» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Eropa
15-08-2016
Mengenal Ramzan Kadyrov
Penulis : Oleh: Ahmad Zainul Muttaqin
Nama Ramzan Kadyrov akhir-akhir ini santer dibahas setelah ia dikabarkan meminta izin kepada Presiden Vladimir Putin untuk mengirim ribuan infantri militer Chechnya ke Suriah untuk bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia memerangi ISIS.

Nama lengkapnya adalah Ramzan Akhmadovich Kadyrov. Lahir tanggal 5 Oktober 1976 (39 tahun). Termasuk usia yang sangat muda untuk jabatan Presiden. Tapi di usia semuda itu pun ia sudah memimpin Republik Chechnya hampir 10 tahun atau tepatnya sejak ia berusia 30 tahun. Satu hal yang sangat dikenal dari dirinya adalah loyalitasnya pada Presiden Rusia Vladimir Putin dan sikapnya yang sangat menentang pemberontakan Takfiri di Suriah.
 
Ramzan Kadyrov adalah putra dari (alm) Akhmad Abdulkhamidovich Kadyrov, Presiden Chechnya yang tewas dibunuh pada 9 Mei 2004. Akhmad tewas dalam aksi pengeboman yang dipimpin ekstrimis Chechnya Shamil Basayev di dalam Stadion Dinamo Grozny saat parade peringatan kemenangan Perang Dunia II di ibukota Grozny. Pada 2007, Ramzan ditunjuk oleh Putin untuk menjadi Presiden Chechnya, sebuah Republik Otonom bagian dari Federasi Rusia yang terletak di Kaukasus Utara dengan penduduk sekitar 1.268.989 (sensus resmi tahun 2010) dengan mayoritas adalah Muslim Sunni dan sebagian Nasrani Orthodoks.
 
Wahabisme Versus Sufisme di Chechnya
 
Keberpihakan Kadyrov, baik ayah maupun anak (Akhmad dan Ramzan) kepada Putin, tak lepas dari preferensi keagamaan keduanya. Mereka bermazhab Ahlussunnah wal Jama’ah, penganut tasawwuf dan pengikut thareqat yang sangat cinta pada para Habaib (Habib: orang-orang yang memiliki garis keturunan Rasulullah). Ramzan diketahui publik selalu memilih sholat di shaf ketiga pada ibadah sholat Jumat. Ia tidak mau maju ke depan karena hormat kepada para Habaib dan Ulama yang mengisi shaf pertama dan kedua. Saat ia mendapat kehormatan untuk memasuki Ka’bah, ia menanggalkan segala atribut kebesaran kepala negara dan memakai pakaian yang paling sederhana sambil memegang sapu.
 
Preferensi mazhab ini membuat mereka menolak paham Wahabisme. Awalnya, pada 1994 Akhmad Kadyrov memimpin jihad etnis Chechnya melawan Rusia. Puluhan ribu orang tewas dari kedua pihak, sampai akhirnya tahun 1996 Rusia menarik tentaranya dan Chechnya pun menjadi republik independen. Namun, situasi kemerdekaan ini dirusak oleh jihadis-jihadis asing berhaluan Wahabi, antara lain Emir al-Khattab dari Saudi yang menguasai beberapa distrik dan sering melakukan penculikan untuk mendapatkan uang tebusan.
 
Akhmad Kadyrov -ayah Ramzan- yang saat itu menjadi Mufti Chechnya pada 1998 mengumumkan penentangannya pada jihadis ala Wahabi ini dan segera menjadi sasaran beberapa percobaan pembunuhan. Pada 1999, Vladimir Putin menjadi Perdana Menteri Rusia dan segera memulai serangan militernya melawan separatis Wahabi Chechnya yang melakukan berbagai aksi pengeboman di Rusia. Ia dibantu oleh Akhmad Kadyrov dan beberapa tokoh Chechnya lainnya, dan dengan segera, Moskow kembali meraih kontrol di Chechnya.
 
Pada 2003 diadakan referendum dan rakyat Chechnya setuju menjadi republik yang bergabung dalam Federasi Rusia. Akhmad Kadyrov terpilih sebagai Presiden Republik Chechnya, namun tewas setahun kemudian, dibunuh oleh ekstrimis Wahabi.
 
Kepala Ramzan Dinilai 5 Juta USD Oleh ISIS
 
Ramzan Kadyrov dikenal seorang yang to the point, cenderung meledak-ledak (mungkin pengaruh jiwa muda), tapi juga dikenal rendah hati dan penampilan yang sederhana.Kedekatannya dengan Putin sudah banyak diketahui publik. Banyak analis yang menilai hubungan Ramzan dengan Putin bagaikan ayah dan anak. Sebuah video wawancara memperlihatkan Putin menyebut Ramzan Kadyrov seperti putranya sendiri, dan Kadyrov dengan berlinang air mata mengikrarkan aliansinya dengan Putin. Ramzan bahkan pernah berkata, “Putin harus menjadi Presiden seumur hidup!” Saat USA dan Uni Eropa menerapkan sanksi ekonomi pada Rusia, ia bereaksi dengan pidato berapi-api “Rakyat Rusia menggantungkan seluruh harapan pada pemimpinnya Vladimir Putin. Hidup Tanah Air Rusia! Hidup pemimpin besar Vladimir Putin! Allahu Akbar!!”
 
Pada September 2014, ISIS mengumumkan sayembara, hadiah 5 juta dollar untuk siapa saja yang bisa memenggal kepala Ramzan Kadyrov. Gara-garanya, Kadyrov secara terbuka mengumumkan bahwa ia dan rakyatnya memburu pemimpin ISIS Abu Bakr Al Baghdadi seraya menyebutnya sebagai ‘Bandit’. Ditambah lagi, saat ISIS merebut Pangkalan Udara Al-Tabqa di Suriah mereka menemukan beberapa jet tempur MiG-21 buatan Rusia. Ini membuat ISIS mengancam akan menyerang balik Rusia dan “membebaskan” Kaukasus, Chechnya, dan mendirikan “Khilafah” ISIS di Rusia. Sontak Kadyrov membalasnya dengan cara mengupload fotonya yang mengenakan t-shirt bergambar Vladimir Putin sambil menyebut ancaman ISIS tidak lebih dari “ancaman anak kecil”. Ia juga berkata “Para militan (ISIS) adalah sekumpulan bandit. Mereka dibiayai, dipersenjatai, dan dilatih oleh USA dan Barat. Mereka akan merasakan hari-hari terakhir mereka di bawah panasnya matahari Suriah dan Irak hanya untuk menemui tempat abadi mereka di neraka.”
 
Ia juga menulis di akun instagramnya “Siapapun yang berpikir untuk mengancam Rusia dan menjatuhkan nama Presiden kami Vladimir Putin maka ia akan dihancurkan dimanapun mereka melakukannya … Kami telah sepenuhnya menghancurkan mereka di Chechnya, ketika kekuatan mereka berjumlah puluhan ribu, dan bahkan sekarang kami pun akan menghancurkan mereka yang sekedar berpikir untuk curiga terhadap Chechnya,”
 
Segera Omar al-Shishani, komandan ISIS berjanggut merah asal Chechnya mengumumkan akan memberikan 5 Juta USD kepada siapapun anak buahnya yang mampu memenggal kepala Kadyrov. Sayembara tersebut dicurigai telah memancing aksi pengeboman bunuh diri di Grozny pada 5 Oktober 2014 ketika ibukota Chechnya tersebut merayakan ulang tahun ke-38 Kadyrov, dimana seorang pemuda 19 tahun meledakkan sabuk bomnya di dekat sebuah metal detector di depan pintu gerbang perayaan, menewaskan 5 Polisi dan 11 lainnya.
 
Kadyrov Siap Angkat Senjata Melawan ISIS
 
Pada awal Oktober 2015, Kadyrov dikabarkan meminta izin kepada Presiden Vladimir Putin untuk mengirim ribuan Infantri Militer Chechnya ke Suriah untuk bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia memerangi ISIS. Ia berkata saat wawancara Jum’at (2/10) dengan RSN Radio “Ini bukan omong kosong, saya meminta izin untuk pergi kesana dan berpartisipasi dalam Operasi khusus. Namun kami butuh keputusan Panglima Tertinggi (Putin) untuk melakukannya.”
 
Ia melanjutkan “Sebagai seorang muslim, seorang Chechnya dan seorang Patriot Rusia saya ingin mengatakan bahwa pada 1999 ketika Republik kami diduduki oleh para ‘Setan’ ini, kami bersumpah di atas Al-Qur’an bahwa kami akan memerangi mereka dimanapun mereka berada.” Kadyrov lalu lanjut berkata “Sesegera ketika para Teroris di Suriah tahu bahwa kami bergerak menuju mereka, mereka akan pergi (dari Suriah) dengan cepat.” Seraya menambahkan bahwa para ekstrimis tersebut hanya punya pengalaman minim dalam peperangan sesungguhnya. “Kami mengenal mereka karena kami pernah menghancurkan mereka disini. Kami telah memerangi mereka, dan mereka juga mengenal kami.” kata Kadyrov.
 
Untuk data kekuatan pasukan Chechnya tidak tercatat data resmi karena mereka tergabung dalam Militer Federasi Rusia. Namun Tony Wood seorang Jurnalis yang ekstensif menulis tentang Chechnya mengestimasi ada sekitar 8.000 Angkatan Keamanan Lokal Chechnya pada 2007 yang jumlahnya menurun cukup tajam karena Perang Chechnya II melawan separatis (1999-2002). Data dari Pemerintah Rusia kaum separatis yang masih ada dan bertahan di Chechnya hanya tinggal beberapa ratus. Berdasarkan data yang dilansir Kementerian Dalam Negeri Rusia hingga akhir 2014 tercatat setidaknya ada 400 jihadis asal Chechnya yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan Iraq. []
 
 
Referensi:
1. http://www.theguardian.com/world/2015/may/26/chechen-leader-hollywood-ramzan-kadyrov
2. https://news.vice.com/article/ramzan-kadyrov-the-chechen-leader-with-a-5m-islamic-state-bounty-on-his-head
3. http://m.gulfnews.com/culture/people/kadyrov-s-shows-of-strength-to-putin-1.1540057
4. http://vineyardsaker.blogspot.co.id/2014/12/ramzan-kadyrov-offers-putin-his-own.html
5. http://www.elhooda.net/2015/08/ramzan-akhmadovich-kadyrov-presiden-pecinta-shalawat-dan-habaib/
6. http://www.bloomberg.com/news/articles/2014-10-08/how-islamic-state-grooms-chechen-fighters-against-putin
7. https://en.wikipedia.org/wiki/Ramzan_Kadyrov
8. http://sputniknews.com/russia/20150920/1027266290.html
9. https://en.wikipedia.org/wiki/Akhmad_Kadyrov
10. https://www.rt.com/politics/317393-this-will-be-holiday-kadyrov/
11. https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Chechen_War
12.http://www.aljazeera.com/indepth/features/2014/12/chechnya-russia-20-years-conflict-2014121161310580523.html
13. http://www.bbc.com/news/world-europe-18188085



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »