» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida


Timur Tengah
08-01-2017
Pasukan Irak Dekati Benteng ISIS di Mosul

Pasukan khusus Irak telah mendekati Sungai Tigris yang melintasi bagian tengah Mosul dan bergerak maju secara paralel dengan pasukan lain untuk memaksa militan ISIS mundur dari benteng utamanya yang terakhir, Sabtu (7/1).


Sebagaimana dilansir kantor berita Antara, ISIS didesak keluar dari lebih setengah kawasan-kawasan yang dikuasainya di timur sungai itu, yang membagi dua Mosul, tapi masih menguasai bagian Barat. Akan lebih, kelompok militan itu bakal kesulitan untuk mempertahankan Mosul bilamana pasukan Irak mencapai sungai tersebut.

Sementara itu, Pemerintah Irak di Baghdad menyatakan pihaknya telah mencapai persetujuan dengan Ankara untuk penarikan pasukan Turki dari sebuah kawasan dekat Mosul. Kedua kekuatan regional itu berusaha memperbaiki hubungan setelah perseteruan selama setahun terkait dengan pengerahan militer negara masing-masing.

Dalam satu kunjungan ke Irak, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim tidak mengatakan sebuah persetujuan telah dicapai, tapi isu itu dibahas dan akan diselesaikan, demikian laporan Reuters.

Ketegangan antara dua negara tetangga tersebut terkait dengan kampanye dukungan Amerika Serikat (AS) untuk memukul ISIS dari Mosul, yang mulai berlangsung pada Oktober 2016. Hal itu menjadi satu isyarat dari perjuangan untuk memperoleh pengaruh atas kota kedua Irak itu, bahkan bila kaum militan telah terusir.

Pertempuran untuk merebut kota itu masih harus dimenangkan, tetapi mulai mengalami kemajuan lebih cepat.

Pasukan kontraterorisme Irak bergerak ke arah beberapa ratus meter dari Sungai Tigris dan sebuah jembatan strategis pada Sabtu, tempat terdekat yang mereka kuasai, setelah melancarkan serangan pada malam sehari sebelumnya di sebuah distrik terdekat, kata seorang juru bicara militer Irak, Sabah al-Numan.

Gerak maju dalam beberapa haris terakhir telah mendesak para militan keluar kawasan-kawasan di timur sungai itu.

Jubir Dinas Kontraterorisme Irak(CTS) itu mengatakan, serangkaian taktik baru dan koordinasi lebih baik membantu gerakan mereka.

"Pasukan kontra terorisme telah dikerahkan sekitar 500 meter dari jembatan keempat," ujar al-Numan kepada wartawan di timur Mosul.

Seorang jubir koalisi mengatakan di Twitter bahwa ISIS telah merusak jembatan keempat secara sengaja ketika mereka mengalami kekalahan. Jembatan itu telah diserang oleh jet-jet tempur AS guna mencegah para militan mengirim penambahan pasukan di seantero kota itu.

CTS menguasai distrik Ghufran, juga dikenal al-Baath, dan memasuki distrik di dekatnya, Wahda, kata Numan.

Sebuah pernyataan terpisah dari militer menyebutkan polisi federal Irak telah menguasai kembali sebuah kompleks rumah sakit di Wahda di bagian tenggara Mosul, suatu hasil signifikan setelah unit-unit dukungan AS dipaksa mundur dari tempat itu bulan lalu di bawah serangan balasan gencar yang dilancarkan ISIS.

CTS dan polisi federal "sekarang bergerak paralel di kedua wilayah garis depan itu" di bagian tenggara Mosul, demikian Numan.



Artikel Terkait
» Kesulitan Terbesar AS di Suriah
» Inggris Cuma Ingin Senjatanya Dibeli Negara-negara Arab
» Saudi Hukum Mati 15 Orang yang Dituduh Jadi Mata-mata Iran
» Pemberontak Suriah Kehilangan Seluruh Timur Laut Aleppo



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »