» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Ekonomi dan Bisnis
28-11-2016
Kuota Minyak dan Sidang OPEC
Menjelang digelarnya sidang OPEC, menteri energi Aljazair dan menteri perminyakan Iran menggelar pertemuan di Tehran untuk membahas perkembangan terbaru pasar minyak global.

Noureddine Boutarfa dalam pertemuan dengan Bijan Zanganeh menyampaikan prakarsa Aljazair mengenai penurunan produksi minyak anggota OPEC sebesar 1,1 juta barel.
 
Menteri energi Aljazair kepada wartawan di Tehran mengatakan, Jika anggota OPEC dalam pertemuan Wina bersepakat, maka harga minyak di tahun depan berada di kisaran 50 hingga 55 dolar perbarel, dan di akhir tahun bisa mencapai 60 dolar perbarel.
 
Beberapa bulan sebelumnya, anggota OPEC dalam pertemuan di Aljazair bersepakat untuk menurunkan 750.000 barel dari produksi sebesar 32,5 hingga 33 juta barel perhari. Kesepakatan yang pertama kali dicapai sejak tahun 2008 ini memberi sedikit perubahan pada harga minyak di pasar global.
 
Setelah sidang tersebut, para pejabat anggota OPEC dalam pertemuan di Wina dengan Rusia, selaku produsen minyak terbesar non-OPEC, membahas mekanisme penerapan prakarsa penurunan produksi minyak untuk mendorong peningkatan harga di pasar global. Kini, muncul tanda-tanda yang menunjukkan pemulihan harga di pasar dunia.
 
Berlanjutnya kondisi tersebut akan membantu menata kembali harga minyak yang sempat terperosok jatuh akibat perang minyak yang dilancarkan Arab Saudi. Terwujudnya tujuan tersebut kembali kepada komitmen seluruh produsen minyak, dan implementasi kesepakatan yang telah dicapai, termasuk dengan negara non-OPEC seperti Rusia.
 
Sidang OPEC akan digelar pada 30 November 2016. Pertemuan ini akan membahas agenda komitmen anggota OPEC terhadap implementasi kesepakatan yang dicapai. Pasalnya, sejumlah negara seperti Arab Saudi melancarkan kebijakan menahan produksi sesuai tingkat produksi Januari 2016, bahkan menggelar pertemuan di Doha, Qatar mengenai masalah tersebut. Tujuannya untuk menekan Iran dengan tingkat produksi minyaknya sebesar satu juta barel perhari.
 
Padahal, jumlah tersebut berkaitan dengan periode penurunan produksi akibat sanksi yang tidak adil. Tapi kini, sanksi telah dicabut, dan tidak ada alasan bagi negara manapun untuk menekan Iran supaya tidak menggunakan kuotanya dalam produksi minyak sebelum sanksi diberlakukan. Pada saat yang sama Arab Saudi memproduksi minyak melebihi kuotanya dengan tingkat kelebihan sebesar 1, 5 juta barel dan dijual dengan harga murah ke pasar global.
 
Iran dalam pertemuan di Aljazair dikecualikan dari penurunan produksi, dan negara ini bisa memproduksi minyaknya sesuai tingkat produksi sebelum sanksi diberlakukan.
 
Pandangan mata para investor dan pelaku pasar minyak tertuju ke arah pertemuan Wina; apakah pertemuan OPEC akan berujung pada keputusan yang dijalankan oleh seluruh anggota atau tidak. Apakah Arab Saudi tetap akan menjalankan kebijakannya sendiri.
 
Sejak Januari hingga Mei lalu, Arab Saudi rata-rata memproduksi minyak sebesar 10 juta 200 ribu barel perhari. Sepak terjang rezim Al Saud tersebut menyebabkan anjloknya harga minyak di pasar dunia dari 115 dolar pada Juni 2014 menjadi kisaran 30 hingga 50 dolar perbarel. Angka tersebut menimbulkan masalah bagi negara-negara yang bergantung terhadap pendapatan minyak.
 
Kini sebagian negara produsen minyak anggota OPEC dan non-OPEC menghadapi krisis finansial. Arab Saudi sendiri yang melancarkan skenario perang minyak saat ini menghadapi defisit anggaran, dan terpaksa sedikit melunak untuk mencegah berlanjutnya penurunan harga minyak di pasar global.
 
Bulan lalu, OPEC mengesahkan sebuah strategi jangka panjang yang menegaskan kembali peran strategis organisasi pengekspor minyak itu terhadap manajemen produksi minyak di pasar global. Masalah ini meningkatkan harapan terhadap pertemuan Wina. Tapi hingga kini, tidak ada yang bisa memastikan apakah Arab Saudi akan mematuhi komitmennya dan tidak mengulang penerapan skenario destruktif perang minyak sebelumnya.

Sumber :parstoday.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »