» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Hankam
20-12-2016
Membangun Karakter Bangsa Guna Memperkuat Ketahanan Nasional

Mewaspadai Proxy War, Markas Besar TNI melalui Staf Teritorial beberapa waktu lalu menggelar penyuluhan Komunikasi Sosial Tentara Nasional Indonesia (Komsos TNI) bertajuk ‘Melalui Komsos TNI Kita Jalin Hubungan Silaturahmi Antara TNI Dengan Komponen Masyarakat Dalam Rangka Memperkuat Ketahanan Nasional di Wilayah’.


Komsos TNI yang berlangsung di GOR Tulamalae Atambua, wilayah Kodim 1605/Belu Korem 161/Wira Sakti, Kodam IX/Udayana ini dihadiri ribuan orang. Turut hadir Wakil Bupati Belu, Dandim 1605/Belu, Kapolres Belu, Muspida Kab. Belu, Danyon Satgas 641/R,  Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda, Organisasi Kewanitaan, Purnawirawan TNI/Polri, Mahasiswa, Pelajar SMU dan SMP, Anggota TNI dan Polri.
 
Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI Mayjen TNI Wiyarto dalam materi berjudul ‘Mewaspadai Proxy War Dengan Membangun Karakter Bangsa Guna Memperkuat Ketahanan Wilayah Nasional Dalam Rangka Menjaga Keutuhan NKRI’, menyampaikan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang mampu hidup harmoni dalam perbedaan dan Bhineka Tunggal Ika yang dicengkeram oleh Garuda Pancasila menjadi pusat kekuatan pemersatu bangsa.

“Indonesia sebagai negara kepulauan dan lautan, menjadikan Belu dan daerah perbatasan lainnya menjadi daerah yang vital pertahanan batas kedaulatan wilayah,” kata Aster, yang diwakili oleh Paban IV/Komsos Ster TNI Kolonel Kav Achmad Said.
 
Ditegaskan Mayjen TNI Wiyarto, menghadapi Proxy War, maka bangsa Indonesia sebagai bangsa patriot harus memiliki karakter bangsa yang tangguh sebagaimana dicontohkan oleh pejuang-pejuang bangsa untuk menjadi Indonesia sebagai bangsa pemenang.
 
Lebih lanjut Aster Panglima TNI menjelaskan bahwa, karakter bangsa yang baik dengan mengedepankan semangat gotong royong, persatuan dan kesatuan akan mewujudkan ketahanan nasional yang kuat. “Masyarakat Belu yang terletak di perbatasan dengan karakter yang telah terbentuk selama ini, akan mampu menghadapi upaya-upaya yang bertujuan melemahkan kemampuan daya tangkal masyarakat terhadap pengaruh negatif, khususnya pengaruh dari negara tetangga,” tegasnya.
 
Menurut Aster Panglima TNI Mayjen TNI Wiyarto, masyarakat Belu harus bangga menjadi bangsa Indonesia, sesuai dengan arti Belu adalah Sahabat dan semboyan Belu sebagai Kota Beriman.  “Usar Binan Rai Belu Tetuk No Nesan Diak No Kmanek Sarwisu Nu Ata, Hanu Nain dengan persaudaraan orang Belu, kita capai kesejahteraan yang serasi dan seimbang bekerja seperti hamba, makan seperti Raja Ema Malae !! Selamat datang di Atambua kota beriman,” tuturnya.
 
Aster Panglima TNI juga menegaskan, gelar pasukan pengamanan perbatasan dan pembinaan teritorial yang dilakukan TNI melalui Komsos, pembinaan ketahanan wilayah dan bakti TNI, bertujuan untuk menyatupadukan TNI dengan masyarakat dan komponen bangsa lainnya.

“Ini semua untuk menjaga keutuhan wilayah, meningkatkan kesejahteraan dan menjaga tetap berjalannya program-program pembangunan yang sedang dijalankan oleh Pemerintah baik pusat maupun di daerah,” pungkasnya. (TGR07/PTNI)
 

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »