» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Iptek
06-09-2016
Ahli Nuklir Bahas Standar Efek Radiasi

Sekitar 15 ahli nuklir dari Indonesia, Australia, dan Jepang bertemu dalam pertemuan internasional di Bali, Senin, membahas standar terbaru untuk mengukur efek radiasi dari kegiatan riset, proses alam, dan aktivitas manusia.


Kantor berita Antara melaporkan, pertemuan itu digelar Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bekerja sama dengan South Pasific Environmental Radioactivity Association (SPERA) di Sanur, Denpasar, Senin hingga Jumat (9/9).

"Dengan tujuan utama menciptakan standar-standar atau rekomendasi yang dari situ bisa melindungi masyarakat dari kemungkinan bahaya radiasi," kata Kepala Batan Djarot S. Wisnubroto.

Menurut dia, para ilmuwan hingga saat ini masih mendiskusikan perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya radiasi mengingat dampak radiasi tidak hanya sesaat, tetapi bisa terjadi dalam jangka panjang, seperti salah satunya di Chernobyl, Ukraina, pada tahun 1986.

"Nanti juga akan terjawab apakah di Chernobyl itu menghasilkan efek negatif atau tidak sama sekali. Sampai saat ini, belum ada suatu temuan signifikan, itu menjawab hanya isu yang terjadi," katanya.

Dengan adanya pertemuan itu, diharapkan dapat memperbaiki aturan internasional terkait dengan standar menyangkut efek radiasi agar tidak menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Seperti kekhawatiran di Mamuju, Sulawesi Barat, terkait dengan radiasi uranium yang dinilai tinggi, menimbulkan ketakutan.

Djarot mengatakan bahwa tingkat harapan hidup di daerah setempat sama dengan Indonesia secara umum.

Ia menuturkan bahwa selama ini standar untuk menentukan efek radiasi yang diciptakan terlalu ketat sehingga malah mengganjal pengembangan untuk kegiatan positif.

Untuk itu, dalam pertemuan tersebut menjadi ajang berbagi data dan informasi tentang sumber radiasi dari berbagai negara yang dihasilkan dari kegiatan penelitian, pengukuran paparan lingkungan, dan aktivitas manusia, termasuk penggunaan sumber radioaktif di industri, kesehatan, dan pertambangan.

"Makanya, data itu dikumpulkan, jangan-jangan standar yang kami ciptakan terlalu ketat, terlalu paranoid," katanya.



Artikel Terkait
» LAPAN Siap Luncurkan Satelit Terbaru
» Lonceng Pelaksanaan JCPOA Terdengar di Iran, Eropa dan AS
» Indonesia Jalin Kerja Sama Nuklir dengan Prancis
» Indonesia-Jepang Jajaki Peluang Kerjasama Teknologi Roket dan Industri Penerbangan
» Dampak Teknologi Komunikasi pada Gaya Hidup



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »