» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Geopolitik
14-01-2017
Kaji Ulang Makna Globalisasi dan Implementasinya
Penulis : M. Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Penyebab carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara ini, salah satunya ialah kita ‘menelan’ dogma atau doktrin globalisasi secara mentah-mentah. Tanpa kritik tanpa selidik. “Tak ada satu negara pun yang dapat hidup sendiri atau mengindar dari pengaruh negara lain.” Hampir semua negara di muka bumi akan saling ketergantungan. Itulah inti makna globalisasi yang juga bermuatan demokrasi (ala Barat), HAM, lingkungan hidup dan liberalisasi.


Pertanyaannya kini, apakah Indonesia/NKRI bakal bubar jika menutup diri dari dunia luar; atau justru akan ada/banyak negara yang bangkrut bila tidak menjalin hubungan dengan Indonesia? Itu harus dijawab dulu.

Gilirannya, ketika kita menelan globalisasi tanpa “Bismillah” maka akibatnya sekarang, impor seolah-olah bahkan telah menjadi IDEOLOGI BARU yang dianut oleh siapapun rezim penguasa di negeri ini. Bayangkan saja, negara dengan garis pantai terpanjang (kedua) di dunia, kok malah impor garam dan ikan? Ini ironi geopolitik. Itu pertama. Yang kedua, negeri (agraris) dua musim dengan curah hujan tinggi, kok justru impor ketela, cabe, dan jenis kacang-kacangan lainnya? Sungguh ironis. Impor menggerus devisa, kok ‘ideologi’ tersebut terus dipelihara?

Maka seyogianya, selain bangsa ini mutlak harus mengkaji ulang perihal makna dan implementasi globalisasi, juga yang paling penting bahwa setiap pemimpin terutama di level nasional harus ada prasyarat wajib memahami tentang geopolitik, mampu mencermati dinamika lingkungan strategis baik global maupun regional, nasional, dan lain-lain untuk dijadikan masukan guna menentukan arah serta kebijakan di tingkat lokal/nasional. Inilah kemampuan minimal yang wajib dimiliki para pemimpin, sedang maksimalnya bahwa mereka wajib mendatangkan benefit/devisa bagi kepentingan nasional dengan berbasis geopolitik negeri/daerahnya.

Kenali dirimu (geopolitik) maka kamu akan mengenal/mencapai Tuhanmu (tujuan negara).

Renungan Sabtu, 14/1/2017 – MAP.




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »