» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Ekonomi dan Bisnis
21-12-2016
Jelang Natal-Tahun Baru, BI Siapkan Uang Tunai hingga Rp94 Triliun

Guna memenuhi kebutuhan transaksi menjelang tren konsumsi tinggi pada perayaan Natal dan Tahun Baru 2017, Bank Indonesia (BI) menyiapkan pasokan uang tunai sekitar Rp88 triliun hingga Rp94 triliun.


Yudi Harymukti, Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI mengatakan, jumlah pasokan uang tunai itu meningkat 10 persen dibandingkan antisipasi pada 2015 yang sebesar Rp85,6 triliun meskipun transaksi non-tunai masyarakat juga terus menggeliat.

"Meski mulai banyak transaksi non-tunai, karena pemulihan kondisi ekonomi, kebutuhan uang tunai masyarakat juga masih banyak," kata Yudi, Rabu (21/12/16), di Jakarta.

Lebih lanjut Yudi menjelaskan, Bank Sentral mengestimasi kebutuhan penarikan uang tunai meningkat 3-10 persen karena beberapa faktor. Pertama, jumlah hari libur pada Desember 2016 sebanyak sembilan hari, lebih banyak dibandingkan 2015 yang sebanyak tujuh hari.

Kedua, gencarnya pencairan anggaran pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pihak swasta.

Selain itu, faktor ketiga, karena mulai beredarnya 11 pecahan uang rupiah baru tahun emisi 2016, BI memperkirakan penarikan uang tunai akan meningkat.

"Penyebab keempat karena penambahan titik dan frekuensi penukaran baik dari BI maupun perbankan," ujarnya.

Ditegaskan Yudi, peningkatan pasokan uang tunai pada tahun ini sesuai dengan rata-rata tren tahunan pada 10 tahun terakhir yakni sebesar 12,8 persen.

Yudi menerangkan untuk persebaran pasokan uang tunai, BI memperkirakan masih akan terpusat di Kantor Pusat BI di Jakarta yakni sebesar 28 persen. Kemudian, di Jawa sebesar 24 persen, dan Sumatera sebesar 10 persen.

"Jika di Kalimantan, kita perkirakan kebutuhannya sebesar Rp8,5 triliun, Sulawesi, Maluku dan Papua, sebesar Rp12,6 triiun, Bali dan Nusa Tenggara sebesar Rp4,3 triliun," jelasnya.

Sementara untuk pecahannya, pecahan di atas Rp20 ribu sebanyak 98 persen, sedangkan uang pecahan kecil atau di bawah Rp20 ribu sebesar dua persen. (TGR07/ANT)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Menyimak Konflik Sosial di Indonesia

Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »