» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Asia
05-10-2016
Duterte kepada Obama: "Pergi Sana, ke Neraka"

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, Selasa, menyatakan kemarahan kepada Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dengan mengatakan "pergi sana, ke neraka" dan mengungkapkan Amerika Serikat telah menolak menjual persenjataan ke negaranya.


Namun, Duterte menegaskan tidak peduli dengan penolakan AS itu karena masih ada Rusia dan China yang bersedia menjual senjata kepada Filipina.

Duterte menuturkan ia sedang menyusun kembali kebijakan luar negerinya karena Amerika Serikat telah mengecewakan Filipina.

Dan pada suatu titik, "Saya akan putus dengan Amerika," tambahnya.

Tidak jelas apa yang dimaksudnya dengan "putus".

Saat menyampaikan pidato kerasnya di Manila, Duterte mengatakan Amerika Serikat tidak mau menjual peluru kendali dan persenjataan lainnya.

Tapi, katanya, Rusia dan China telah menyampaikan kepada dirinya bahwa kedua negara itu bisa dengan mudah mempersiapkan persenjataan yang diperlukan Filipina.

"Walaupun ini mungkin terdengar kotor bagi Anda, saya memiliki tugas mulia untuk menjaga integritas republik ini dan kesehatan rakyat," ujar Duterte.

"Kalau Anda tidak mau menjual senjata, saya akan berpaling ke Rusia. Saya sudah mengirim beberapa jenderal ke Rusia, dan Rusia mengatakan tidak usah khawatir, kami punya semua yang kalian perlukan dan kami akan memberikannya kepada kalian."

"Dan China, mereka mengatakan datang saja dan tanda tangan, semuanya akan dikirim."

Di Washington, para pejabat AS tidak memedulikan pernyataan Duterte itu. Menurut mereka, komentar-komentar Duterte itu "bertentangan" dengan hubungan hangat dan pertemanan Filipina-AS yang telah berjalan selama berpuluh-puluh tahun.

Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, mengatakan, tidak ada komunikasi dari Filipina soal negara itu mengubah hubungan dengan AS.

Namun, Earnest tidak ragu mengkritik taktik Duterte dalam perang maut yang dilancarkan pemimpin Filipina itu terhadap obat-obatan terlarang.

"Bahkan pada saat kami menjaga pertemanan kuat (AS-Filipina, red) ini, pemerintah dan (rakyat) Amerika Serikat tidak akan ragu untuk menyuarakan keprihatinan kita terhadap pembunuhan semena-mena," katanya dalam jumpa pers.

Pada Minggu, Duterte mengatakan ia telah mendapat dukungan dari Rusia dan China ketika dirinya menungkapkan keluhan kepada kedua negara itu soal sikap AS.

Dia juga mengatakan ia akan meninjau kembali Kesepakatan Peningkatan Kerja Sama Pertahanan AS-Filipina.

Melalui kesepakatan yang ditandatangani pada 2014 itu, pasukan AS boleh menggunakan sejumlah pangkalan Filipina.

Kesepakatan itu juga memungkinkan pasukan AS mendirikan fasilitas penyimpanan bagi operasi keamanan maritim, kemanusiaan dan tanggap darurat bencana.

Duterte mengatakan Amerika Serikat seharusnya mendukung Filipina dalam memerangi masalah kronis negaranya menyangkut peredaran obat-obatan terlarang. Sebaliknya, AS, demikian pula dengan Uni Eropa, justru mengkritik dirinya atas tingginya jumlah orang yang tewas.

"Bukannya membantu kita, yang pertama melancarkan kritik justru Departemen Luar Negeri. Jadi, pergi sana ke neraka, Bapak Obama, pergi ke neraka," tandasnya.

"Uni Eropa, kalian lebih baik pilih penyucian diri. Neraka sudah penuh. Kenapa saya harus takut kepada kalian?"

Pada pidato setelahnya, Duterte mengatakan ia merasa emosi karena Amerika Serikat belum pernah bersikap sebagai teman bagi Filipina sejak ia terpilih sebagai presiden pada Mei.

"Mereka (AS) hanya... mencerca presiden lain di depan masyarakat internasional," katanya di depan suatu komunitas Yahudi.

"Ini yang sekarang akan terjadi, saya akan menyusun kembali kebijakan luar negeri saya. Pada akhirnya, pada masa saya mungkin saya akan putus dengan Amerika."

Tidak jelas apakah yang dimaksud Duterte dengan "masa saya" itu berarti masa jabatannya selama enam tahun sebagai presiden.


Sumber :ANTARA
Artikel Terkait
» Penjualan Rudal Harpoon AS ke India
» China tegaskan ASEAN adalah mitra pentingnya
» Kekerasan Sektarian Pecah Kembali di Myanmar
» Cina Gandeng Tiga Negara Asia Bentuk Koalisi Anti-Terorisme
» Kim Jong-un Disanksi, Korut Anggap AS Deklarasikan Perang
» China Ancam India atas Pengerahan Tank ke Perbatasan
» Taiwan Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Imigrasi Bekasi Deportasi 9 WNA China

Jasa Presiden Soekarno buat bangsa Indonesia

RESENSI: Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Partai Berkuasa di Hungaria Ingin Usir "LSM George Soros"

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »