» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump


Ekonomi dan Bisnis
09-01-2017
Oleh Sigid Kusumowidagdo
Impor Pangan Meningkat, Program Swasembada Pangan Tersendat
Di awal pemerintahan Jokowi-JK telah dicanangkan program swasembada pangan dengan target swasembada untuk bahan pangan strategis yaitu beras dengan target swasembada mulai 2015, jagung mulai 2016 dan kedelai mulai 2017. Berbagai program aksi telah dilakukan antara lain peningkatan pupuk bersubsidi sebesar 87,5 %, pemberian benih, alat pertanian dan mesin pertanian seperti traktor.

Tetapi yang terjadi gejolak harga pangan, naik terus sepanjang 2015-2016. Gejolak harga terutama harga jagung, daging sapi, daging ayam, telur ayam, kacang hijau, kacang tanah, bawang merah sepanjang 2015-2016.
 
Gejolak kenaikan harga mulai Mei 2015 sampai oktober 2016. Rekor kenaikan tertinggi selama 20 tahun yang lalu baru berakhir Maret 2016. Masyarakat kecil termasuk petani sebagai produsen menjadi net consumer yang ikut berebut mendapatkan kebutuhannya dengan harga yang tinggi.
 
1. TOTAL IMPOR PANGAN 2015
 
Total impor pangan 2015 46,298 juta ton menyerap devisa sebesar USD 8,846 juta atau sekitar Rp.116,5 trilyun. Pengeluaran untuk impor pangan sebagai berikut selama dilakukan Januari - Agustus 2015 antara lain;
  1. Beras = 225,027 ton = USD 97,8 juta,
  2. Jagung =  2,3 juta ton = USD 522,9 juta
  3. Kedelai = 1,52 juta ton = USD 7719, 8 juta
  4. Biji gandum + Meslin = 4,5 juta ton = USD 1,3 milyar.
  5. Tepung terigu = 61,178 ton = USD 19,5 juta
  6. Gula Tebu (Raw Sugar) = 1,98 juta ton = USD 789 juta.
  7. Gula pasir = 46.298 ton = USD 19,5 juta
  8. Garam = 1,04 juta ton = USD 46,8 juta.
Kebutuhan dolar untuk mengimpor pangan telah menekan terus nilai rupiah terhadap Dolar AS.
 
2. IMPOR PANGAN 2016
 
Kebutuhan devisa untuk impor pangan masih tinggi baik karena produksi dalam negeri yang belum banyak mengalami kemajuan akibat ketergantungan terhadap alam. Dan harga pangan dunia yang juga meningkat karena turunnya produksi di berbagai negara produsen akibat cuaca yang sukar dipastikan (akibat badai El -Nino dan La Nina ).
 
Impor pangan di semester 1 naik 2016 dibanding semester 1 2015 sebesar 12,2 %. Sedangakn impor pangan semester 2 di 2016 diprediksi naik 10 % dibanding periode sama 2015. Impor yang masih tinggi pada gula, gandum, pakan ternak yang melonjak. Sedangkan beras masih cukup dari impor stock tahun lalu dan semester 1 2016.
 
3. KELEMAHAN DALAM PERENCANAAN DAN KOORDINASI LEMBAGA PEMERINTAH DAN SWASTA
 
Di samping mesalah ketergantungan pada cuaca, juga sering terjadi kesalahan dalam perencanaan dan kurangnya koordinasi yang baik antar lembaga-lembaga pemerintah; antara Kementerian Kementerian: Pertanian, Perdagangan, BuLog dan Biro Pusat Statistik (BPS) serta asosiasi-asosiasi perdagangan dengan data yang berbeda-beda tentang stok pangan, produksi pangan, data impor-ekspor pangan, karena masing-masing sarat dengan kepentingan-kepentingannya sendiri. Sebagai akibatnya keputusan terkait produksi, impor dan ekspor pangan, tidak benar dan tidak tepat waktu yang sering mengakibatkan gejolak naiknya harga pangan dan diatasi selalu dengan impor yang menguras devisa.



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Menyimak Konflik Sosial di Indonesia

Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »