» Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia » AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang


Asia
18-11-2016
Susul Rusia, Filipina Ancam Keluar dari Mahkamah Pidana Internasional
Presiden Filipina mengabarkan keputusan negara itu untuk keluar dari Mahkamah Pidana Internasional, ICC yang bermarkas di Den Haag, menyusul langkah Rusia yang terlebih dahulu keluar.

IRNA (17/11) melaporkan, Rodrigo Duterte, Presiden Filipina, Kamis (17/11) mengatakan, Rusia sampai pada kesimpulan bahwa Mahkamah Pidana Internasional adalah lembaga yang tidak bermanfaat, oleh karena itu ia keluar dan Manila dalam hal ini sependapat dengan Rusia.
 
Duterte yang berhasil memenangi pemilu presiden di Filipina bulan Mei lalu, menerapkan kebijakan keras terhadap para penyelundup narkotika.
 
Data resmi menunjukkan, sejak dimulainya perang melawan penyelundupan narkotika di Filipina, bulan Juli lalu hingga sekarang, tercatat 3700 orang tewas.
 
Negara-negara Barat, Mahkamah Pidana Internasional dan lembaga-lembaga Hak Asasi Manusia lainnya mengecam keras langkah Duterte tersebut.
 
Mahkamah Pidana Internasional adalah lembaga internasional yang mengurusi penanganan masalah kejahatan-kejahatan genosida, kejahatan anti-kemanusiaan dan kejahatan perang. ICC bermarkas di Den Haag, Belanda.

Sumber :parstoday.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik
Dalam berbagai kesempatan, pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sudah sempat meminta maaf atas sepak-terjang tentara Jepang pada Perang Dunia II di beberapa negara eks koloninya ...

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Arsip
Dilihat Dari Gelagatnya, NATO Memang Ingin Agresi Militer ke Rusia

KPK Dalami Proses Penentuan Opini Kasus Kemendes-BPK

Anggaran Polri Naik di Masa Presiden Jokowi

Ketua OPEC Optimistis Stok Minyak Global Turun

Mengunjingkan Epistemologi Keraton

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara

Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia

AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang

Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »