» Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos » Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil » Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik » Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia » Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing


Sosial Budaya
30-08-2016
Api dan Air di Atas Danau Limboto, Karya Kritis Seniman Indonesia dan Rusia

Suara seruling mengalun lirih dan merdu dari sebuah panggung bambu. tabuhan marwas dan pukulan polo palo, alat musik khas Gorontalo, menimpalinya. Lalu ada suara musik eletronik, seolah mencumbui komposisi bebunyian itu. Pada kedua sisi panggung, dua pasang lelaki dan perempuan berada di atas perahu yang dikayuh perlahan, perempuannya bergerak gemulai.


Sementara itu, sejumlah penari lainnya kemudian menyebarangi sebilah bambu dan mulai bergerak di atas panggung. Suasana ritmis tercipta selama pentas yang berlangsung selama 20 menit itu. Senja perlahan menggelap jadi malam.

Itulah suasana peristiwa seni yang digelar sejumlah seniman di atas Danau Limboto pada Minggu petang ( 28/8) lalu. Pagelaran ini diberi tajuk dalam bahasa daerah “Tulu Taluhu” ( Api dan Air). Melibatkan puluhan seniman dan aktivis dan komunitas lintas isu dari Gorontalo, Bali dan Rusia.

“Ini adalah proyek kolaborasi seni untuk merespon kondisi Danau Limboto yang kian kritis, kami menggali lebih dalam hingga sampai pada lini yang menjadi poin menarik,” ujar Tebo Aumbara, koreografer kontemporer dari Bali.

Menurutnya, proyek kolaborasi ini merupakan bentuk respon terhadap ketidakseimbangan ekosistem yang turut memengaruhi hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Ini bukan bukan hanya sekedar mengekplorasi gerak, musik dan tata panggung.

Tebo datang bersama dua rekannya, masing-masing Andi Coklat, seniman instalasi bambu dan Evgeny Rodinov, seorang musisi eksperimentalis yang mengusung musik tekno.

Tiba di di Gorontalo sejak 23 Agustus lalu, mereka langsung menuju Museum Pendaratan Pesawat Amphibi Presiden Soekarno, di tepi Danau Limboto, Desa Iluta , Kabupaten Gorontalo. Bersama komunitas kelapa batu dan sejumlah seniman dan aktivis, Mereka tinggal disana dengan mendirikan tenda, menggelar workshop yang dibuka untuk umum. Hasil akhir dari pelatihan itu adalah sebuah rangkaian pentas seni yang terbuka untuk umum.

Gotong royong mereka mengerjakan panggung instalasi bambu berbentuk burung di atas danau. Kondisi danau yang penuh sampah, eceng gondok ditambah banyaknya pecahan beling di dasarnya membuat kaki mereka luka-luka.

“Anggap saja ini sebagai bentuk pengorbanan,” ujar Andi Coklat, perupa yang mengaku sudah setahun terakhir ini banyak mengeksplorasi bambu sebagai medium seninya. Dia menjadikan bambu sebagai alat menyampaikan berbagai gagasan dan isu, terutama lingkungan.

Meski hanya dalam waktu yang relatif singkat, hasil kolaborasi seni direncanakan mampu menciptakan tiga pertunjukan. Dua pertunjukan berbeda selanjutnya akan digelar pada Selasa dan Rabu (30-31 ) Agustus, pada pagi dan malam hari.

Evgeny Rodinov, musisi eksperimentalis dari Rusia mengaku cukup antusias dengan proyek kolaborasi ini. Pria yang mulai bermusik sejak 1990an itu mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam proyek ini, baik teknis maupun esensinya.

Dia mengaku turut prihatin dengan keberadaan Danau Limboto yang kian rusak dan dangkal, bagaimana massifnya penggunaan pestisida dan ekspansi kebun sawit di bagian hulu turut memperparah kondisi ekologisnya.

Pada 1970an,danau bersejarah yang pernah jadi saksi perdamaian dua kerajaan Gorontalo yang berperang itu masih seluas 5.600 hektar. Namun kini luasnya hanya sekitar 2500 hektar saja. Penyusutan dan pendangkalan ini disebabkan banyak faktor, tingginya sedimentasi, perambahan hutan di hulu sungai,alih fungsi lahan hingga faktor cuaca.

Danau terbesar di Gorontalo ini juga menjad tempat persinggahan berbagai jenis burung migran yang datang dari berbagai belahan dunia. Burung migran yang mampir di danau Limboto merupakan jenis burung air yang berasal dari berbagai negara di Eropa, Rusia , Alaska dan Siberia. Dari 85 jenis, tercatat ada 49 di antaranya yang merupakan burung migran.

Fandhy Rais dan Awaluddin Ahmad, perupa dan pegiat budaya Gorontalo yang turut terlibat, mengaku cukup senang dengan aksi kolaborasi ini. “peristiwa ini dapat lebih menyuarakan kondisi danau Limboto yang kritis, juga membangun penyadaran bagi banyak pihak,” kata keduanya.


Sumber :Degorontalo
Artikel Terkait
» Chairul Saleh
» Melawan Budaya Postmodernisme
» Hapus Diskriminasi!
» Surono, Pemecah Batu yang Hidupi 65 Anak Yatim



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing
Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise ...

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Mahasiswa Papua Minta Freeport Ditutup

Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil

Kontroversi Keberadaan Freeport

Penyebaran Paham Radikalisme: Ancaman Nyata Kedaulatan NKRI

Menyikapi Kasus Freeport

Bangkitnya Komunisme dalam Konstelasi Politik Indonesia

Bom Panci di Cicendo, Pesan Eksistensi Kelompok Radikal

Mewujudkan Spirit Demokrasi Pancasila

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Saatnya Mengambil Alih Freeport

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »