» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Analisis
18-01-2017
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi
Penulis : M. Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Geoposisi (silang) Indonesia diantara dua samudera dan dua benua, selain dinilai sangat strategis dalam perspektif (geo) politik global, tetapi ia dapat berubah menjadi "kritis" jika pemerintah tidak memanfaatkan faktor geopolitical leverage dimaksud. Kenapa? Kita ulas sekilas titik-titiknya baik titik strategis maupun yang kritis.


Tak boleh dipungkiri, sekurang-kurangnya ada beberapa hal yang harus dicatat sebagai titik strategis, yaitu selain sebagai sumber raw material bagi negara-negara (industri) maju, Indonesia merupakan pasar yang tak pernah kenyang karena faktor demografi. Apa saja barang impor niscaya dilahap habis oleh warganya. Ia juga merupakan tempat memutar ulang kelebihan kapital bagi negara-negara industri, selain lintasan Sealane of Communication/SLOC, jalur distribusi minyak, gas, barang dan jasa yang tak pernah sepi.

Yang paling dahsyat sesungguhnya adalah choke points pada selat-selat dan perairan Indonesia (lihat gambar), namun justru point ini yang tak pernah dibahas, diberdayakan apalagi diundang-undang (UU)-kan.

Sekurang-kurangnya, dari tujuh selat strategis dunia, empat ---harusnya lima--- diantaranya berada di Indonesia. Artinya, bila Indonesia menutup beberapa selatnya dengan alasan kepentingan nasionalnya terganggu, maka bakal heboh dunia. Ini bahan/materi bargaining yang dahsyat pada forum diplomasi baik tingkat global maupun regional.

Sedang titik kritis yang mutlak harus disadari bersama adalah, jika Indonesia lemah baik sebagai bangsa maupun negara, selain ia cuma dijadikan buffer zone (penyangga) bagi negara-negara imperialis kapitalis karena faktor-faktor strategis di atas. Juga yang rawan dari perspektif kritis tadi, pertama, kita berbatasan dengan 3 negara asing di daratan dan 10 negara lain di lautan. Artinya apa, cukup banyak frontier ---batas imajiner pengaruh pusat terhadap rakyatnya di perbatasan--- yang mutlak harus dikelola secara konseptual. Jika tidak, wilayah-wilayah perbatasan bisa lepas satu persatu. Terpisahnya Timor Timor, Sipadan dan Ligitan adalah bukti nyata kelemahan pusat dalam mengelola frontier. Kedua, selain dikelilingi oleh 13 pangkalan militer Amerika (AS), negeri ini juga diputari oleh Five Power Defence Arrangement (FPDA) yang meliputi Inggris, Australia, Malaysia dan Singapore, selain ada pula ANZUS (Amerika, New Zealand dan Australia) dan lainnya.

Inilah points strategis dan kritis yang melekat pada takdir geopolitik Indonesia. Pertanyaannya, apakah kegaduhan dan hiruk-pikuk politik di tanah air saat ini terkait hal-hal di atas? Ora nyambung toh? Ya. Kita hari ini, masih digaduhkan oleh persoalan-persoalan hilir, hal yang tidak produktif untuk tujuan, cita-cita dan kepentingan nasional RI. Selanjutnya, kalau saya mengatakan, kondisi seperti ini merupakan pengalihan situasi (deception) oleh asing atau kaum kolonial, justru dicap atau dituduh anti asing, sedikit-sedikit asing sebagai kambing hitam, dianggap hoax, dan lain-lain sedang itu bagian dari bela negara secara konsepsi dari permainan geostrategi pihak luar. Kenapa? Bangsa ini terus digiring agar sibuk dan gaduh di tataran hilir sehingga abai terhadap persoalan hulu bangsa yaitu penguasaan ekonomi dan pencaplokan SDA oleh asing.

Kenapa semua ini terjadi (berulang) di Bumi Pertiwi, betapa kita lupa bahkan abai terhadap peristiwa tempo doeloe, lalu cenderung suka hal pragmatis.

 



Artikel Terkait
» Perlunya Memahami Teori Geopolitik Barat Meskipun Indonesia Tidak Menganutnya
» Membaca Geopolitik Kontemporer para Adidaya di Indonesia dari Perspektif Teori Ruang



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »