» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Iptek
21-12-2016
Ini Enam Fenomena Tata Surya yang Terjadi Sepanjang 2016

Sepanjang tahun 2016, warga bumi termasuk Indonesia merasakan sejumlah fenomena tata surya. Setidaknya ada enam fenomena tata surya yang menjadi daya tarik penduduk bumi di sepanjang 2016. Apa saja itu?


1. Gerhana Matahari Total (Maret 2016)

Pada 9 Maret 2016 terjadi Gerhana Matahari Total. Fenomena alam ini disaksikan oleh sebagian besar masyarakat kawasan Pasifik seperti Indonesia, Malaysia dan negara-negara di Asia Tenggara dan benua Australia.

Sementara sebagian besar India dan Nepal mengalami gerhana Matahari parsial. Sementara Indonesia lebih dari 50 persen gerhana sebagian dan melintas 11 provinsi. Di kota Jakarta, fenomena ini mulai terjadi sekitar pukul 06.12 WIB dan puncak gerhana sebagian pada 07.21 WIB.

Gerhana berakhir pada pukul 08.32 WIB. Gerhana Matahari Total sebelumnya penah terjadi di Indonesia pada 1983, 1988 dan 1995. Setelah 2016 ini, para peneliti memperkirakan fenomena ini baru akan terjadi lagi pada tahun 2023. 2.

2. Gerhana Bulan Penumbra (Maret 2016)

Pada 23 Maret 2016 terjadi Gerhana Bulan penumbra. Sayangya fenomena ini sulit disaksikan dengan mata telanjang karena tertutup awan.

Gerhana bulan ini ditandai dengan bumi menghalangi cahaya Matahari sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Fenomena ini terjadi akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi dan Bulan dan hanya terjadi saat fase purnama.

3. Merkurius lintasi wajah Matahari (Mei 2016)

Pada 9 Mei 2016 terjadi fenomena planet terdalam di tata surya yaitu Merkurius melintas wajah Matahari. Fenomena ini menyuguhkan pemandangan sekali setiap sepuluh tahun atau lebih. Sementara Bumi dan tetangganya yang lebih kecil berada dalam posisi sejajar di antariksa.

Perjalanan Merkurius yang disebut para astronom sebagai "transit" itu dimulai dengan sesuatu yang terlihat seperti titik kecil hitam di pinggir Matahari sekitar pukul 07.12 pagi EDT (1113 GMT). Selama 7,5 jam, Merkuris melakukan perjalanan melintasi wajah Matahari dengan kecepatan 48 kilometer per detik.

Tercatat, sekitar 13 kali dalam satu abad, Merkurius dan Bumi sejajar, sehingga memberi kesempatan kepada pengamat menyaksikan Merkurius lewat antara Bumi dan Matahari.
Diprediksi fenomena Merkurius akan kembali melintas di antara Matahari dan Bumi pada 2019. Sesudahnya, kesempatan menyaksikan fenomena itu tidak akan datang lagi sampai tahun 2032.

4. Mars - Bumi pada jarak terdekat dalam satu dekade ini (Mei 2016)

Pada 30 Mei 2016, planet Mars dan Bumi pada jarak lebih dekat dari yang terjadi sebelumnya dalam satu abad lebih. Saat fenomena itu terjadi, posisi Mars berada di 75,3 juta kilometer Bumi dan mencapai titik tertinggi sekitar 35 derajat di atas horison selatan, sehingga bisa dilihat di langit malam. Planet Merah itu sudah bersinar terang sejak pertengahan Mei.

Kemudian di pertengahan bulan Juni, Mars akan terlihat lebih pucat, karena posisinya dan Bumi saling menjauh dalam orbit mereka.

Pada tahun 2003, planet itu berada pada jarak 56,3 juta kilometer, atau jarak terdekat yang pernah terjadi dalam 60.000 tahun.

Para pengamat harus menunggu sampai tahun 2287 untuk melihat kembali fenomena itu.

5. Gerhana Matahari Cincin (Agustus 2016)

Puncak gerhana Matahari cincin terjadi pada 1 September 2016, sejak pukul 17.26 WIB hingga 17.52 WIB. Kala itu, dua garis merah berdekatan teramati di Samudera Atlantik, Afrika bagian tengah, Madagaskar dan Samudera Hindia.

Di Indonesia sendiri, fenomena yang bisa diamati saat kondisi cuaca cerah itu hanya bisa teramati dari 124 kota dan kabupaten di 10 provinsi.

6. Supermoon (November 2016).

Pada 14 November 2016 merupakan fenomena supermoon paling terang dan terbesar sejak Januari 1948 yang terjadi di langit dunia.

Ketika itu, bulan mengorbit Bumi dalam posisi lebih dekat dibandingkan biasanya (karena bentuk orbit bulan adalah elips).

Astronom menyebut posisi terdekat bulan dengan Bumi itu sebagai tahap perigee. Jika biasanya jarak rata-rata Bumi dan bulan sekitar 384.400 kilometer, maka pada 14 November lalu jaraknya menjadi sekitar 356.500 kilometer.

Inilah alasan bulan muncul sekitar 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari suatu bulan purnama tahap perigee. Manusia di berbagai penjuru dunia tak akan melihat fenomena seperti ini hingga 2034 mendatang. (TGR07/ANT)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Sekelumit tentang Sertifikasi Ulama

DK PBB Kutuk Serangan di Pasar Mogadishu

Unair Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa bagi Peraih Nobel

Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »