» Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos » Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil » Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik » Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia » Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing


Hukum
18-08-2016
HUT Kemerdekaan RI, 82 Ribu Narapidana Dapat Remisi

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly, mengatakan sebanyak 82.015 orang narapidana menerima keringanan hukuman atau remisi pada hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. Jumlah tersebut dari total jumlah napi saat ini yakni sebanyak 131.954 orang.


"Di hari kemerdekaan kami beri. Kenapa? Karena mereka juga anak bangsa," kata Yasonna usai memimpin upacara peringatan HUT RI ke-71 di komplek Kemkumham, Kuningan, Jakarta, Rabu, 17 Agustus 2016.

Yasonna mengatakan penerima remisi tersebut terbagi dalam beberapa rincian. Jumlah napi yang menerima remisi umum 1 sebanyak 78.487 orang dan yang mendapat remisi umum 2 sebanyak 3.528. "Kalau remisi 2 ini langsung bebas. Dapat, langsung bebas," katanya.

Dari total penerima remisi, kata Yasonna, 27 diantaranya merupakan napi kasus terorisme. Untuk napi kasus narkotika, penerimanya berjumlah 12.161 orang. Selain itu, sebanyak 428 orang napi kasus korupsi pun mendapat remisi.

Sedangkan jumlah napi tindak pidana umum yang menerima remisi berjumlah 68.633 orang. Yasonna memastikan remisi diberikan setelah melalui berbagai pertimbangan dan proses hukum yang jelas. "Mereka yang memenuhi syarat perundang-undangan. Kan ada yang di daerah juga," ujar dia.

Dalam kesempatan itu, Yasonna mengatakan saat ini jumlah penghuni jeruji besi kian meningkat. Jumlah yang menerima remisi dan bebas, pun tak sebanding dengan mereka yang masuk sebagai tahanan dan mendekam di penjara.

"Bayangkan kemarin kami bilang ada 170 ribu orang (tahanan dan napi), 2 bulan kemudian jadi 180 ribu, ini sudah 199.390 per 11 agustus 2016," ujar kata Yasonna. Dari total tersebut, jumlah napi sebanyak 131.954 orang dan tahanan sebanyak 67.426.

Yasonna mengatakan masalah kelebihan kapasitas pun menjadi perhatian pemerintah. "Mereka (warga binaan) di dalam, di ruang sempit dengan kapasitas yang mengerikan. Ada yang tidur bongkok, ada yang tidur gantian di tempat tidur gantung."



Artikel Terkait
» Hikmahanto: Indonesia Harus Konsisten Tolak Klaim Cina di Natuna
» PPP: Tak Ada Partai yang Tak Komit Berantas Korupsi, tetapi....
» Korupsi di Aceh : Ironi Pembangunan Aceh
» Optimisme Pasca Penangkapan Samadikun Hartono



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing
Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise ...

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Mahasiswa Papua Minta Freeport Ditutup

Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil

Kontroversi Keberadaan Freeport

Penyebaran Paham Radikalisme: Ancaman Nyata Kedaulatan NKRI

Menyikapi Kasus Freeport

Bangkitnya Komunisme dalam Konstelasi Politik Indonesia

Bom Panci di Cicendo, Pesan Eksistensi Kelompok Radikal

Mewujudkan Spirit Demokrasi Pancasila

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Saatnya Mengambil Alih Freeport

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »