» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Media
21-10-2016
FGD Global Future Institute (GFI) - Lembaga Studi Informasi Strategis-Indonesia (LSISI)
Satrio Arismunandar: Di Era Digitalisasi Masyarakat Mengalami Kebingungan dalam Memilah Informasi

Pesatnya perkembangan teknologi informasi itu sendiri, maupun kecepatan arus informasi saat ini yang sedemikian rupa sulit untuk dibendung. Ironisnya, masyarakat sebagai penerima dan pengguna informasi justru hanya memiliki peran pasif seiring dengan menjamurnya berbagai media massa baik cetak, elektronik maupun online atau internet. Paradoks yang terlihat kemudian, masyarakat di era digital yang sesungguhnya sangat haus informasi, pada perkembangannya justru cenderung mengkonsumsi sumber-sumber informasi dan pemberitaan yang tidak mempedulikan kualitas informasi. Sehingga, masyarakat di era digital dan abad informasi seperti sekarang ini, justru menjelma menjadi masyarakat yang tidak well-informed.


Menyikapi perkembangan tersebut, Global Future Institute (GFI) bekerjasama dengan Lembaga Studi Informasi Strategis-Indonesia (LSISI) menyelenggarakan Focus Group Discussion, dengan mengangkat tema “Rintangan dan Tantangan Perkembangan Media Tahun 2017 pada Jumat, 21 Oktober 2016, di Wisma Daria, Jakarta
 
Dalam diskusi yang menghadirkan narasumber Satrio Arismunandar, mantan Wartawan Kompas dan Pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), menyampaikan bahwa era digitilisasi menciptakan banyak pilihan yang melimpah, masyarakat mendapatkan keberlimpahan informasi. Disatu sisi mempermudah dan mempercepat akses informasi, pada sisi yang lain tidak disertai dengan kemampuan masyarakat belum siap untuk memilah informasi mana yang tepat dan layak.
 
"Saya memilihat ini bukan merupakan kondisi yang paradoks, tapi melainkan masyarakat mengalami kebingungan. Mereka tidak mampu memilah informasi," ujar Satrio.
 
Lebih lanjut Satrio mengatakan, saat ini masyarakat tidak lagi sekedar menjadi penerima konten tapi juga bisa menjadi pembuat konten. Masyarakat mampu membuat 'media' sendiri. Ini kemudian yang kemudian masyarakat mendapat keberlimpahan informasi.
 
"Sayangnya kondisi ini tidak bisa diikuti dengan kapasitas masyarakat dalam memilah informasi," ucap Satrio.
 
Dalam focus group discussion ini, juga menghadirkan Rahardi Teguh Wiratama (LP3ES) dan Ignatius Haryanto (Peneliti Media dari LSPP). Focus group discussion ini juga dihadiri sekitar 20 jurnalis, yang beberapa merupakan para pengelola media alternatif.



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »