» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Asean
01-08-2016
Jika ASEAN Tak Bisa Satu Suara, Indonesia Harus Keluar
Permasalahan di Laut China selatan yang masih terus memanas mengharuskan Indonesia ikut berkontribusi dalam meredakan ketegangan sebagai anggota negara ASEAN. Indonesia pun disebut telah menyerukan pendapat dalam putusan Arbitrase pengadilan Internasional.

Pengamat masalah pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie menilai pemerintah Indonesia belum memiliki sikap yang tegas. Menurutnya, Indonesia harus memiliki sikap tegas terkait dengan permasalahan klaim wilayah di Laut China Selatan tersebut.
 
"Pernyataan Indonesia kemaren memang sudah yang terbaik dilakukan Presiden, sudah bijak, tetapi, wise kita ini, bijak untuk siapa?, kita tidak bisa terlalu lama. Jika kita kaitkan ini dengan visi misi presiden, maka kebijakan kita itu yang paling penting adalah nasional interest kita," kata Connie di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 30 Juli 2016.
 
Ia meganggap bahwa ASEAN memang tidak bisa apa-apa dalam menyelesaikan kasus Klaim wilayah yang dilakukan oleh Republik Rakyat China (RRC) di wilayah Laut China Selatan itu. Hal itu terlihat dari tidak adanya keputusan tegas yang diambil. "Jika Asean sudah tidak satu suara dalam menyelesaikan permasalahan itu maka sudah seharusnya Indonesia keluar dari ASEAN," kata Connie
 
Indonesia menurutnya, juga punya banyak PR besar ke depannya seperti pembangunan indonesia sebagai poros maritim dunia. Menurutnya, Indonesia kini seperti berada di tengah-tengah, artinya sebentar di geser ke kiri dan sebentar di geser ke kanan, seolah-olah tidak punya sikap.  "Kita juga harus fokus pada pengembangan power kita untuk poros maritim dunia," ucap dia.
 
Meski demikian, jika tidak ingin keluar, menurutnya, Indonesia harus bisa menjadi pemimpin untuk menyatukan kembali ASEAN ke misi semula. "Dalam artian ASEAN for ASEAN mission, atau lebih baik tinggalkan ASEAN,"tuturnya.
 
"Kalau memang menjadi beban bahwa ASEAN itu tidak bisa satu suara terhadap ini, kenapa kita tidak memperkuat kita sendiri dan kita menetapkan kebijakan yang sangat strategis dan tidak membawa-bawa ASEAN lagi," tambahnya.

Sumber :viva.co.id

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »