» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Sejarah Nusantara
12-12-2016
Mengenal Prasasti dan Sesanti sebagai Bagian Ilmu Tanda (Semiotika) Asli Nusantara
Penulis : Daun Lontar Yogyakarta

Sinamun Ing Samudana, Sesadoni Ing Ngadu Manis

‘Disamarkan dengan isyarat, segalanya harus dihadapi dengan manis”


Sebelum Van Zoes dan Ernest Cassier membuat pernyataan “homo semioticus” dan “animal symbolicum” pada abad ke-19 yang inti makna pernyataan tersebut bahwa manusia sendiri adalah makhluk bersimbol, ribuan tahun lalu orang Nusantara kuno telah mengenal ilmu tentang tanda (semiotika).

Hal ini dapat dilihat patung-patung megalitik yang telah ada sebelum masehi hingga berlanjut pada masa kerajaan-kerajaan kuno Nusantara dimana seluruh prasasti kerajaan tua seperti Kutai Kertanegara, Kalingga, Sriwijaya, Tarumanegara yang rata-rata telah berusia 1500 tahun telah menggunakan ilmu tanda (semiotika) dalam setiap prasasti yang dipahatkannya.

Ungkapan semiotika itu terpahat indah dalam sebuah rangkaian kata salah satunya yang terdapat dalam prasasti Yupa Kerajaan Kutai Kertanegara abad ke V berbahasa Sansekerta berbunyi “srimataah sri narendrasya, kundungasya mahatmanah,putro svavar mmo vikhyatah dan seterusnya... yang artinya ‘Sang maharaja kudungga, yang amat mulia mempuyai putra yang mashur sang aswawarman namnya” .

Namun begitu tidak perlu risau dengan penggunaan bahasa sansekerta dalam prasasti Kutai Kertanegara tersebut, karena prasasti lebih tua dari Kutai Kertangera yaitu abad ke IV ternyata berbahasa Melayu/Indonesia dan dianggap prasasti tertua berada di Vietnam Utara (Coedes,1939 ).

Vietnam Utara dalam sejarahnya merupakan wilayah Nusantara yang saat itu dikuasai oleh geneologis “Warman” berbangsa Melayu Campa.

Sayangnya kini wilayah Vietnam tersebut telah dalam kuasa bangsa Cina yaitu suku King dari Cina Selatan yang menyerang bangsa Melayu Campa dan akhirnya Melayu Campa runtuh pada tahun 1471 hanya selisih 7 tahun bersamaan dengan runtuhnya kerajaan sekerabatnya yaitu Majapahit di Jawa Indonesia 1478.

Melangkah ke zaman Indonesia klasik kita masih istiqomah menggunakan ilmu simbol sebagai media berekspresi dengan beragam bentuknya, namun bukan lagi dalam bentuk prasasti akan tetapi berupa sesanti atau semboyan. Sebagaimana sesanti atau semboyan di Kalimantan Selatan tanah para Pegustian yang berbunyi “Wadja Sampai Kaputing” (semangat baja sampai titik akhir), sesanti di Kalimanatan Tengah tanah para pangkalima yaitu “Isen Mulang” (pantang mundur). Seemntara di Sumatera Selatan negeri “wong kito galo” berbunyi “ Besatu Teguh “ dan Yogyakarta “Hamemayu Hayuning Bawana” (memperindah keindahan dunia) dan masih banyak lagi.

Bukan hanya daerah yang memiliki ekpresi sesanti sebagai pengobar semangat, akantetapi tokoh-tokoh besar Indonesia juga banyak memiliki sesanti ampuh sebagai pendorong semangat dalam perjuangan melawan penjajah saat itu. Lihat saja sesanti2 dua tokoh Jawa berikut ini.

Sang Heru Cakra Ratu Adil Pangeran Diponegoro

Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”
‘Kejahatan sebesar apapun akan hancur lebur oleh doa dan kebenaran’

“Maju tatu mundur ajur”
‘Maju luka, mundur hancur’

Dan Panglima Besar Jendral Sudirman

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi Jiwaku dilindungi benteng merah putih, akan tetap hidup, tetap menuntut bela, siapapun lawan yang aku hadapi”.

“Bahwa kemerdekaan satu negara, yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa-harta-benda dari rakyat dan bangsanya. Tidak akan dapat dilenyapkan oleh mansuia siapapun”.

Itulah sekelumit tentang prasasti dan sesanti asli Nusantara yang merupakan bagian dari ilmu semiotika yang patut untuk kita lestarikan dan banggakan.

Wallu a’lam bissawab

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Bela Negara adalah Kewajiban bagi Setiap Warga Negara Menyikapi Anarkisme (Geo) Politik Global

Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya

China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »