» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Ekonomi dan Bisnis
02-12-2016
ASEAN RCEP Dinilai Rugikan Indonesia
Pada awal bulan Desember ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah perundingan ASEAN RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership). Demikian kata Direktur Indonesia for Global Justice (IGJ) Rachmi Hertanti, pada pembukaan diskusi mengkritisi mega FTA (Free Trade Agreements) di Jakarta, Senin (28/11/16).

Rachmi mengatakan, RCEP adalah sebuah inisiatif perjanjian perdagangan bebas antara antara 10 negara anggota ASEAN dan 6 mitra lembaga (China, Australia, Selandia baru, Korea Selatan, Jepang dan India).
 
“Namun, jangan salah, setiap perundingan perdagangan bebas, termasuk ASEAN RCEP, selalu mensyaratkan adanya kebijakan baru pemerintah yang mendukung investasi dan menghapuskan kebijakan yang menghambat investasi,” jelasnya, “Inilah kemudian yang menjadikan perjanjian perdagangan bebas tidak hanya berpengaruh pada ekspor-impor namun juga berdampak pada sendi-sendi kehidupan masyarakat lainnya, seperti hak asasi manusia (HAM), lingkungan hidup, pelayanan publik dan sebagainya.”
 
Rachmi mencontohkan, dalam perundingan RCEP mengadopsi ISDS (Investor-state dispute settlement).
 
“ISDS adalah instrumen hukum internasional umum yang memberikan investor hak penyelesaian sengketa terhadap pemerintah asing,” jelas Rachmi, “Meski ISDS sering dikaitkan dengan arbitrase internasional di bawah peraturan ICSID (International Centre for Settlement of Investment Disputes of the World Bank), ISDS justru lebih sering terjadi di bawah pengawasan pengadilan arbitrase internasional yang diatur oleh serangkaian peraturan dan/atau lembaga seperti London Court of International Arbitration, International Chamber of Commerce, Hong Kong International Arbitration Centre, atau UNCITRAL Arbitration Rules.”
 
Kasus di beberapa negara, lanjut Rachmi, ISDS digunakan perusahaan investor untuk menggugat pemerintah yang mengeluarkan kebijakan perlindungan lingkungan hidup bagi warganya. “Di Amerika Serikat dan Jerman pernah ada kasus pemerintah digugat investor karena kebijakan perlindungan lingkungan hidupnya dianggap menghambat investasi,” tegasnya, “Singkatnya, RCEP yang didalamnya ada ISDS adalah mimpi buruk bagi masyarakat Indonesia.”
 
Celakanya, lanjut Rachmi, meskipun berdampak buruk secara meluas bagi masyarakat, perundingan RCEP ini dilakukan secara tertutup. “Pemerintah tidak menyediakan informasi yang cukup mengenai apa saja yang sebenarnya dirundingkan di RCEP,” jelasnya, “Proses perundingan RCEP ini jelas tidak demokratis.”

Sumber :liputanislam.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Imigrasi Bekasi Deportasi 9 WNA China

Jasa Presiden Soekarno buat bangsa Indonesia

RESENSI: Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Partai Berkuasa di Hungaria Ingin Usir "LSM George Soros"

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »