» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Kepolisian
26-01-2017
Presiden Ingatkan Tantangan Polri Makin Kompleks

Presiden Joko Widodo setuju dengan tema rapat pimpinan Polri 2017, yaitu promoter (profesional, modern, dan terpercaya). Namun, ia meminta itu tidak hanya sekadar tema, tetapi harus diwujudkan.


Menurut Presiden, perwujudan dari tema itu penting dalam rangka membangun kepercayaan publik. Cara mewujudkannya adalah dengan perbaikan kinerja seluruh jajaran Polri dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan.

"Saya ingin mengingatkan lagi bahwa ke depan Polri akan menghadapi tantangan tugas yang semakin kompleks," kata Presiden saat menghadiri rapim Polri 2017 di Auditorium Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (25/1/2017).

Presiden menilai, situasi keamanan dalam negeri bukan cuma diwarnai kejahatan konvensional. Kejahatan transnasional, terorisme, penyelundupan, hingga kejahatan siber harus jadi perhatian.

Polri pun diminta semakin giat mencegah berbagai bentuk tindak kejahatan kekayaan negara. "(Seperti) korupsi, pencurian ikan, pencurian kayu, serta tindak pidana di bidang perpajakan," pungkas Presiden.



Artikel Terkait
» POLRI: Duo Kombinasi untuk Konsolidasi, dan Kepentingan NKRI
» Kerja Sama Polisi Indonesia Timor Leste Meningkat
» Perpisahan, Sutarman Minta Polri Tetap Solid
» Polisi Negara Demokrasi: Perspektif Civil Society



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »