini artinya kalau kita lihat dipeta, Rusia menguasai dua laut. Ini adalah satu Negara besar, pertama negara ini yang kedua adalah negara Cina. Sama-sama negara besar. Cina sama, dari timur ke barat. Kalau Cina tidak sampai ke ujung barat, tapi Rusia ke laut Cina timur, laut Cina selatan lalu kembali ke selat malaka.

Kalau kita lihat rusia, GDP Rusia itu adalah 1.860.0 bio (2014) 2.070.02  bio (2013) ranking ke-14 dunia, penduduknya kalau  tidak salah, 144,221,341  dengan Crimea, Rusia menjadi 146,519,759. Dari segi penduduk, kita ada 250 sekian juta , Rusia ada di 140 sekian juta.

Setengah dari kita. Dari segi jumlah penduduk Rusia merupakan Negara potensial yang katanya perlu kita pertimbangan untuk keperluan zona ekonomi. Kalau dari segi politiknya, security-nya adalah negara yang kita perlu perhitungkan untuk kerjasama politik maupun kerjasama keamanan, mau tidak mau.

Sekarang kita lihat hubungannya di sini, kalau di bagian timur Rusia ketemu dengen Baltic sea, lalu bagian tengah Rusia ketemu dengan Black Sea.

Kalau mau ke Eropa barat Rusia tinggal lewat sini, lewat sini.  Dari sini kita lihat dia kuasai wilayah laut sini, sini dan sini. Artinya kita lihat betapa pintarnya Negara itu dia kuasai darat, tetapi dia juga kuasai laut, dia punya banyak akses. Artinya kalau Negara ini diserang, dia bisa keluar dari sini, dia bisa keluar dari sini.

Nah, sekarang kita lihat di sini. Tadi kan bicara tentang KTT di Sochi. Nah di sini letak Sochi, masuknya lewat laut sini dan keluarnya lewat sini. Kita bisa lihat dia bagaimana di sini dia mengelola sumber daya nya. Sumber daya itu dia salurkan ke Eropa Barat lewat sini untuk bisa masuk ke negara-negara eropa itu. Nah di sini kita lihat pipa gasnya dia sambung dari Rusia ke eropa barat. Nah sekarang kita kaitkan lagi dengan Cina yang one road atau China Pacific road. Nah, artinya Rusia ini tidak bisa kita lepaskan hubungan kita dengan Rusia ini karena berkaitan dengan Cina. Karena kalau kita mau akses ke Rusia atau Eropa barat, kita melewati Cina, tetapi karena Cina ini yang punya China Pacific road tadi. Sejak dulu, Cina itu tidak berubah konsepnya yang dulu itu masih sampai sekarang. Artinya kalau kita mau ke Rusia, mau tidak mau kita harus melewati perantara Cina.

Nah di sini saya akan menunjukkan bagaimana Rusia mengeluarkan dari sini, atau dari sini.  Kalau keluar dari sini dia akankeluar dari terusan ini, namanya Bosphorus.  Kemudian setelah dia sampai di sini, di negara eropa barat di sana, terus melewati ini ke sini dan ke sini. Atau dia lewat moskow di sini dan masuk keterusan Suez.

Nah, sekarang kita lihat dari sini, tadi dia sudah keluar dari terusan pos poros sekarang dia masuk ke sini. Di sinlah dia masuk kemudian ke out of Aden, lewat ke sini dan mulai masuk ke Selat Malaka.

Nah, tadi kita sudah berbicara mengenai Rusia,Rrusia itu letaknya dimana, kira kira potensi apa yang dia miliki. Nah sekarang kita melihat ke dalam, apa yang kita miliki?

 Ni saya minta maaf karena pakai bahasa inggris, karena minggu lalu saya habis presentasi jadi saya pakai ini saja. Is an Archipelagic State, Is part of the coral triangle with a diversity of 600 corals that houses 76% of the world known species, Has the highest reef fish diversity with 2.500 or 37% of the world’s reef fish species concentrated in the area, Is a nursery ground for six species of threatened marine turtles, endangered fish and cetaceans such us tuna and blue whales, Has a  81.000 Km of Coastal Line

Lalu Indonesia kita lihat GDP 888.54 BIO USA (2014) atau ranking 16 dunia. Dari GDP tadi Rusia 14 kita 16 ngga beda jauh. Dari segi penduduk ya kita 258 juta 2016  dia 140 juta.

Kemudian Area of Lands: 1,922.570 sq km, Area of Ocean: 3,257,483 sq km, Number of Islands: 17,480, kita masih ada sekitar 4ribuan yang belum tercatat, Coast Line: 81.000 Km, Population: 237 million of people, Province: 34, Regency: 362, City: 92, Village: 83,806. Kalu rusia punya federal state tapi mereka tidak sebut federal state, federal hmm federal institution, semacam federal stated, dia punya 89, akhirnya pada tahun 99 kabupaten nya itu jadi berkurang 5, berkurang karena bergabung , akhirnya sekarang dia hanya punya 85 federal state.

Nah, di sini kita bisa lihat betapa besarnya negara kita. Desa saja ada 83 ribu kapan kita bisa menjelajahi semuanya, saya saja baru sekitar 250 itu selama 30 tahun bekerja. Itu pun karena dibiayai pemerintah. Kalau saya biayai sendiri ya ngga mungkin lah.

Nah sekarang kita lihat posisi Indonesia dimana. Tadi sudah dijelaskan kalau ASEAN ini terdiri dari 10 negara lalu dan ini ada negara-negara yang berbatasan langsung dengan kita. Dari 10 itu baru dua negara yang kita selesaikan batasnya, sementara yang lain belum diselesaikan dan belum tahu kapan bisa diselesaikan. Dan tidak usah kaget kalau Negara lain itu ada yang sampai 30 tahun tidak bisa menyelesaikan masalah perbatasannya.

Nah, sekarang kita lihat kalau kita mau kerjasama dengan Rusia, kita lihat apakah atau adakah yang mau kita kerjasamakan itu?  Nah mungkin beberapa tahun lalu atau dua tahun lalu kita sering dengar yang namanya poros maritim, poros maritim, poros maritim.

Ada yang mengatakan concord. Kita kalau untuk dalam negeri menggunakan poros maritime kalau untu keluar negeri menggunakan istilah concord. Di sini kita melihat pandangan bahwa, Pak Jokowi bukan orang pertama lah yang mengarahkan kita untuk ke laut.

Kita kembali ke tahun 1928, tahun sumah pemuda, saya sering di luar negeri saya bilang kalau negara lain mereka sering kalau ada yang bilang our father land atau our mother land, kita tidak. Saya bilang kita itu  mneyebutkan father land atau mother land, yang saya bilang adalah tanah air satu, tanah air Indonesia. karena kita bukan hanya ada tanah tetapi juga air. Yakni tanah air Indonesia. itu sudah ada sejak sumpah pemuda, bertanah air satu, tanah air Indonesia.

Kalau Pak Soekarno bilang we have to opt for a country of seas where we have a strong trade power, strong navy, country which activities goes along with the waves.  Dia mau kegiatan politik dan ekonoi nya melalui laut. Lalu, Pak gusdur, maritime resources should be developed to form a new national power. Sumber daya laut adalah kekuatan baru kita, nah sampe Pak Jokowilah kemudian sea is the future of our nation. Sea atau laut adalah masa depan kita. Nah inilah maka pentingnya poros maritim ya, karena masa depan kita ada di laut.

Nah sekarang kkta lihat  yang menyebabkan Pak Jokowi, para pemimpin kita masuk ke Poros Maritim. Kapal-kapal yang mau mnyeberang itu harus lewat sini atau lewat selat sunda, Nah itu kemudian lewat sini. Kita sebagai negara laut, Negara kepulauan harus memberikan ijin integritas kepada kapal-kapal Negara asing, itu ada di sini, kemudian ke sini.

Nah kalau kita lihat di sini, tadi kan Rusia lewat sini, lalu Cina di sini, nah kaitannya dengan kerjasama Cina dan Rusia ya untuk Cina mengenai pelabuhan-pelabuhan mereka mintanya di sini, di Aceh, di Papua dia juga bangun pelabuhan, di Bali dia juga bangun pelabuhan, lalu di sini di Srilanka dia bangun pelabuhan besar.

Nah pelabuhan besar ini menjadi pertanyaan seluruh dunia, kenapa Cina membangun pelabuhan besar di Srilanka? Lalu kaitannya dengan Rusia di sini, Cina sekarang menjadi ancaman terbesar kita, kita bisa lihat dari sehari-hari, ada kapal Cina coba-coba masuk  kan.,

Masuk 1 mil tidak ketahuan, masuk 2 mil tidak ketahuan. Tahu-tahu sudah masuk ke porosnya tapi tidak ketahuan juga, padahal kita lihat kapal kita ada diporosnya sendiri, dan kapal Cina ada di porosnyanya sendiri. Artinya kita lihat bahwa okelah kalau tidak ketahuan, tapi bagaimana konsekuensinya? Yang harus kita jaga adalah ruang, ruang di sini, harusnya dia ada di sini lewat ke sini, ke sini ke Kaut Cina selatan dan kemudian ke selat malaka, itu hamir 70 persen kapal minyak, kapal minyaknya Jepang itu lewat Selat Malaka, jadi kita bisa lihat betapa strategisnya negara kita.

Nah, ini untuk bisa menjaga poros maritim itu kemudian dikenalah dengan lima pilarTetapi para ahli maritim sekarang sudah mulai menetapkan tujuh pengembangan untuk sumber daya.

Lalu, kita lihat shipping kita ini lewat ke sini, kemudian Surabaya. Lalu, lanjut sekarang itu pelabuhan tambah dua, di Bali ada di Manado ada. Lalu kita msuk ke poros maritim, ini seperti yang disampaikan Pak Jokowi kira-kira seperti ini kita sedang tingkatkan untuk ke Merauke, kemudian di sini juga untuk nanti ke Merauke.

Nah ini saudara-saudara sekalian mengenai bagiamana Rusia, letaknya Rusia dan potensi Rusia kira kira kita harus melakukan apa, kerjasama politik? Soal peperangan? Soal ekonomi? Dan seperti-nya semua itu ada peluang ya.

Kalau ke rusia kita harus tetap melewati Cina ya, Kemudian untuk kerjasama tadi kita lihat dari penduduk setengah dari kita, lalu secara umum juga mnegimbangi kekuatan Amerika, walaupun pesawatnya jatuh ya tidak apa-apa, nanti kan kita bisa beli lagi ya, Atau kita bisa untuk pengembangan laut kita, mungkin pesawat kah? Kapal kah?

Mungkin kalau sekarang kita bisa beli dari korea selatan, mungkin ke depan kita bisa beli dari Rusia kan begitu. Jadi kita lihat kekuatan-kekuatan yang kita mainkan, kita punya kekuatan itu, kita beli kekuatan itu, ya kita bisa mengatasinya.

Ambil contoh Laos, dia tidak punya laut, tapi apakah tetap bisa punya pelabuhan, oleh UU internasional bisa dia diijinkan untuk punya pelabuhan, tetapi pertanyaannya apakah mereka mau. Sama seperti menteri kelautan kita Ibu Susi, kalau ZEE kapal bisa masuk perairan, tapi ibu Susi bilang, kalau saya mau kan begitu, kalau saya tidak kasih ya tidak bisa, kan begitu. Saya kira begitu Pak hendrajit.

*) Disampaikan dalam Seminar Dialog kemitraan ASEAN-RUSIA Momentum membangun strategi perimbangan kekuatan di Asia Tenggara, Kampus universitas nasional 11 Mei 2016




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »