» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Geopolitik
26-07-2016
Catatan Sekilas Tentang Orasi Ilmiah Datuk Sri Mahathir Mohammad di Universitas Bung Karno
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Perlunya Studi Peradaban dan urgensi untuk menghidupkan kembali Geopolitik sebagai ilmunya Ketahanan Nasional. Itulah yang sontak muncul di benak saya, ketika menghadiri undangan pagi tadi untuk menyimak orasi ilmiah Datuk Sri Mahathir Mohammad, mantan perdana menteri Malaysia (1981-2003) di depan civitas akademika Universitas Bung Karno.


Karena bebebrapa kali beliau menyebut Tamadun, yang berarti peradaban. Ada banyak bangsa yang dulunya berperadaban tinggi dan punya nilai hidup (budaya) mulia buat menghantarkan kejayaan bangsanya, belakangan peradaban dan budaya bangsa-bangsa tersebut kemudian merosot.

Poin menarik dari Datuk Mahathir dari paparannya, ketika budaya warisan kita menjadi nilai hidup yang tidak lagi mampu menghantarkian kita ke kejayaan, tak ada salahnya dipertukarkan dengan nilai-nilai hidup (budaya) baru agar jadi anutan bagi masyarakat.

Istilah Mahathir menukar budaya lama dengan budaya baru, mungkin terlalu drastik sebagai landasan konseptual untuk menyusun suatu perubahan, namun mungkin cukup menginspirasi kita saat ini untuk melakukan otokritik secara tajam ke dalam diri kita sendiri.

Karena itu, dalam studi-studi internasional, yang tentunya bukan sebatas mempelajari hubungan antar bangsa atau antar negara, nampaknya bisa diperluas lingkupnya menjadi studi-studi peradaban. Mengapa peradaban Eropa Barat bisa begitu maju pesat, padahal ketika peradaban Islam yang sempat mencapai puncaknya di era Abassiyah justru berada di puncak kejayaan.

Sebaliknya, bagaimana menjelaskan situasi kebalikannya. Ketika sekarang Peradaban Barat yang membentang dari Eropa Barat, Amerika Utara dan Kanada saat ini mengalami gradasi merosot, sedangkan Peradaban Cina yang dituntun oleh nilai-nilai hidup yang berasal dari Confusianisme dan Taoisme, justru sedang menggeliat menghantarkan kejayaan bangsanya.

Sayangnya, meski Datuk Mahathir berkali-kali menawarkan kata kunci perlunya mempertimbangkan faktor budaya untuk kemajuan sebuah bangsa, beliau tidak mengelaborasi lebih lanjut gambaran kongkrit dari succes story-nya ketika menjadi kepala pemerintahan di Malaysia selama 22 tahun. Benarkah semata merupakan keberhasilan ekonomi tanpa melibatkan pengaruh budaya? Apakah budaya Melayu-Islam secara sadar oleh Mahathir telah didesain sebagai role model dari Peradaban Melayu-Islam? Sepertinya masih jauh panggang dari api.

Bagi Universitas Bung Karno, dan tentunya Mbak Rachmawati Sukarnoputri selaku Ketua Dewan Pendiri Universitas Bung Karno, menghadirkan Datuk Sri Mahathir saya kira lebih dimaksudkan untuk mengusik pola pemikiran dan pandangan banyak kalangan intelektual kita yang cenderung berpikir mapan dan tidak berani beresiko keluar dari zona nyaman. Seraya menggugah sebuah kesadaran baru dan wawasan baru mengatasi krisis multi-dimensi yang dihadapi bangsa kita saat ini.

Orasi Datuk Mahathir bagi saya tak ada yang baru, namun spirit dan etos seorang pemimpin yang mencita-citakan bangsanya menjadi jaya dan diperhitungkan oleh negara-negara lain, agaknya itulah hal yang paling menginspirasi kita semua. Utamanya buat para civitas akademika Universitas Bung Karno. Karena pada tataran ini, sosok Datuk Sri Mahathir, dengan segala kontroversinya di masa lalu, sangatlah otentik.

Orasi dan papran Datuk Mahathir, kiranya cukup menginspirasi untuk mengaktualkan kembali strategi TRISAKTI yang diterapkan Bung Karno yang masih relevan hingga sekarang. Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Budaya. Seraya merevitalisasikan kembali Geopolitik sebagai Ilmunya Ketahanan Nasional, sebagai kontra skema menghadapi semakin derasnya arus kapitalisme global dengan menunggangi arus globalisasi.




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »