» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Amerika
04-01-2017
Penjara Guantanamo
Kicauan di Twitter, Trump Minta Pemindahan Tahanan Guantanamo Dihentikan

Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, Selasa, melalui twitternya meminta pemerintahan Presiden Barack Obama untuk menghentikan pemindahan tahanan dari penjara militer AS di Teluk Guantanamo, Kuba.


"Seharusnya jangan ada (tahanan-tahanan) lainnya yang dibebaskan dari Guantanamo. Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya dan tidak boleh dikembalikan ke medan pertempuran," kata Trump melalui Twitter.

Seperti diketahui Presiden Obama telah menyatakan janji untuk menutup penjara tersebut semasa ia masih menjabat. Pemerintahan yang dipimpinnya telah menunjukkan tanda-tanda untuk memindahkan lebih banyak tahanan sebelum Obama resmi meninggalkan jabatannya sebagai presiden pada 20 Januari.

Pada masa kampanye presiden tahun lalu, Trump menyatakan menentang rencana Obama untuk menutup penjara Guantanamo. Trump bertekad tetap menjaga keberadaan penjara tersebut dan "mengisinya dengan orang-orang jahat".

Kamp Tahanan Teluk Guantánamo atau Penjara Guantanamo merupakan kompleks penjara militer di bawah Joint Task Force Guantanamo (JTF-GTMO) dan menempati sebagian dari pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Teluk Guantanamo, Kuba sejak 2002. Penjara ini menahan tokoh yang oleh pemerintah Amerika Serikat dianggap sebagai anggota dari al-Qaeda dan Taliban.

Selain penjara Guantamo terbilang sangat kejam, Guantanamo bukanlah milik pemerintah Amerika, melainkan Kuba. Lantaran bukan milik sendiri, AS harus membayar pajak penggunaan yang jumlahnya lumayan besar yakni sekitar $ 800 ribu per tahun atau hampir Rp 10 miliar lebih. (TGR07/ANT)

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Menyimak Konflik Sosial di Indonesia

Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »