» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Intelijen
18-08-2016
Stanislaus Riyanta *)
Fusi Informasi Intelijen untuk Memberantas Terorisme
Belum ada sebuah negara yang bisa bebas dari ancaman terorisme. Negara adidaya seperti Amerika Serikat dan negara besar lainnya seperti Perancis justru kerap menjadi sasaran terorisme. Terorisme terjadi lintas negara, melibatkan jaringan yang besar, hal ini yang membuat aksi teror tidak bisa dicegah dengan mudah.

Kerjasama internasional sistematis yang melibatkan banyak pihak diperlukan untuk mencegah dan menangani terorisme. Salah satu kerjasama yang diperlukan adalah adanya kerjasama fusi informasi hasil kegiatan intelijen. Informasi-informasi hasil kegiatan intelijen seperti informasi transaksi keuangan, peta jaringan kelompok radikal, dan data percakapan kelompok radikal menjadi bahan yang sangat penting untuk melakukan pencegahan dan penanganan terorisme.
 
Kerjasama intelijen internasional tentu akan terbentur pada hambatan sifat intelijen yang rahasia dan dijalankan secara tertutup. Namun dengan komitmen dan kesepakatan yang kuat, seharusnya dapat menjadi penghantar bagi pihak-pihak yang bekerjasama untuk saling percaya dan menghargai kode etik intelijen. Tujuan utama untuk mencegah, menangani, dan memberantas terorisme harus diletakkan pada kepentingan tertinggi dibanding kepentingan sektoral lainnya.
Dalam kegiatan Konferensi Internasional Antiterorisme di Bali (8-11 Agustus 2016), menjadi arah yang baik menuju kerjasama intelijen international yang lebih sistematis dan produktif guna memberantas terorisme. Rusia sebagai salah satu peserta menghimbau agar negara peserta konferensi ini bergabung dan menggunakan basis data yang dimilik FSB (Badan Keamanan Federal Rusia) untuk penanganan terorisme. Saat ini diketahui bahwa ada  29 negara dan organisasi internasional, termasuk PBB, telah bergabung dalam pusat data milik FSB. Basis data terkait terorisme yang dimiliki FSB terdiri dari data-data pelaku bom bunuh diri dan gerakan kelompoknya.
 
Fusi informasi terkait terorisme bisa juga diwujudkan oleh lembaga internasional yang netral sesuai kesepakatan negara peserta. Dengan lembaga netral yang tidak merujuk ke negara tertentu akan meningkatkan kepercayaan negara-negara peserta untuk bergabung dan menggunakan informasi terkait terorisme tersebut. Lembaga internasional seperti PBB sangat tepat untuk menginisiasi sebuah fusi informasi terkait terorisme tersebut.
 
Kerjasama intelijen internasional terutama dalam fusi informasi akan membuat langkah pencegahan dan penanganan lebih efektif. Aktivitas kelompok radikal pelaku teror di sebuah negara adalah data yang sangat penting bagi negara lain mengingat jaringan terorisme bersifat global dan lintas negara. Beberapa informasi penting yang perlu dijadikan satu (fusi informasi) untuk menjadi data bersama banyak negara untuk penanganan terorisme adalah sebagai berikut :
 
Transaksi Keuangan
 
Metode follow the money sangat efektif untuk mengurai suatu tindak kejahatan, termasuk terorisme. Arah aliran uang menunjukkan pelaku dan arah kegiatan. Uang adalah modal utama bagi kelompok terorisme untuk melakukan aksinya. Lembaga yang mempunyai kewenangan dan kompetensi untuk mengetahui transaksi keuangan di Indonesia adalah PPATK. Atas dasar hal tersebut maka peran PPATK sangat vital dalam mencegah terorisme, terutama untuk mengetahui arah transaksi uang.
 
Data PPATK menyebutkan ada aliran dana dari luar negeri sebelum terjadi aksi teror di Indonesia, seperti pada aksi teror Thamrin. Hal ini mengindikasikan bahwa aksi teror di Indonesia dibiayai oleh jaringan lintas negara. Selain itu adanya aliran dana dari negara lain menunjukkan bahwa pelaku teror di Indonesia dikendalikan atau terkait dengan kelompok radikal internasional.
 
Tanpa adanya uang aksi teror akan sulit dilakukan. Data keuangan dari PPATK sangat efektif untuk pencegahan aksi teror. Adanya kiriman uang menunjukkan akan ada aksi dari kelompok tersebut, termasuk aksi teror. Jika aliran dana yang diduga untuk membiayai aktifitas kelompok radikal bisa ditahan maka aksi teror dapat dicegah. Data transaksi keuangan kelompok radikal jika digabungkan antar negara menjadi sangat bermanfaat bagi pencegahan aksi teror.
Konsekuensi dari fusi informasi transaksi keuangan kelompok teror maka kelompok tersebut akan melakukan pengelabuhan dengan transaksi keuangan secara kontan/manual, dan atau mencari sumber-sumber dana di tingkat lokal untuk menjalankan aksinya seperti melalui perampokan. Tidak menutup kemungkinan adanya modus baru narkoterorisme, yaitu kejahatan pengedaran narkotika untuk membiayai terorisme.
 
Jaringan Kelompok Radikal
 
Jaringan kelompok radikal di setiap negara berbeda-beda, bahkan dalam satu negara sering kali terdapat banyak kelompok. Namun gerakan dari kelompok-kelompok tersebut dapat diprediksi dari arah ideologinya. Kelompok-kelompok radikal dari berbagai tempat (negara) akan mudah untuk bersatu jika mempunyai ideologi yang sama. Contoh kelompok radikal yang berafiliasi dengan ISIS. Banyak kelompok radikal di berbagai negara yang menyatakan setia dengan ISIS seperti Boko Haram di Negeria, MIT di Indonesia.
 
Adanya kepentingan persamaan ideologis tersebut menjadi daya pemersatu kelompok-kelompok radikal dari berbagai tempat dan negara. Daya pemersatu tersebut memudahkan kelompok-kelompok tersebut untuk saling bekerjasama. Bentuk kerjasamanya bermacam-macam seperti kerjasama pelatihan, sumber daya manusia, logistik, senjata, keuangan dan lainnya. Jika masing-masing negara mempunyai data terkait kelompok radikal dan disatukan dan diintegrasikan dengan data kelompok radikal dari negara lain, maka akan terpetakan jaringan besar kelompok radikal.
 
Data Komunikasi
 
Kelompok radikal dalam menjalankan aktifitasnya berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Aplikasi untuk menjalin komunikasi dilakukan dengan bantuan teknologi untuk menembus batas jarak dan waktu. Internet menjadi katalisator kelompok radikal untuk menjalankan aksi teror. Bahkan internet menjadi alat yang efektif untuk perekrutan, propaganda, dan transfer pengetahuan teknis seperti pembuatan bom.
 
Data-data komunikasi yang dilakukan melalui internet jika bisa disadap dan dkumpulkan akan sangat membantu pemberantasan terorisme. Jika masing-masing negara melakukan penyadapan komunikasi kelompok radikal di masing-masing wilayahnya dan informasi tersebut digabungkan dengan komunikasi yang dilakukan oleh negara lain maka akan terbaca suatu gerakan/aksi global terorisme.
 
Kesimpulan
 
Pada akhirnya intelijen tidak bisa bekerja sendirian. Kerjasama antar negara dalam suatu fusi informasi penting untuk dilakukan dalam memberantas terorisme. Aksi-aksi terorisme yang terjadi lintas negara harus diberantas dengan kerjasama lintas negara, termasuk yang paling penting adalah kerjasama intelijen.
 
Fusi informasi intelijen internasional tentu akan sulit dilakukan jika tidak ada kepercayaan dan manfaat bagi negara persertanya. Untuk mengantisipasi tersebut perlu dibuat lembaga internasional yang menggabungkan dan menangani informasi terkait terorisme. Kepentingan besar untuk melawan aksi terorisme secara global sangat penting diwujudkan, namun menjaga kepercayaan antar negara terkait aktifitas intelijen juga mutlak dilakukan.
 
 
*) Penulis adalah analis keamanan dan terorisme, alumnus program pascasarjana S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia, tinggal di Jakarta.



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »