» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump » Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi


Internasional
14-01-2017
China dan Rusia sepakat balas penempatan rudal AS di Korsel

China dan Rusia sepakat untuk melakukan "tindakan balasan" atas rencana Amerika Serikat (AS) menempatkan sistem pertahanan anti-rudal di Korea Selatan (Korsel), demikian laporan kantor berita Xinhua, Jumat.


Xinhua tidak menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud dengan tindakan balasan tersebut, namun mengutip siaran pers pertemuan keamanan antara para pejabat China dengan Rusia bahwa kebijakan balasan itu "akan ditujukan untuk melindungi kepentingan China dan Rusia, serta untuk perimbangan kekuatan strategis di kawasan (Asia Timur)."

Pada Mei 2016, China dan Rusia sempat menggelar latihan anti-peluru kendali (rudal) secara bersama untuk beberapa saat, setelah pihak Washington dan Seoul mulai merundingkan penempatan sistem anti-rudal bernama Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Sistem anti-rudal THAAD itu ditujukan untuk menangkal ancaman dari Korea Utara (Korut) yang baru-baru ini terus agresif melakukan uji coba senjata nuklir dan rudal jarak jauh, demikian laporan Reuters.

THAAD kini akan segera ditempatkan di sebuah lapangan golf Korea Selatan. Tindakan itu kemudian memicu reaksi keras dari Moskow dan Beijing yang khawatir radar kuat THAAD akan digunakan untuk mendeteksi kelemahan pertahanan kedua negara tersebut.

Kedua negara juga menilai penempatan THAAD justru akan memperparah ketegangan di Semenjanjung Korea.

"China dan Rusia mendesak AS dan Korsel untuk segera menjelaskan kekhawatiran keamanan dan membatalkan rencana penempatan THAAD di Semenanjung Korea," tulis Xinhua mengutip siaran pers.

Korut yang agresif mengembangkan kemampuan senjata jarak jauh selama ini menjadi salah satu sumber masalah bagi China, yang merupakan satu-satunya sekutu diplomatik besar Pyongyang sekaligus mitra dagang utama.

Namun demikian, Beijing khawatir radar THAAD akan menjangkau wilayah sendiri.

Pada Kamis kemarin Menteri Perdagangan Korsel sempat mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk mengajukan protes kepada China atas sejumlah kebijakan yang dinilai bertujuan untuk membalas keputusan Seoul membiarkan Amerika Serikat menempatkan rudal di negaranya.



Artikel Terkait
» Pemerintah Turki Pecat 8.000 Pegawai Negeri pascapercobaan kudeta
» 75 Keanggotaan Indonesia di Organisasi Internasional Dievaluasi
» Iran Kecam Perpanjangan Sanksi AS
» Aung San Suu Kyi Urung ke Indonesia Akibat Demo Rohingya
» Poros Perlawanan, Blok Timur, Axis of Resistance



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Lewat Sepucuk Surat Trump Cairkan Hubungan dengan China

Khayalan Tingkat Dewa, Komunis Bangkit Lagi

Pilkada: Untuk Rakyat atau Politisi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral

Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump

Cinta dan Kebenaran

Rex Tillerson Dikukuhkan sebagai Menlu AS

Sekjen PBB Desak AS Cabut Larangan Masuknya Pengungsi Muslim

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »