» Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos » Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil » Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik » Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia » Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing


Ekonomi dan Bisnis
14-11-2016
Trump Buat Obligasi Tak Menarik, Portofolio Modal Lari ke Saham

Kemenangan mengejutkan Donald Trump pada Pemilu Presiden Amerika Serikat telah mengakhiri kecenderungan membeli obligasi yang sudah bertahan 30 tahun lamanya karena investor meramalkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS akan bergerak cepat selama era Trump sehingga investor melarikan portofolio modalnya ke saham ketimbang kepada obligasi.


Dalam dua hari ini sekitar 1 triliun dolar AS modal terpompa keluar dari pasar obligasi global di seluruh dunia yang merupakan paling buruk dalam 1,5 tahun terakhir. Fenomena ini terjadi karena investor memperkirakan pemerintahan Trump akan menggenjot investasi bisnis dan belanja, namun inflasi naik.

"Kami melihat pergeseran sentimen di pasar obligasi. Kami juga mengalaminya. Orang mulai merealokasi obligasi untuk dimasukkan ke saham," kata Jeffrey Gundlach dari DoubleLine Capital yang berbasis di Los Angeles, perusahaan modal yang mengelola asset sekitar 106 miliar dolar AS.

Penarikan besar-besaran modal dalam obligasi telah melesatkan yield obligasi AS ke puncak tertingginya sejak Januari di mana yield untuk jangka 30 tahun mencatat kenaikan tertinggu mingguan sejak Januari 2009.

Larinya portofolio modal dari obligasi ke saham ini telah menyuntik pasar saham di mana indeks patokan Dow Jones Industrial Average di Wall Street menyentuh angka paling tinggi dalam lima tahun terakhir, Jumat pekan lalu, demikian Reuters.



Artikel Terkait
» China Siapkan US$ 11,15 Miliar Ekspansi ke Eropa
» Save Kendeng, Bank, dan Kejahatan Pendanaan
» Ekspor Indonesia Masih Terus Turun dan Nilai Rupiah Turun terhadap Berbagai Mata Uang Asing
» RAPBNI 2017: Defisit akan Naik menjadi Rp 332,9 Triliun, Ditutup dengan Surat Utang Negara Rp 399 Triliun



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing
Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise ...

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil

Kontroversi Keberadaan Freeport

Penyebaran Paham Radikalisme: Ancaman Nyata Kedaulatan NKRI

Menyikapi Kasus Freeport

Bangkitnya Komunisme dalam Konstelasi Politik Indonesia

Bom Panci di Cicendo, Pesan Eksistensi Kelompok Radikal

Mewujudkan Spirit Demokrasi Pancasila

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Saatnya Mengambil Alih Freeport

Waspadai Eskalasi Propaganda Aktivis Pro Papua Merdeka

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »