» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Eropa
07-11-2016
Rusia Bantah Disebut Terlibat Upaya Pembunuhan PM Montenegro
Pria berkepala plontos ini diduga hendak dibunuh karena ingin membawa Montenegro mendekat ke Amerika Serikat (AS) dan negara Barat lainnya. Mau tidak mau, Pemerintah Rusia dianggap terlibat dalam rencana pembunuhan tersebut. Namun, Kremlin –Istana Kepresidenan Rusia– membantah tuduhan itu.

“Kami tentu saja menolak segala kemungkinan keterlibatan resmi dalam merencanakan aksi ilegal,” ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov saat menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan keterlibatan Rusia, seperti dimuat Reuters, Senin (7/11/2016). 
 
Jaksa Milivoje Katnic menyebut pengatur serangan dari kelompok penjahat tersebut berkebangsaan Rusia. Tujuan utama mereka adalah menaikkan kelompok oposisi ke tampuk kekuasaan. Sayangnya, Katnic menolak menyebut partai oposisi mana yang hendak menggulingkan Djukanovic. 
 
Mantan warga negara Republik Yugoslavia itu naik menjadi pemimpin tertinggi di Parlemen Montenegro setelah partainya memenangkan kursi terbanyak. Akan tetapi, secara individu Djukanovic mendapat tentangan dari sebagian besar anggota parlemen. 
 
“Otoritas nasional mengungkap kelompok penjahat yang berusaha membunuh PM Djukanovic dibentuk dalam teritori Montenegro, Serbia, dan Rusia. Tugas utamanya adalah melakukan aksi terorisme,” ungkap Katnic. Upaya pembunuhan tersebut terjadi pada 19 Oktober 2016. Seorang penembak jitu ditempatkan dari jauh untuk menembak mati Djukanovic. 
 
Upaya tersebut berhasil digagalkan dan sebanyak 20 orang sudah ditahan terkait upaya tersebut. Sebagian kini sudah dibebaskan, sementara polisi masih menahan 14 orang lainnya.

Sumber :okezone.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »