» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Teknologi Informasi
17-12-2016
Dengan Monalisa, Bakamla RI Terus Awasi Perairan Indonesia

Badan Keamanan Laut Republik Indonesia atau Bakamla RI terus melakukan pengawasan perairan di laut Indonesia. Bahkan Bakamla memiliki satu sarana pemantauan yaitu Monitoring dan Analisa (Monalisa) di ruangan Pusat Informasi Maritim (PIM). 


“Melalui alat ini kita bisa lakukan pantauan dan pengawasan di perairan Indonesia, bisa deteksi yang mana kapal patroli, kapal ikan, mana kapal niaga,  terlihat dari objek-objek berwarna merah yang diamati dan dianalisis oleh personel di PIM,” jelas Laksdya TNI Ari Soedewo, kepala Bakamla RI kepada sejumlah awak media kantor Bakamla Jl. Dr. SUTOMO-11, Jakarta Pusat, Jumat (16/12/2016).

Pada kesempatan tersebut, Kepala Bakamla RI juga menunjukkan sarana monitoring dan surveillance Bakamla RI yang dioperasikan oleh para personel PIM, seusai pertemuan wawancara di Ruang Rapat Kepala Bakamla Kantor Pusatnya.

Sesuai dengan UU 32/2014, Bakamla RI dituntut untuk mempunyai kemampuan patroli, pengawasan dan sinergi. Membangun sistem pengawasan yang terintegrasi dengan stakeholder lain dapat mendukung tercapainya fungsi Bakamla RI menjadi lebih baik secara optimal, dan pada tahun ini hal tersebut direalisasikan melalui kegiatan pembangunan backbone, Long Range Camera (LRC) dan Satelit Monitoring (satmon) berdasarkan APBN-P tahun 2016.

Pengadaan satmon memungkinkan Bakamla RI untuk bisa mengetahui aktivitas kapal, mulai dari kapal apa, sedang ‘bicara’ dengan siapa dan kapal tersebut ‘bicara’ apa. Hal ini yang sedang diupayakan Bakamla RI untuk bisa segera terwujud di tahun 2017. Keberadaan satmon nantinya dapat mendukung pengawasan terhadap aktivitas kapal-kapal yang mencurigakan di perairan Indonesia, sehingga kemampuan surveillance dan upaya pengamanan perairan Indonesia dari kapal-kapal ‘nakal’ dapat lebih ditingkatkan.


Seperti diketahui, saat ini Bakamla RI menggunakan Monalisa untuk melakukan pemantauan terhadap kapal-kapal yang melintas dan berada di perairan Indonesia, dan berupaya untuk terus bersinergi dengan stakeholder melalui Bakamla Integrated Information System (BIIS). Namun sistem yang dimiliki saat ini baru sebatas ‘melihat’ dan menganalisis kapal-kapal yang diduga atau berpotensi untuk melakukan pelanggaran di laut.

Keberadaan satmon dapat memperkuat kemampuan monitoring dan surveillance dengan memberikan kelebihan untuk ‘melihat’ aktivitas kapal dan ‘mendengar’ interaksinya melalui integrasi atau penggabungan berbagai sarana pemantauan yang telah dimiliki Bakamla RI saat ini.

Selain itu, dengan adanya satmon memungkinkan Bakamla RI untuk memenuhi tugas pengawasannya dalam hal melihat keterkaitan antara satu kejahatan dengan kejahatan lainnya. Sebagai contoh dalam kasus kejahatan illegal fishing dimungkinkan berkaitan pula dengan money laundering, perbudakan, narkoba, dan lain-lain.

“Dari satelit monitor itu kita bisa dapat keterkaitannya terhadap kejahatan-kejahatan lain yang nampaknya seperti gunung es di permukaan hanya illegal fishing atau illegal migran, dan memantau kedalaman lebih lanjut, dan ini akan bermitra dengan stakeholder yang lain sehingga pengawasan ini bukan murni punya Bakamla atau yang mengawasi hanya Bakamla, karena kami akan bekerja sama dengan BIN, Lemsanneg, dan lain-lain untuk mengawasi itu sehingga menjadi lebih komprehensif,” jelas Laksdya TNI Ari Soedewo.

Kepala Bakamla RI menambahkan, kolaborasi antara radar, satelit dan Long range akan lebih efektif apabila focus mengamati daerah-daerah yang selama ini tidak terjangkau oleh kapal patroli, karena dengan adanya satmon, Bakamla melalui PIM dapat melihat dan mendengar aktivitas kapal-kapal di wilayah perairan yang secara fisik belum terjangkau oleh kapal patrol tersebut. (TGR07)

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Pemerintah Pastikan Blokir Telegram

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »