» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Diplomasi
20-09-2016
Dinamika Hubungan Internasional Rusia dan Negara Gulf Cooperation Council
Penulis : Andhika Dewantara -Vice President International Thinkers
Pengaruh Rusia dari waktu ke waktu semakin terbangun di kawasan Timur tengah, yang merupakan salah satu daerah yang potensial dengan banyak kedistabilitasan di dunia, yang semakin tampak jelas mengancam keutuhan negara-negara di kawasan tersebut. Berbagai langkah diplomatik dan juga intervensi militer yang dilakukan Rusia di Timur Tengah belakangan ini telah membuat beberapa kalangan analis berpendapat bahwa Rusia telah mencatat poin dalam membangun suara, eksistensi dan pengaruhnya di kawasan yang dulu kental akan pengaruh dari negara-negara barat.Dimana dalam tulisan ini penulis akan mengambarkan dengan jelas hubungan atau relasi yang dijalin Rusia di timur tengah khususnya dengan negara-negara teluk (Gulf States) seperti , Bahrain, Kuwait,Qatar, Oman, UAE, dan lain sebagainya. 

Dari awal mula sejarahnya, wilayah teluk di timur tengah telah menjadi arena dari konfortasi ideologi antara Uni Soviet dan Amerika. Dimana dalam hal ini tujuan Uni Soviet ialah untuk bisa membantu negara di timur tengah terutama negara-negara di wilayah strategis daerah teluk untuk bisa membangun negara tidak mengunakan jalan kapitalis yang telah dibawa negara barat, Dimana pada saat itu Uni Soviet menjadikan Iraq menjadi salah satu sekutunya dalam mewujudkan semangat non-kapitalis di kawasan timur tengah (Elena,2015: 6). Setelah keruntuhan Uni Soviet yang terjadi di tahun 1991 dan beralih nama menjadi Federasi Rusia, para suksesor terdahulu dari Uni Soviet, menjadi kurang aktif untuk melanjutkan tradisi hubunganya di wilayah teluk.Dalam fase ini Rusia memilih untuk tidak berkompetisi dengan Amerika Serikat (AS) dan negara Eropa lainya serta mengurungkan niatnya untuk meraih kepentingan nasionalnya di daerah teluk terutama sejak negara-negara tersebut menjamin kepada negara-negara di wilayah teluk akn keamana regionalnya,peningkatan signifikansi ekonomi, dan pembangunan kehidupan politik.  
 
Rusia, seperti layaknya Uni soviet juga menggangap bahwa kestabilitasan wilayah sangat berimplikasi pada situasi di kawasan Asia Tengah dan Kaukasus. Bila melihat dalam konteks tradisional kepentingan Rusia, wilayah teluk telah kehilangan signifikansinya dalam kepentingan Rusia. Dikarenakan dominasi Rusia wilayah teluk saling berkaitan dengan arah kebijakan luar negeri Rusia serta posisinya dalam tataran internasional. Setelah perang dingin usai Rusia telah kehilangan statusnya sebagai salah satu negara super power yang seara tidak langsung berimplikasi pada kapabilitas Rusia yang menurun untuk bisa berkompetisi dengan AS dan negara Eropa lainya, yang berkonsekuensi lebih lanjut pada Rusia yang sebisa mungkin menjauhi konfortasi dengan negara tersebut dalam wilayah teluk.  Dalam perkembangan selanjutnya di tahun 1992, Menteri Luar Negeri Rusia Kozyrev melakukan kunjungan ke semua negara-negara dalam wilayah teluk dalam rangka kunjungan kenegaraan. Dalam sebuah kutipan yang disampaikan oleh juru bicara menteri luar negeri Rusia saat itu menyebutkan :   
“We consider that the visit of our Minister was very significant. It reflected Russia’s plans to implement more balanced policy towards the states of this region and develop relations with these countries for the benefit of their peoples, contributing to the development of world civilization and in maintaining stability and security in the Gulf region, because their policy has always been moderate and reasonable”. The official also stressed, “Russia is ready to make its contribution into maintaining regional security on the bilateral or multilateral basis, using the Gulf Cooperation Council (GCC) for this purpose. (Diplomaticheskiy Vestnik, 1994:9-10).    
 
Terlihat dalam pernyataan tersebut merupakan pertama kalinya bagi Rusia dalam mengekspresikan secara langsung intensi mereka dalam organisasi regional terutama dalam wilayah teluk yaitu, Gulf Coperation Council (GCC). Selanjutnya di bulan November 1994 untuk pertama kalinya Perdana menteri Rusia Victor Chernomyrdin, dan di dalam kunjungan tersebut Perdana menteri Chernomyrdin mendiskusikan tentang adanya hubungan kerjasama blateral dengan pemimpin GCC. Dalam kerjasama ini Rusia menekankan pada adanya hubungan yang saling menguntungkan antar Rusia dan negara-negara GCC terutama dalam hal pembangunan ekonomi (Diplomaticheskiy Vestnik, 1994 : 18). Pertemuan tersebut juga secara tidak langsung menjadi sebuah momentum terjalinnya periode kerjasama antara Rusia dan Kuwait dengan mendirikan sebuah komisi lintas pemerintahan Rusia-Kuwait dalam hal investasi dan juga kerjasama. Di tahun 1993 Rusia juga telah memulai untuk melakukan kerjasama militer dengan negara GCC. Salah satunya dengan terbentuknya kerjasama perjanjian keamananan Rusia-Kuwait di tahu 1993. Perjanjian itu mengindikasikan Rusia untuk memperkuat persenjatan pasukan Kuwait dalam hal persenjataan maupun pelatihan personel militer ( Defense and Foreign Affairs Handbook,1996:1294).
 
Di Januari 1996 Yevgeny Primakov ditunjuk sebagai menteri luar negeri yang baru mensuport adanya gagasan diversifikasi politik luar negeri Rusia, dimana salah satu implementasinya adalah untuk membawa partisipasi aktif dalam politik luar negeri Rusia di wilayah timur tengah dan menjalin kerjasama erat dengan negara-negara di wilayah teluk ( Kanet,1997:171-172). Seiring dengan terjadinya perang di Checnya, hal tersebut membawa dampak yang negatif bagi hubungan Rusia dan juga negara-negara wilyah teluk. Rusia percaya bahwa negara-negara teluk merupakan donatur bagi grup pemberontak Checnya di kawasan kaukasus. Dugaan Rusia terhadap negara-negara di wilayah teluk didasari dengan adanya bukti spesifik bahwa salah satu pemimpin dari pemberontak Chechnya Yandarbiev yang tertangkap dan terbunuh oleh dua intelejen Rusia di Qatar Februari 2004. Disinyalir oleh kedua intelejen tersebut Yandarbiev datang ke Qatar untuk meminta dana dari Qatar untuk membiayai pergerakan pemberontakanya di Checnya. 
 
Karakter baru dari hubungan antara Rusia dan negara teluk mulai muncul di awal abad 21. Presiden baru dari Rusia, Vladimir Putin mengajukan transformasi kebijakan luar negeri Rusia yang ditekankan pada konsiderasi dari praktek di lapangan.Berdasarkan konsep kebijakan luar negeri dari Rusia, yang ditandatangani oleh Presiden Putin pada Jun 28, 200, Kebijakan luar negeri Rusia akan bersifat independen, konstruktif, dan mengutamakan kepentingan ekonomi sebagai prioritas (Diplomaticheskiy vestnik, 2000 : 4). Secara garis besar paradigma baru dari kebijakan luar negeri Rusia dapat terartikulasi sebagai berikut : 
“Russia will act to stabilize the situation in the Middle East, including the Gulf region and North Africa, taking into consideration the influence of the regional situation on the development of the world as a whole. In this context the primary task of Russia will be a return of its strong positions, especially economic, in this rich and important time for our interests in the region”.      
 
Dalam implementasinya Rusia merencanakan untuk meningkatkan relasi ekonominya dengan negara kawasan, seperti GCC states. Dimana ditahun 2000 Presiden Putin mengirimkan surat melalui representasinya kepada Bahrain dan Qatar, menawarkan bantuan Rusia dalam menyelesaikan konflik yang ada di wilayah. Surat ini secara tidak langsung mengekspresikan pendekatan intens yang dilakukan Putin yang ditujukan sebagai penyelesaian konflik baik regional dan level internasional.  Pada agustus 2002, diadakanya sebuah pertemuan untuk membahas kerjasama yang diadakan komisi Rusia-Kuwait untuk perdagangan, ekonomi, teknologi, sains Tng bertempat di Moskow. Di May 2013, pemerintahan Qatar mengajukan perusahaan gas Rusia Gazprom untuk bergabung dalam proyek mereka untuk membangun pipa gas dari UAE sampai dengan Oman. Selanjutnya di September 2006 Mohammed Al Nahyan, the Putra Mahkota dari Dubai and wakil kepala pasukan UAE, mengujungi Rusia untuk meneruskan progress kerjasama militer antara kedua negara tersebut (kremlin.Ru). Kemudian di september 2007, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden UAE Khalifa bin Zayed Al Nahyan melakukan negosiasi pembangunan bilateral dalam kunjungan negara di Abu Dhabi.
    
Selama protes politik yang terjadi di Bahrain akhir Maret 2011, Juru bicara Menteri luar negeri Rusia mengemukakan argumenya bahwa aksi protes yang terjadi harus diselesaikan melalui dialog publik.(Gulfnews.com) Rusia mendeklarasikan kesiapanya untuk membantu Bahrain dalam persenjataan  selagi Inggris dan juga Prancis membanned pengiriman senjata bagi Bahrain karena senjata tersebut akan digunakan untuk menghabisi para demonstran. Rosoboronexport Chief Executive Officer Anatoly Isakin shortly setelah itu mengumumkan bahwa telah menjadi pelanggan baru bagi persenjatan Rusia (Un Dispatch). Selagi Rusia membantu bahrain dengan para demonstrannya, konflik nampaknya juga berkecamuk di daerah Syria. Russian secara kritis mengkritik posisi dari negara wilayah teluk yang membantu oposisi pemerintahan disana, dikarenakan Rusia memberikan dukunganya dan menjadikanya sebagai sekutu terhadap pemimpin Syria,  Bashar Al Assad (Rt.com).     
Secara tidak langsung situasi ini membuat efek negatif bagi hubungan kerjasama Rusia-Syria. Sebagai contohnya insiden terjadi bagi embassy di Qatar. Ambassador Vladimir Titorenko haru merasakan serangan bersenjata di bandara pada November 29, 2011 dalam perjalanan kembalinya dari Yordania. December 4 2011, Menteri luar negeri Rusia Sergey Lavrov secara resmi menginformasikan Perdana menteri Qatar Prime Minister  dan Menteri Luar Negeri Sheikh Hamad bin Jassim Al Thani bahwa Rusia akan men-suspend hubungan diplomatik dua negara sampai adanya permintaan maaf secara resmi dari Doha. Rusia secara resmi juga mengkritik peran Qatar dalam konflik di Libya, yang secara langsung membuat Qatar melanggar embargo yang ditujukan di negara tersebut oleh UN Security Council and berpartisipasi secara aktif dalam operasi militer di negara tersebut. Satu-satunya negara di wilayah teluk yang hubungan kerjasamanya terganggu dengan hadirnya konflik yang berkecamuk di Timur Tengah ialah Bahrain, bahkan sampai saat ini Rusia semakin intens untuk mempereat kerjasamanya terutama di bidang ekonomi dan militer.    
 
Melihat kesemua pasang surut , hubungan antara Rusia dan wilayah negara wilayah teluk kiranya masih belum bisa mencapai titik pembangunan relasi yang stabil antara keduanya masih banyak yang berubah-ubah sesuai situasi konflik yang terjadi di kawasan timur tengah dan juga dinamika politik internasional yang terjadi. Sampai saat ini di kawasan Timur tengah terutama wilayah teluk masih belum bisa menyaingi kapabilitas hegemoni Amerika Serikat yang ada disana akan tetapi  di masa yang akan datang dengan strategi yang tepat dan perubahan situasi dalam konstelasi perpolitikan internasional niscaya Rusia akan mampu untuk bisa menyaingi hegemoni AS tidak hanya di wilayah Timur tengah akan tetapi di wilayah lain di dunia.     
 
 
Daftar Pustaka   
  • A Political History of Relations between Russia and the Gulf States : Research Paper. Elena Melkumyan.2015. Arab Center for Research and Policy Studies.  
  • Diplomaticheskiy Vestnik. N 23-24 December 1994. Defense and Foreign Affairs Handbook. L., 1996. 
  • Kanet, R. E. and A. V. Kozhemiakin. The Foreign Policy of the Russian Federation. New York: St. Martin's 1997.  
  • Concept of Foreign Policy of the Russia Federation in Diplomaticheskiy vestnik. Moscow, Aug. 2000. 
  • The beginning of negotiations with Mohammed Al Nahyan – the Crown Prince of Dubai and Vice-Head of the UAE forces. President of Russian Federation. Diakses melalui http://www.kremlin.ru/events/president/transcripts/23806. Diakses tanggal 18-08-2016 20.00 WIB 
  • Bahrain reinforces ties with Russia – Gulf News. Bahrain. Diakses melalui http://gulfnewscom/news/gulf/bahrain//bahrain-reinforces-ties-with-russia-1.1447458. Diakses tanggal 18-08-2016 20.00 WIB 
  • Russia breaks Qatar strings after envoy attack scandal. – RT Russian politics, https://www.rt.com/politics/russia-qatar-diplomacy-downgrade-o59/. Diakses tanggal 18-08-2016 21.30 WIB 
  • Russian Arms Deal Wit



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Imigrasi Bekasi Deportasi 9 WNA China

Jasa Presiden Soekarno buat bangsa Indonesia

RESENSI: Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Partai Berkuasa di Hungaria Ingin Usir "LSM George Soros"

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »