» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Asia
27-09-2016
Penjualan Rudal Harpoon AS ke India
Para pejabat pertahanan India menyatakan Washington menandatangani kontrak penjualan sistem rudal berpandu anti kapal, Harpoon dengan New Delhi. Sesuai kontrak tersebut 22 unit rudal Harpoon akan diserahkan AS kepada India.

Terkait hal ini, Pentagon dalam statemennya menyatakan berdasarkan program penjualan persenjataan dan alutsista ke negara-negara asing, kontrak penjualan 22 unit sistem rudal Harpoon dilengkapi aksesorisnya senilai 81 juta dolar telah ditandatangani dengan India.
 
Sebagian dari sistem rudal Harpoon diproduksi di Inggris, dan dijadwalkan siap dikirim ke India pada tahun 2018.
 
Di tahun 2014, India mengajukan pembelian rudal Harpon kepada AS untuk melengkapi sistem pertahanan lautnya.
 
Rudal Harpoon merupakan sistem rudal darat, laut dan udara yang dipergunakan untuk berbagi target, termasuk menghancurkan kapal perang.
 
Penandatangan kontrak penjualan sistem rudal anti kapal Harpoon oleh AS ke India sebagai bagian dari kerja sama strategis kedua negara yang ditandatangani tahun 2007, dengan dimulainya kerja sama nuklir Washington-New Delhi.
 
Kesepakatan kabinet India menandatangani kontrak senilai 2,5 miliar dolar dengan AS untuk pembelian alutsista dan persenjataan merupakan hasil dari kerja sama militer antara Washington dan New Delhi.
 
Kerja sama militer antara India dan AS semakin erat dengan ditandatanganinya kesepakatan pembangunan enam reaktor nuklir oleh Washington dalam kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi ke AS dan pertemuannya dengan Barack Obama.
 
Kerja sama militer dan nuklir kedua negara sebagai bentuk dukungan penuh Gedung Putih terhadap India dalam friksi dengan Pakistan. Washington cenderung memilih New Delhi sebagai sekutunya di kawasan Asia selatan dibandingkan Islamabad.
 
Penandanganan kontrak penjualan sistem rudal anti kapal Harpoon terjadi di saat suhu friksi antara India dan Pakistan terus memanas. Terutama, sejak menteri pertahanan Perancis, Jean Yves Le Drian dan sejawatnya dari India, Manohar Parrikar menandatangani penjualan jet tempur Rafale senilai delapan miliar euro, yang merupakan kontrak pembelian pesawat tempur terbesar India sejak dua puluh tahun silam.
 
Para analis menilai sikap AS memilih India sebagai sekutunya dibandingkan Pakistan, dan penjualan alutsista ke New Delhi semakin memperkeruh friksi kedua negara tetangga itu.
 
Antusiasme negara-negara Eropa menjual alutsista ke India justru meningkatkan persaingan pamer kekuatan militer  antara New Delhi dan Islamabad yang mendorong kian memanasnya friksi di Asia Selatan.

Sumber :parstoday.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Sekelumit tentang Sertifikasi Ulama

DK PBB Kutuk Serangan di Pasar Mogadishu

Unair Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa bagi Peraih Nobel

Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »