» Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia » AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang


Internasional
26-11-2016
Oleh Helmi Aditya
Poros Perlawanan, Blok Timur, Axis of Resistance

Adakah semua itu nyata?

Saat ini, praktis tinggal Rusia, Iran, Lebanon, Yaman dan Syria yang menjadi penghalang terakhir terwujudnya The Greater Israel di Timur Tengah.


Konflik di Syria, adalah garis pembeda, antara kebijakan politik luar negeri yang diambil negara-negara ini dan lawan-lawannya.

Kesepahaman mereka dalam membabat terorisme tak ayal membuat kita meletakkan negara tersebut dalam satu barisan. Seolah mereka satu ideologi, mengusung satu nilai dan memiliki tujuan yang sama.

Tapi, kadangkala kita juga mendapati kejadian bertolak belakang yang tersiar lewat media, yang merusak imaji sempurna kita akan aliansi ideal.

Mulai dari kunjungan bersahabat Putin ke Israel, atau hubungan bilateral Iran dan Erdogan yang semakin mesra?

Atau bantuan China ke Syria, yang disusul dengan deal kerjasama dengan Saudi beberapa minggu setelahnya?

Atau ucapan terima kasih Assad yang menggelegar kepada Rusia, tanpa menyebut ribuan IRGC yang syahid membela negeri tetangganya?

Atau malah bahkan tentang Rusia yang baru saja mengantarkan S-300, 10 tahun setelah dipesan dan dibayar lunas oleh Iran, sementara India langsung menikmati S-400 dalam hitungan bulan?

Politik Timur Tengah ini termasuk yang paling pelik di dunia. Makanya kadang untuk memahaminya, kita membutuhkan sosok jeli seperti bu Dina Sulaeman, analis kawakan seperti Pepe Escobar atau Andrew Korybko.

'Middle East is absurdity at its finest. Everyone hates everyone.'

Ungkapan di atas pernah diutarakan seorang teman dari Syria, yang sayangnya, saya temukan benar adanya.

Bahkan di antara sekutu yang seringkali kita anggap sedarah, bibit perpecahan telah ditabur, siap untuk dituai kapanpun diperlukan.

Pernah dengar bahwa Qatar pernah berseteru dengan Saudi soal Ikhwanul Muslimin? Jika belum, maka ini 'warning' pertama bagi kita dalam memahami apa yang tersirat dalam berita.

Inilah yang benar-benar diresapi dengan baik oleh gerombolan Ashkenazi yang mencaplok wilayah Palestina, mendapat dukungan dana melimpah dari Washington dan Eropa.

Dengan terus saling berperang dan curiga, negara-negara sekitarnya akan terlalu sibuk dan lelah untuk kembali ke pangkal masalah awal, entitas kanker yang menggerogoti dengan bendera bintang Daud.

Lalu, mampukah Axis of Resistance mengatasi perpecahan yang ditimbulkan oleh zionis dan mengembalikan kemandirian Timur Tengah, yang bebas kanker?

Sulit untuk dikatakan.

Ketika Hezbollah mati-matian berperang dengan Israel demi menjaga jalur logistik dari Iran ke pejuang Palestina, Fatah terang-terangan menyerahkan sebagian Palestina dengan menyetujui ide dua-negara.

Saat Bashar Assad mendukung penuh perlawanan Hamas terhadap Israel dan menampung pengungsi seperti warganya sendiri, Khaled Meshal malah dengan bangga mengibarkan bendera Free Syrian Army (FSA), yang meluluhlantakkan kedamaian di Syria.

Sementara atlet Iran rela walk-out dari Olimpiade ketimbang bertarung dengan atlet ilegal asal Israel, Putin malah sering berjabat erat dengan Netanyahu.

Lalu, masih adakah sebenarnya poros perlawanan? Ataukah yang ada hanyalah kumpulan pemimpin negara yang pragmatis, dan cari untung sendiri?

Pangkal masalahnya, kita kadang memahami politik seperti membaca kisah kepahlawanan. Ada pihak yang baik, ada pihak yang jahat. There is good guys, and the bad guys.

Meski tidak sepenuhnya salah, namun perlu kita jejalkan satu rumus lagi dalam cara kita memandang dinamikanya. Kepentingan.

There is no permanent friends or allies. Only interests.

Be vigilant!




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik
Dalam berbagai kesempatan, pemerintahan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sudah sempat meminta maaf atas sepak-terjang tentara Jepang pada Perang Dunia II di beberapa negara eks koloninya ...

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Arsip
Dilihat Dari Gelagatnya, NATO Memang Ingin Agresi Militer ke Rusia

KPK Dalami Proses Penentuan Opini Kasus Kemendes-BPK

Anggaran Polri Naik di Masa Presiden Jokowi

Ketua OPEC Optimistis Stok Minyak Global Turun

Mengunjingkan Epistemologi Keraton

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara

Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia

AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang

Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »