» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Eropa
07-02-2017
Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia

Uni Eropa (UE) akan tetap menerapkan sanksi kepada Rusia sampai Moskow menghentikan dukungannya kepada pemberontak separatis di Ukraina. Sikap UE ini keluar di saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjanjikan hubungan yang lebih baik dengan Rusia.


"Tak ada alasan untuk relaksasi sanksi itu," kata Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson merujuk sanksi yang diterapkan bersama AS pada 2014 terhadap sektor energi, keuangan dan pertahanan Rusia.

UE makin memperlihatkan front bersatu untuk tujuan kebijakan luar negeri yang bertolak belakang dengan Trump pada banyak hal, termasuk menyangkut Iran, Cina dan peran NATO.

Walaupun UE tergantung kepada minyak dan gas Rusia, namun UE tak akan pernah mengakui aneksasi Semenanjung Krimea milik Ukraina oleh Rusia dan sebaliknya menuntut Rusia mematuhi kesepakatan damai Minks untuk Ukraina timur.

"Saya tak mau mengomentari di mana posisi pemerintahan AS dalam isu ini, namun saya bisa katakan di mana posisi Eropa menyangkut soal ini," kata kepala kebijakan luar negeri UE Federica Mogherini.

Para diplomat UE mengkhawatirkan pencabutan sanksi kepada Rusia oleh AS akan menyulitkan UE dalam mempertahankan sanksi itu. Negara-negara Eropa yang condong ke Rusia seperti Hungaria, Italia, Yunani dan Bulgaria malah ingin meningkatkan hubungan bisnis dengan Rusia.

Sementara Prancis dan Jerman yang membantu negosiasi damai Minks antara Rusia dan Ukraina, berkata kepada para menlu  UE  bahwa penting sekali memastikan diskusi menyangkut sanksi dalam kaitannya dengan konflik Ukraina yang sudah menewaskan 10.000 orang sejak April 2014 itu.

Seperti diketahui, Trump menyatakan akan mengendurkan sanksi kepada Rusia sebagai imbal balik dari pemangkasan skala nuklir Rusia, namun sikap Trump ini ditentang UE.

Para menlu UE kemudian menyambut pernyataan duta besar AS untuk PBB yang baru yang menyatakan AS tidak akan mencabut sanksi kepada Rusia sepanjang negara itu tidak menarik pasukannya dari Krimea. (ANT/Ret)



Artikel Terkait
» Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump
» Jerman Sedang Binasakan Uni Eropa
» Inggris akan Kirim Tentara ke Perbatasan Rusia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »