» Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi » Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia » Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia » Aleppo, Propaganda dan Peta Aliansi Militer Terbaru (Bagian 2-Selesai) » Meneropong Masa Depan Angkatan Bersenjata Cina


Iptek
05-01-2017
Menakar Kekuatan Misi Ruang Angkasa Cina di 2017

Korporasi Ilmu Pengetahuan Ruang Angkasa Cina, Kamis, menyebut bahwa Cina menargetkan 30 misi ruang angkasa pada 2017. Dalam lima tahun mendatang, Cina akan memberikan jasa navigasi, komunikasi satelit dan analisa ramalan cuaca bagi negara-negara yang terlibat dalam inisiatif Satu Sabuk, Satu Jalan (One Belt, One Road/OBOR).


Wang Yu, Direktur Umum Program Long March-5 mengatakan, sebagian besar misi ruang angkasa tersebut akan menggunakan roket peluncur terbesar Cina Long March-5 dan Long March-7.

Lebih lanjut Wang Yu mengatakan, tahun 2017 merupakan tonggak penting bagi generasi baru roket peluncur Cina seperti Long March-5. Long March-5 atau Chang Zheng-5 kali pertama diluncurkan pada November 2016 dari Bandar Antariksa Wenchang, Pulau Hainan, selatan Tiongkok.

Wang Yu mengatakan Long March-5 akan membawa Change-5 probe untuk mendarat di bulan, mengumpulkan sampel dan kembali ke Bumi.

Sebelumnya, Cina telah meluncurkan misi ulang-alik pertama ke bulan dengan pesawat ruang angkasa robotik pada 2014. Misi itu membuka jalan bagi rencana program negara itu membawa kembali sampel bulan.

Misi yang dijuluki misi Change 5 Test 1 (CE5-T1) oleh beberapa pengamat program luar angkasa Cina tersebut, merupakan misi kembali ke bumi untuk menguji teknologi masuk kembali ke bumi, yang diperlukan untuk program membawa kembali sampel bulan.

Misi tersebut dirancang untuk mengumpulkan data eksperimental dan mengkonfirmasi teknologi masuk kembali ke bumi, seperti panduan, navigasi dan kontrol, perisai panas, serta desain lintasan.

Sedangkan Long March-7, versi yang lebih kuat dari Long March-2, akan mengirimkan pesawat kargo ruang angkasa Cina Tianzhou-1. Pesawat kargo tersebut akan diluncurkan untuk membawa perbekalan makanan dan bahan bakar dan keperluan logistik lainnya bagi laboratorium ruang angkasa Tiangong-2.

Sementara pada 2015, Tiongkok telah melakukan 19 misi peluncuran ke ruang angkasa dan sepanjang 2016 sebanyak 22 misi. Cina berhasil melakukan uji coba Long March-7 pada Juni tahun lalu.

Pada kertas putih yang diluncurkan di penghujung 2016 Cina mengumumkan pendaratan Change-5 di bulan pada akhir 2017 dan misi pertama ke Mars pada 2020. (TGR07/ANT)

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa
June S Syarief, Kepala Seksi Afrika, Eropa, dan Rusia, Kementerian Perdagangan RI. Disampaikan dalam Seminar Terbatas para ahli dengan tema "MEMBANGUN STRATEGI PERIMBANGAN KEKUATAN DALAM RANGKA MENGAKTUALISASIKAN ...

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Saatnya Indonesia Tampil Sebagai Kekuatan Baru dan Penyeimbang Kekuatan Dunia di Tengah Persaingan Global Dewasa Ini

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Apakah Outcome Pilkada 2017 Bisa Eliminasi Korupsi Politik ?

Merajut Kebhinekaan dan Menangkal Radikalisme

Menguak Dibalik Kisah Kebenaran Cheng Ho dan Sejarah Islam Nusantara

Memberdayakan Mahasiswa Menghadapi Ancaman Global

Catatan Terkait Pilkada 2017

Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"

Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris

Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia

Nusantara sebagai Episentrum Kerajaan-Kerajaan Dunia

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »