» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Komentar Pembaca
03-02-2017
Cinta dan Kebenaran
Penulis : Ghuzilla Humeid, Network Associate Global Future Institute (GFI)

(Merenung di tengah kegamangan kapal NKRI-ku.....)

Tatkala orang bicara cinta dan kebenaran sesungguhnya ia tengah mencari dan memilih "sesuatu" dalam hidup serta kehidupan. Salah mencari bisa tersesat lalu terjerumus. Was-was memilih menjadi ragu-ragu. Atau terlampau yakin cenderung gegabah. Bahkan, bisa terjebak rasa takabur lagi sombong. Tidak untuk ketiganya. Semua orang ingin menjadi orang yang benar, benar, dan benar.


Adalah keniscayaan bahwa cinta dan kebenaran selalu menarik diperbincangkan, dinyanyikan, bahkan dilegendakan banyak orang di mana pun. Oleh karena sejatinya hidup berawal dari cinta, dan kehidupan menjadi menarik sebab keyakinan tentang kebenaran.

Hidup itu sendiri. Hanya kehidupan yang bersama-sama. Hidup ditentukan oleh diri sendiri. Kehidupan dapat ditentukan orang lain dan lingkungan. Setiap hidup berbeda. Cuma kehidupan yang bisa dan boleh diseragamkan. Hidup itu manunggal rasa. Hanya berbeda rupa berbeda warna.

Kalau ia garis hidup itu vertikal-kehidupan ialah garis horizontal. Pada dimensi bilangan, hidup itu nol. Maka kehidupan adalah angka-angka sesudahnya. Seandainya cinta itu zat ia tak berwarna. Maka kebenaran yang memberinya warna-warni. Ibarat tubuh cinta ialah darah yang mengaliri hidup. Sedangkan kebenaran kaki penyangga kehidupan.

Tidak ada kehidupan tanpa hidup. Bermanfaat dan mudharatnya hidup karena kehidupan.

Tak ada hidup tanpa cinta.
Sia-sia kehidupan tanpa kebenaran.
Demikian aneka unsur jalin-berjalin antara hidup, cinta, kehidupan, dan kebenaran.

Aduhai, sesungguhnya siapa di balik makna (hakiki) cinta dan kebenaran dalam hidup serta kehidupan ini?

Konon, CINTA ialah sesuatu berbentuk pengungkapan, perasaan, pengorbanan, pengertian, dan program.

Pertanyaan hipotesa adalah:

(1) bagaimana dikatakan cinta, sedangkan kamu belum pernah mengungkapkan apa-apa;

(2) bagaimana bisa mengatakan bahwa cintamu sungguh suci, sedangkan kamu tak punya perasaan apa-apa;

(3) bagaimana disebut cinta, sementara kamu tak pernah berkorban apa-apa;

(4) bagaimana bisa menerima cintanya, sedangkan kamu tidak punya pengertian apa-apa;

(5) bagaimana mungkin cintamu disebut tulus dan ikhlas, sedangkan dirimu tak punya program apa-apa?

Dan KEBENARAN adalah sesuatu yang berbentuk penyelidikan, permasalahan, pembahasan, pengetrapan, atau tindakan, dan petunjuk.

Pertanyaan retorikanya:

(1) bagaimana mungkin sesuatu dianggap benar, sedangkan hal itu sama sekali belum pernah diselidiki;

(2) bagaimana hal itu dapat dikatakan benar, sedangkan kamu belum mengerti permasalahannya;

(3) bagaimana mungkin sesuatu dianggap benar, sedangkan sebelumnya hal itu tidak pernah dilakukan pembahasan;

(4) bagaimana mungkin dikatakan benar, sedangkan kamu belum pernah mengetrapkannya;

(5) bagaimana tindakanmu dikatakan benar, sedangkan langkah yang kamu tempuh tidak sesuai petunjuk?

Itulah CINTA DAN KEBENARAN....

Tatkala mencarinya wajib melalui Tata Hukum yang diJalankan secara Benar guna Mengetahui Sesuatu Hal.

Atau Mengetahui dulu dengan Benar hal ikhwal Jalannya Hukum sesuatu hal.

Jangan dipenggal. Jangan pula diacak atau dibolak-balik.
Itu satu rangkaian makna kalimat.
Bisa menimbulkan kerancuan, stagnasi, distorsi, dan seterusnya.
Dan, seringkali pemaknaan sepotong-sepotong cenderung ngawur dan mengada-ada.

Mereguk Cinta dan Kebenaran dalam hidup serta kehidupan butuh Persyaratan, Tata krama, atau Kriteria Logika. Oleh karena meraih cinta dan kebenaran Jalannya Ada dan lagi Nyata. Bukan seperti mimpi. Ada tetapi tak nyata.

Cinta bukan soal perasaan belaka. Bukan masalah pengungkapan saja. Bukan perasaan saja. Bukan pula soal pengertian semata.
Cinta butuh pengorbanan. Ia butuh program-program nyata.

Demikian pula hal ikhwal kebenaran.
Ternyata ia bukan sekedar petunjuk pimpinan. Tidak pula fatwa para ulama. Atau doktrin-doktrin semata. Kebenaran butuh penyelidikan karena ada masalah sebelumnya. Kebenaran membutuhkan pembahasan. Dan, suatu kebenaran butuh penerapan tindakan sebagai bukti untuk meyakinkan bahwa hal itu memang benar adanya.

Menyatakan cinta tanpa ada kriteria dan persyaratan logika adalah gombal belaka. Seperti remaja dimabuk cinta cuma syahwat yang bicara. Ia akan berlalu saat kau terlena dibuai cinta. Menyebut kebenaran tidak dengan tata krama logika adalah Dogma.

Apakah Dogma ialah keyakinan yang diterima tanpa kritik tanpa selidik. Cuma soal waktu saja. Lambat laun dogma berubah basi di mana manfaatnya hanya sekedar mitos ataupun stigma. Letaknya dimulut berselimut gengsi dan kebohongan belaka.

Oleh karena itu janganlah berpindah dari suatu hal kepada hal lain sebelum kamu mengetahui hakikat kebenaran. Terutama kebenaran mencinta, dicinta, serta kebenaran dalam bercinta.

Sesuatu dikatakan benar adalah sesuatu yang bergerak menurut sifat dan tuntutan dari zamannya. Selain daripada itu masih belum dapat dikatakan benar secara mutlak. Oleh karena sesungguhnya kebenaran itu berasal dari sang Dia, Rabb Yang Kekal Abadi.

 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »