» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Asia
07-12-2016
China Sebut Donald Trump Presiden Twitter

Media massa China menyerang Presiden terpilih Donald Trump karena menyampaikan pernyataan keras lewat Twitter mengenai hubungan Amerika Serikat dengan China, bahkan ada yang mengolok-olok Trump tengah memerintah negaranya lewat Twitter.


"Apakah China meminta pendapat kita bahwa enggak apa-apa mendevaluasiakan mata uang mereka (dan) membangun kompleks militer besar-besaran di tengah Laut China Selatan?" cuit Trump lewat Twitter Minggu malam waktu AS lalu. "Saya kira tidak!"

Keesokan harinya, juru bicara kementerian luar negeri China Lu Kang menanggapi pernyataan Trump itu dengan mengatakan perdagangan China-AS adalah sama-sama menguntungkan dan kedua negara semestinya terus bekerja sama.

Tetapi pernyataan pejabat China itu, menurut NBC News, tidak sejalan dengan pernyataan media massa China sendiri.

The Global Times, surat kabar China, menulis, "Komentar sembarangan Trump terhadap sebuah negara besar menunjukkan ketidakberpengalamannya dalam diplomasi."

Pada jejaring sosial China Weibo, seorang pengguna menulis, "Satu-satunya cara yang bisa ditempuh Gedung Putih untuk berdamai suatu hari nanti adalah menghapus akun Twitter Donald Trump."

Seorang pengguna lainnya menulis, "Inilah alasan saya mendukung dia, (karena) dia jelas-jelas akan mempercepat resesi ekonomi di AS."

Kemudian seorang pengguna jejaring media sosial setara Twitter itu, menulis begini, "Dia menjalankan negara dengan Twitter."

Cuitan Trump itu sendiri disampaikan setelah muncul kritik terhadap pembicaraan telepon antara sang presiden terpilih dengan pemimpin Taiwan. Panggilan telepon itu ditafsirkan sebagai pengakuan kemerdekaan Taiwan.

Padahal selama berdekade-dekade, AS menerapkan kebijakan "Satu China" yang tidak mengakui Taiwan sebagai sebuah negara, sebaliknya mengikuti pandangan China bahwa Taiwan adalah provinsi yang memisahkan diri.



Artikel Terkait
» Aksi Pemakzulan Presiden Korsel Semakin Menguat
» Susul Rusia, Filipina Ancam Keluar dari Mahkamah Pidana Internasional
» Filipina Tegaskan Putus Kerjasama Militer dengan AS
» Duterte kepada Obama: "Pergi Sana, ke Neraka"
» Penjualan Rudal Harpoon AS ke India
» China tegaskan ASEAN adalah mitra pentingnya



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »