» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Timur Tengah
16-12-2016
Oleh Bill Van Auken
Kesulitan Terbesar AS di Suriah
Pasukan “pemberontak” Suriah yang didukung AS telah menemui kekalahan terburuknya sejak dimulainya perang ini hampir enam tahun yang lalu.  Militer pemerintah (Syrian Arab Army) yang didukung Hizbullah Lebanon dan milisi Syiah Irak, telah merebut kembali lebih 40 persen wilayah timur Aleppo, kubu terakhir yang diduduki oleh pasukan “pemberontak.”

Menurut laporan dari Iran, yang bersama-sama dengan Rusia, merupakan pendukung utama pemerintah Suriah Presiden Bashar al-Assad, tentara Suriah telah menaklukkan 20 kilometer persegi dari total 45 kilometer persegi yang membentuk wilayah Aleppo timur.
 
Kemajuan pasukan pro-pemerintah sangatlah cepat, menunjukkan kemenangan di hadapan milisi yang didukung AS. Medan perang ofensif ini menyusul serangan udara yang diluncurkan selama dua minggu oleh pesawat-pesawat tempur Suriah dan Rusia.
 
Media pemerintah Suriah melaporkan bahwa tentara telah menguasai daerah Sakhour dan membersihkannya dari ranjau. Kontrol pemerintah atas kawasan ini secara efektif akan membagi dua wilayah yang dikuasai “pemberontak”.
 
Keberhasilan pemerintah telah berhasil menyelamatkan warga sipil. Puluhan ribu warga sipil yang selama ini terpenjara di dalam wilayah yang dikuasai oleh “pemberontak” akhirnya berhasil melarikan diri ke Aleppo Barat yang dikuasai pemerintah dan ke distrik Sheik Maqsud yang dikuasai oleh milisi YPG Kurdi.
 
The YPG telah bergabung dengan tentara Suriah dalam serangan terhadap Aleppo timur, dan hal ini memperumit intervensi AS di Suriah. Washington selama ini mendukung “pemberontak” atau milisi Muslim melawan pemerintah Assad, namun juga berupaya untuk menggunakan YPG dalam melawan ISIS di Suriah. Di saat yang sama Turki, anggota NATO, juga telah mengirimkan pasukan ke Suriah, seolah-olah untuk memerangi ISIS, tetapi sebenarnya diarahkan untuk mencegah pasukan Kurdi Suriah menguasai wilayah dekat perbatasan Turki. Akibatnya, di beberapa front, kedua pasukan yang sama-sama didukung Washington malah saling berperang melawan satu sama lain.
 
Warga sipil yang berhasil melarikan diri dari Aleppo timur bercerita mengenai horor yang mereka alami saat terjadinya serangan udara dari pemerintah Rusia-Suriah serta represi dan teror yang dilakukan oleh para pemberontak.  Rakyat sipil juga ditembaki para pemberontak saat mereka berusaha lari ke Aleppo barat.
 
Sebelum perang dimulai pada tahun 2011, Aleppo adalah kota terbesar kedua Suriah serta pusat perdagangan utama di Suriah. Aleppo barat dihuni oleh sekitar 1,5 juta orang, sementara Aleppo timur yang diduduki “pemberontak” kurang dari 200.000 jiwa. Aleppo barat selama beberapa tahun terakhir ini menjadi korban serangan mortar yang secara acak diluncurkan oleh para “pemberontak”, dan menjatuhkan korban dari masyarakat sipil.
 
Baik media Rusia maupun AS melaporkan pada Senin lalu (28/11) bahwa Menteri Luar Negeri AS John Kerry telah memulai gerakan baru yang bertujuan untuk mencapai gencatan senjata di Aleppo. Seperti biasa, upaya gencatan senjata dibungkus dalam retorika kemanusiaan, namun bertujuan utama untuk mencegah kekalahan total milisi pemberontak yang didukung AS, serta mencegah pemerintah Suriah melakukan konsolidasi di seluruh pusat-pusat kota Suriah.
 
Para pejabat pemerintahan Obama telah mengecam keras pemerintah Suriah dan sekutunya Rusia atas pengepungan Aleppo timur. Situasi saat ini adalah kebalikan dari apa yang terjadi tahun lalu ketika “pemberontak” mengepung Aleppo Barat. Pada saat itu, pejabat AS tidak menyebut-nyebut masalah kemanusiaan dan membiarkan saja rakyat sipil Aleppo jatuh ke tangan “pemberontak” yang sesungguhnya pasukan asing dari berbagai negara dan melakukan berbagai kejahatan atas nama Islam.
 
“Ini adalah masalah yang sulit,” kata Juru Bicara Pemerintah AS, John Kirby, saat berkomentar mengenai perkembangan terbaru di Aleppo.
 
Tentu saja, memang sulit bagi AS untuk mencuci wajahnya di depan opini publik, ketika sedemikian terang benderang bahwa negara ini mendukung ISIS dan Al Nusra, dua cabang Al Qaeda yang selama satu setengah dekade ini oleh AS sendiri disebut sebagai ancaman terbesar bagi AS dan dunia.

Sumber :liputanislam.com

 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Iran Tingkatkan Pembelian Minyak Sawit Indonesia

Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »