» Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos » Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil » Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik » Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia » Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing


Amerika
05-01-2017
AS Akan Pindahkan Tahanan Guantanamo ke Arab Saudi

Keinginan presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump di medsos Twitter agaknya masih tidak mendapatkan respon. Pasalnya, dalam waktu kurang dari 24 jam ke depan, AS akan memindahkan empat tahanan militer di Teluk Guantanamo ke Arab Saudi.
 


Tentu saja keputusan ini dinilai bagian dari upaya terakhir Presiden Barack Obama untuk mengurangi jumlah tahanan Guantanamo meski presiden terpilih Donald Trump meminta sebaliknya.

Seperti yang dilansir ANTARA, keempat orang itu merupakan rombongan pertama dari 19 tahanan yang juga akan dipindah ke Italia, Oman dan Uni Emirat Arab, sebelum Trump resmi diangkat sebagai presiden pada 20 Januari.

Jika 19 orang itu berhasil dipindahkan, hanya akan ada 40 tahanan yang tersisa di Guantanamo. Obama, delapan tahun lalu sempat berjanji akan menutup penjara kontroversial yang terkenal kejam tersebut.

Namun, Trump berjanji akan terus membuka penjara militer Guantanamo dan "memenuhinya dengan orang-orang jahat."

Pada Selasa, Trump mengatakan bahwa mereka yang saat ini ditahan di Guantanamo harus tetap meneruskan hukuman mereka, meski penyelidikan sejumlah badan pemerintah menemukan beberapa layak dibebaskan.

"Seharusnya tidak ada pembebasan lagi di Guantanamo. Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya dan tidak boleh dibiarkan kembali ke medan peperangan," kata Trump di akun Twitternya.

Gedung Putih menepis keberatan Trump dan mengatakan pemindahan dari Guantanamo--fasilitas penjara militer yang dibangun oleh mantan presiden George W. Bush di Kuba untuk menahan terduga teroris dari luar negeri--akan tetap diteruskan sampai Obama turun jabatan.

"Kami berharap akan terus memindahkan tahanan," kata juru bicara Gedung Putih Emily Horne.

Sementara itu, dua orang pejabat Amerika Serikat, yang menolak identitasnya diungkap, mengaku tidak tahu asal kebangsaan empat orang yang akan pindah ke penjara Arab Saudi.

Pada April lalu, Arab Saudi menerima sembilan tahanan Guantanamo asal Yaman, setelah Washington berunding lama dengan Riyadh.

Saat ini ada 59 tahanan di Guantanamo. Sebanyak 10 di antaranya diduga terlibat dalam merencanakan serangan 11 September 2001, sementara dua-puluhan lainnya tidak memperoleh dakwaan namun dianggap terlalu berbahaya untuk dilepaskan.

Sebelum naik menjadi presiden pada 2009, Obama mewarisi 242 tahanan Guantanamo. Pada masa kampanye saat itu, dia menyebut fasilitas tersebut sebagai "alat perekrutan" teroris.

Di bawah kepemimpinan Bush, Guantanamo adalah simbol yang menggambarkan kekejaman Amerika Serikat. Fasilitas itu dituding telah melakukan penyiksaan di luar batas.

Seperti yang dilaporkan Reuters, upaya Obama selama delapan tahun untuk menutup Guantanamo selalu mendapat tentangan dari kubu oposisi Partai Republik yang menguasai Kongres. (TGR07)



Artikel Terkait
» Kicauan di Twitter, Trump Minta Pemindahan Tahanan Guantanamo Dihentikan
» Cuitan Trump Soal Nuklir Dinilai Memicu Ketegangan Dunia
» Ini Dia Juru Bicara Gedung Putih Pilihan Trump



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing
Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise ...

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil

Kontroversi Keberadaan Freeport

Penyebaran Paham Radikalisme: Ancaman Nyata Kedaulatan NKRI

Menyikapi Kasus Freeport

Bangkitnya Komunisme dalam Konstelasi Politik Indonesia

Bom Panci di Cicendo, Pesan Eksistensi Kelompok Radikal

Mewujudkan Spirit Demokrasi Pancasila

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Saatnya Mengambil Alih Freeport

Waspadai Eskalasi Propaganda Aktivis Pro Papua Merdeka

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »