» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Artikel Pilihan
29-11-2016
Ada Upaya Pembubaran Negara Bangsa (Nation State) Secara Asimetris
Penulis : M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
Di era globlalisasi, teori ruang (geopolitik) yang dimodifikasi oleh Konichi Ohmae melalui dua bukunya yang bertajuk Borderless World (1991) dan The End of Nation State (1995), intinya ia menekankan bahwa pada perkembangan masyarakat global, batas-batas wilayah negara dalam geografi dan politik relatif masih tetap, tetapi kehidupan di suatu negara tidak mungkin dapat membatasi kekuatan global yang berupa informasi, investasi, industri dan konsumen yang kian individual. Ohmae memberi isyarat bahwa untuk bisa menghadapi kekuatan global, suatu negara harus mengurangi peranan pemerintah pusat dan lebih memberikan peran kepada pemerintah daerah dan masyarakat. Itulah pokok-pokok pengembangan teori ruang hasil olah pikir Kinichi Ohmae.

Dalam pola asymmetric warfare, konsep Ohmae dikategorikan "isu" yang ditebar pada forum-forum akademis. Test the water. Artinya, usai isu disebar akan muncul "tema" atau agenda lanjutan yang digelar. Bila tema bisa diterima oleh publik, lazimnya bakal dijalankan "skema" (kolonial). Demikian itu tahapan pola serta modus pada perang atau serangan asimetris di sebuah negara. Isu - Tema - Skema.

Seringkali, serangan asimetris asing gagal di tataran isu, karena selain terbaca oleh publik, juga pìhak negara yang ditarget mampu melakukan kontra strategi sehingga isu tinggal isu, tak dapat melaju menjadi tema dan/atau skema. Tetapi kerapkali juga isu dimaksud melaju pesat menjadi sebuah agenda dan sukses mendarat menjadi skema kolonial yakni penguasaan ekonomi dan pencaplokan sumber daya alam/SDA di negara target. Hal tersebut, sebenarnya tergantung kecanggihan man power di belakang jerat sistem kolonial, dan/atau keuletan, ketangguhan serta daya tahan bangsa untuk menangkalnya.

Balik lagi soal isu Ohmae. Bahwa 2 tahun usai bukunya terbit, ada pertemuan para pakar dari 32 negara di Salzburg pada bulan Maret 1997 membahas masa depan negara bangsa (nation state). Tidak semua pakar setuju memang, karena bagaimanapun masih dibutuhkan negara bangsa untuk menarik pajak contohnya, atau memberi identitas/KTP kepada penduduk, menjamin keamanan dalam negeri, menyediakan jaring pengaman sosial serta lingkungan, dan lain-lain. Dan yang utama dalam konsepsi nation state ialah negara merupakan sarana untuk meraih cita-cita dan tujuan nasional, mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, keutuhan wilayah, agar tetap menjadi negara besar serta diperhitungkan dalam interaksi antarbangsa.

Yang menarik pada pertemuan tersebut justru statement Neal R. Peirce yang digebyarkan oleh media seakan-akan mewakili hasil temu pakar tersebut:
"Globalisasi ekonomi, kebangkitan daerah-daerah atau persaingan antaretnis yang sedang dan terus menggejala akhir-akhir ini dipercaya sebagian orang sebagai pertanda akan berakhirnya negara-negara kebangsaan" (International Herald Tribune, 4 April 1997).

Tak bisa dipungkiri, dalam perang asimetris, statement Pierce terbaca sebagai pola yang bersifat penebalan isyu atas ide dan konsep Ohmae di atas.

Sebelum reformasi dulu, memang ada gagasan Amien Rais/AR untuk mengubah negara kesatuan menjadi negara federal, namun ide tersebut ditolak banyak kalangan karena selain tak sesuai dengan karakter geografis, juga menyimpang dari semangat dan cita-cita para founding fathers. Akan tetapi, ketika era reformasi berjalan, tiba-tiba terbit UU Otonomi Daerah yang sejatinya merupakan "ujud halus" dari negara federal sebagimana ide AR dulu. Inilah yang dikatakan oleh SBY sebagai sistem banci. Bagaimana, negara kesatuan kok menjalankan Otonomi Daerah?

Pertanyaan yang menggelitik muncul, "apakah Otoda di Indonesia adalah (agenda kolonial) kelanjutan isu yang ditebar oleh Ohmae dan Pierce diatas?" Dan adakah link up antara ketiganya (Ohmae, Pierce dan AR)?

Silahkan didiskusikan, pointers diskusi nanti bisa untuk melanjutkan catatan ini. Monggo ...




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »