» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Analisis
04-01-2017
Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)
Angkatan Bersenjata Cina saat ini memang tidak main-main. Sejak 1979 Cina sudah menetapkan program militer jangka panjang yang diproyeksikan hingga tahun 2050.

Dalam skenario pemerintah Cina sejak era Deng Xioping pada akhir 1970-an, pada tahun 2000 Angkatan Bersenjata Cina menyelesaikan program modernisasi tentara rakyat Cina dan dinyatakan siap memasuki abad 21.
 
Setelah melewati tahapan ini, maka Cina memasuki tahapan kedua, yaitu membangun kekuatan di batas maritim yang mereka sebut sebagai mata-rantai pulau pertama (first island chain). Yang membentang dar Laut Kuning di Jepang hingga Laut Cina Selatan di Selat Malaka. Gimana? Mantap tho!
 
Tapi di tahap ketiga, lebih dahsyat lagi. Dengan program yang diproyeksikan hingga 2050, Cina memproyeksikan kekuatan maritimnya di rantai pulau kedua. Patokannya: Dari Pangkalan Armada 7 Pasifik di Guam, terus turun sampai ke Selandia Baru.
 
Menurut catatan Global Future Institute pada 2011 lalu, terbetik kabar Cina sedang mengembangkan jet tempur generasi kelima, yaitu J-20. Jet tempur ini setara dengan F-22 Raptor buatan Lockheed Martin. Seperti kita ketahui, Raptor merupakan jet tempur tercanggih di dunia hingga saat ini.
 
Menariknya, pada 2011 lalu Menteri Pertahanan AS Robert Gates meramalkan Cina akan memiliki jet tempur jenis J-20 ini pada 2020. beberapa pakar pertahanan memperkirakan Cina akan memiliki jet tempur jenis J-20 dua tahun lebih cepat dari perkiraan Gates.
 
Niat Cina untuk memperkuat Angkatan Lautnya memang sudah terlihat sejak 2008 lalu. Ketika beberapa laporan menyebutkan bahwa Cina sedang membangun dua unit kapal induk berbobot 60 ribu ton. Laporan ini juga menyebutkan, dua kapal induk itu akan menggunakan nuklir sebagai sumber tenaga.
 
Kalau laporan ini bisa dipercaya, berarti sekarang Cina sudah memiliki kapal induk hasil buatan dalam negeri.
 
Bahkan di bidang teknologi ruang angkasa, Cina juga semakin serius, terutama dalam pengembangan teknologi anti-satelit. Bahkan pada2007 lalu, Cina sempat melakukan tes uji coba teknologi tersebut, sehngga mengundang protes dari Dick Cheney yang waktu itu masih menjadi Wakil Presiden AS di bawah pemerintahan George W Bush.
 
Bagaimana soal anggaran militer di Cina sekarang ini? Nah untuk urusan ini, rasanya belum banyak data yang bisa diakses. Selain karena informasi di Cina sendiri sangat tertutup, namun ada beberapa modus yang diterapkan pemerintah Cina terkait anggaran militer.
 
Pertama, anggaran militer resmi. Anggaran militer ini karena bersifat resmi maka terbuka dan bisa diakses oleh publik. Karena selalu diumumkan oleh negara.
 
Kedua, yaitu pengeluaran militer yang digunakan sebagai anggaran militer, plus pembelian peralatan militer. Nah melalui modus ini, ternyata anggaran ini tidak masuk anggaran resmi pertahanan. Sehingga bisa disembunyikan melalui anggaran lain, misalnya melalui anggaran kementerian perdagagan.
 
ketiga, anggaran militer, ditambah belanja militer, plus investasi militer. Bagaimana persisnya hal modus ini diterapkan? Ambillah contoh angkatan laut Cina. Tidak kelihatan adanya anggaran untuk membuat kapal induk. Tapi sontak, 70 persen pembangunan itu selesai. Lha gimana ceritanya kok bisa? Rupanya, pembangunan kapal induk itu menggunakan anggaran investasi. Lagi-lagi, anggaran militer itu tidak masuk ke pos pertahanan, melainkan masuk ke pos lain.
 
kalau dipikir-pikir, pintar juga ya pemerintah Cina menyembunyikan anggaran militernya yang sesungguhnya. Berarti, anggaran resmi yang diumumkan pemerintah Cina bisa jadi jauh lebih rendah daripada anggaran militer Cina yang sesungguhnya. Bisa jadi malah dua kali lipat lebih besar daripada yang diumumkan secara resmi.
 
Jadi kalau menggunakan patokan data pada 2011 misalnya, Cina mengumumkan secara resmi anggaran militernya sebssar 70 milyar dolar AS. Namun dengan diterapkannya modus yang saya paparkan tadi, bisa jadi anggaran militer Cina yang sesungguhnya bisa mencapai 170 milyar dolar AS. Menakjubkan bukan?
 
Lantas, bagaimana dengan kekuatan personil tentara Cina saat ini? Ini juga tidak main-main. Tentara reguler sekitar 2.555.000 personil. Tentara Cadangan sekitar 800.000 personil. Adapun Paramiliter yang kapan pun siap untuk dimobilisasi sekitar 1.500.000 personil Bayangkan. Kalau Cina saat ini menyelundupkan 500.000 personilnya dengan berkedok sebagai pengiriman Tenaga Kerja Asing atau Migrasi Terselubung ke Indonesia, rasa-rasanya jumlah segitu bukan lah hal yang sulit. Namun dengan satu catatan, bahwa pengiriman TKA atau Migrasi terselubung tersebut memang benar-benar berasal dari Republik Rakyat Rakyat Cina, dan bukan dari Taiwan atau Hongkong.
 
Maka tak heran jika pada 2020, Cina diperkirakan bakal bisa menyaingi atau bahkan mengungguli Amerika Serikat. Bisa jadi Presiden terpilih Donald Trump dan para penasehat strategisnya sudah menyadari potensi kedigdayaan Cina di masa depan. Sehingga saat sebelum serah terima jabatan dengan Obama, Trump sudah bikin beberapa insiden yang memicu ketegagangan baru AS-Cina. Padahal hanya sekadar celotehan melalui twitter pribadinya.
 
Rupanya AS sampai pada kesimpulan, satu-satunya cara untuk menghentikan gerak laju angkatan bersenjata Cina, hanya dengan cara memancing Cina memasuki arena perang terbuka. Seperti ketika AS dan blok militer sekutu memancing Jepang memasuki arena Perang Dunia II dan Perang Asia Timur Raya. Dalam perhitungan AS dan NATO, dengan menggiring Cina masuk kancah peperangan, Cina akhirnya bisa dikalahkan. Seperti ketika Jepang akhnirnya bertekuk lutut terhadap tentara sekutu pada Perang Dunia II.
 
Mengingat supremasi Cina di bidang ekonomi saat ini, perkembangan pesat Angkatan Bersenjata Cina agaknya memang layakj untuk dicermati oleh para pemangku kepentingan Politik-keamanan di Indonesia.


Artikel Terkait
» Donald Trump Membuka Babak Baru Konflik AS-Tiongkok di Asia Tenggara dan Semenanjung Korea
» Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru
» Surat Terbuka Kepada Presiden Jokowi Terkait Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI yang Bebas dan Aktif
» Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
» Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain
» Dalam Konflik Laut Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »