» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Isu Hangat
17-11-2016
Manuver Militer Amerika Serikat di Semenanjung Korea Harus Ditangkal Sedini Mungkin Oleh Kementerian Luar Negeri dan “Pemangku Kepentingan” Politik-Keamanan RI
Penulis : Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Salah satu cuplikan dari pidato Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)  dalam  Pertemuan  para ahli bertema: Diplomasi Poros Maritim, Keamanan Maritim dalam Perspektif Luar Negeri. Kementerian Luar Negeri, pada 10 November 2016, di Hotel Salak Heritage, Bogor.


Merapatnya Duterte ke Cina itu justru atas arahan skema Demokrat, dan dengan asumsi Hillary yang akan menang. Skema Demokrat adalah, bangun persenyawaan hegemoni AS-Cina, daripada keduanya tidak dapat apa-apa di Asia Tenggara.

Tapi tiba-tiba Donald Trum yang menang, sehingga berpotensi merusak skenario persekutuan AS-Cina atas dasar skema Partai Demokrat AS tersebut.

Rencana awalnya, Duterte akan dimainkan dengan seakan-akan memutuskan berpaling dari AS dan merapat ke Cina. Padahal dalam skenario Obama dan Hillary Clinton, Duterte merapat ke Cina sejatinya sebagai kurir Washington untuk seakan-akan merapat ke Cina. padahal dia kurir untuk pembukaan babak baru kerjasama AS-Cina, berdasarkan skema Partai Demokrat yang selama ini menerapkan pakem model Serangan Asimetris atau dalam jargonnya Hillary Clinton, Smart Power, dalam upayanya melakukan penaklukkan geopolitik terhadap negara-negara sasaran di negara-negara berkembang.

Namun gagasan persekutuan hegemoni AS-Cina atas dasar skema Demokrat itu akan berhasil dengan asumsi bahwa Hillary lah yang kali ini menang, untuk melanjutkan skema yang sudah disusun Presiden Obama yang juga sama-sama Demokrat. Bukannya Donald Trump, yang selain berasal dari Partai Republik, besar kemungkinan politik luar negerinya juga masih dipengaruhi cetak biru yang disusun tim-nya mantan Presiden George W Bush.

Sekarang kenyataannya, Donald Trump lah yang menang, sehingga besar kemungkinan skema Demokrat dengan menggunakan Duterte untuk merapat ke Cina, akan dibatalkan.

Trump, meski belum pasti, besar kemungkinan politik luar negerinya dilandaskan pada skema Project New American Centuries (PNAC) yang dirumuskan para konseptor NEO-Con di belakang kemenangan George W Bush (2000-2008).

Maka, kalaupun Trump tidak akan terang-terangan merujuk pada PNAC, sepertinya sudah bisa kita bayangkan betapa memanasnya situasi di Laut Cina Selatan.

Karena salah satu spirit di balik PNAC adalah menegaskan Cina dan Rusia sebagai musuh potensial Amerika.

Maka itu, saya ingatkan di forum Para Ahli Kementerian Luar Negeri itu, agar mewaspadai dan mencermati rencana AS untuk mengembangkan Rudal Balistik Antar-Benua di Korea Selatan, dengan dalih untuk mengimbangi ICBM Korea Utara yang diluncurkan beberapa waktu lalu.

Jika ini dilakukan AS, maka sudah pasti Cina akan terpancing untuk meningkatkan eskalasi dan agresifitas kemiliterannya, termasuk di matra laut, untuk menghadapi kehadiran militer AS di Semenanjung Korea.

Karena dengan adanya rencana pengembangan ICBM di Korea Selatan, harus dibaca sebagagai kedok untuk meningkatkan kehadiran militernya di Semenanjung Korea.

Itulah sebabnya melalui forum tersebut, saya merasa perlu mengingatkan kemungkinan terjadinya pergeseran prioritas dan agenda pemerintahan AS menyusulnya kemenangan Trump. Dan salah satunya, rencana pengembangan ICBM di Korea Selatan yang di era Obama sepertinya ditarik ulur dan ditundan-tunda mengingat pakem Demokrat yang lebih suka Serangan Asimetris, di era Trump bisa-bisa malah akan dijadikan sebagai salah satu proyek prioritas Pentagon.

Maka, Kemenbterian Luar Negeri maupun DPR_RI Komisi I harus mengambil langkah-langkah preventif agar niatan AS yang berpotensi memanaskan keadaan di Semenanjung Korea yang bisa menjalar ke Laut Cina Selatan, bisa ditangkal sedini mungkin. Sebab ketika manuver militer AS di Korea Selatan tersebut dilancarkan, pada perkembangannya akan memicu reaksi militer RRC. Sehingga berpotensi mengancam Konsep Poros Maritim Dunia Presiden Jokowi.

Sebagaimana kita ketahui, konsepsi Poros Maritim Dunia yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi East Asia Summit  atau KTT Asia Timur di Nay Pyi Taw, Myanmar, pada November 2014 lalu, atau yang didalam bahasa Inggris disebut Global Maritime Fulcrum, pada dasarnya konsep maritim itu adalah perubahan dari fokus orientasi pembangunan dari darat ke laut.

Namun, Konsepsi Poros Maritim Dunia Presiden Jokowi hanya bisa berjalan lancar sesuai skema dan strategi dasarnya itu sendiri, selain  didukung oleh terciptanya iklim yang kondusif serta stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik pada umumnya. Maka dari itu, rencana  AS untuk mengembangkan ICBM  di Korea Selatan, harus ditentang dan ditolak sedini mungkin.




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »