» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Asia
01-11-2016
Helmi Aditya
Agenda 'New World Order' China

Mengapa China tak mengirimkan bantuan militer ke Syria? Mengapa juga China abstain soal Crimea? Mengapa China menghadiri pertemuan Bilderberg?


Apakah ini membuktikan bahwa China sedang menjalankan agenda New World Order (NWO) dan sebenarnya bermain mata dengan AS?

Suka tidak suka, China adalah kekuatan baru negara adidaya. Meski punya militer yang cukup kuat - yang mampu menahan manuver AS di Laut Cina Selatan (LCS) untuk saat ini - namun bagi Beijing, ekonomi adalah senjata utama.

One Belt One Road (OBOR) adalah salah satu inisiasi China untuk mewujudkan area perdagangan trans-Asia - sebagai antidot Trans-Pacific Partnership (TPP) yang digagas AS. OBOR meghubungkan China dengan Jalur Sutera baru yang dibangun melalui Asia Tengah, hingga Mediterania melalui Syria dan Lebanon, yang saling melengkapi visi Eurasia milik Putin.

Yuan kini juga menjadi salah satu mata uang resmi IMF, yang membuatnya harus ada di tiap bank sentral negara-negara yang terkait di dalamnya dan memiliki potensi besar untuk menggeser dolar dalam beberapa kasus perdagangan.

Washington menyadari hal ini, namun untuk bereaksi keras akibat dolarnya diganggu - seperti pada Saddam dan Khadaffi - efek domino dari aksi serupa akan membuat AS sendiri runtuh. Bagi AS, untuk saat ini, China merupakan 'teman' yang menyusahkan.

Keterlibatan China di Syria memang tidak sebesar Rusia. Hal yang bisa dipahami mengingat Beijing terang-terangan menolak kebijakan Moskow untuk ikut berperang di Syria sejak awal.

Dan perlu dicatat bahwa meski China mendukung sepenuhnya pemerintahan Syria yang sah, namun dengan visi ekonomi yang begitu besar di kawasan, China juga tak siap untuk bermusuhan dengan Saudi dan Qatar, yang akan menjadi elemen krusial dalam Jalur Sutera barunya.

Meski demikian, Syria sendiri mengakui bahwa bantuan Beijing dalam konflik Syria cukup signifikan. Meski 'hanya' memberikan bantuan kemanusiaan dan pelatihan medis militer, namun banyak pihak yang meremahkan hal ini sebagai upaya simbolis saja.

Faktanya, kini 40% tenaga medis dalam militer Syria dilatih di dan oleh Beijing. Dan anda bisa mengira sendiri seberapa besar pengaruh hal ini dalam kemampuan tempur Syria.

Katakan pragmatis, namun kebijakan China mewakili kepentingan dalam negeri yang ia usung. Keberaniannya dengan berpihak pada Syria sendiri sudah merupakan perjudian besar, yang lebih ditujukan untuk senjata negosiasi dengan AS soal LCS.

Dalam kasus Crimea, Beijing terjebak dalam situasi 'damned if you do, damned if you don't'. China bisa menghitung kesusahan yang dialaminya jika all-out mendukung Rusia, namun juga tak siap bermusuhan dengan Moskow.

Tibet juga bisa menjadi bumerang jika Beijing salah mengambil keputusan dan tentunya, rencana penjualan senjata AS ke Taiwan juga menjadi pertimbangan khusus. Belum lagi jika kita bahas Xinjiang.

Kasarnya, China dan hampir setiap negara lainnya mempunyai perhitungan untung-rugi sendiri, terutama jika dikaitkan dengan keputusan geopolitik yang memiliki implikasi mendalam ke dalam negeri.

Semuanya berakar pada kepentingan dalam negeri, dengan sedikit bumbu sejarah dan aroma ideologis.

Maka jangan terkejut saat mendengar ada perjanjian kerjasama antara China dan Saudi, atau antara Beijing dan Tehran. Juga jangan kecewa kalau mendengar Rusia menghadiri pertemuan Bilderberg pada 1998, 2011, 2012 dan 2015, atau melihat foto Putin bersalaman dengan Netanyahu.

NWO? Kita sendiri sudah menjadi bagiannya sejak terdaftar menjadi anggota G20 pada 1999. Deal with it!




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »