» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Politik
10-02-2017
Oleh : Ananda Rasti *)
Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Kerukunan antar umat beragama bisa mengatasi perbedaan dan saling menerima demi terciptanya perdamaian. Indahnya kemajemukan di Indonesia juga terlihat salah satunya di Papua, karena tanah Papua merupakan Indonesia mini, sehingga kemajemukan berada disini dan semua perbedaan suku, ras maupun agama, namun kemajemukan tersebut berpotensi tinggi jika dikelola dengan baik. Masyarakat di tanah Papua sudah bisa bersikap dewasa, sehingga masyarakat Papua menerima setiap masyarakat pendatang maupun dari agama lain. Kerukunan umat beragama merupakan aset bangsa guna kelancaran pembangunan di NKRI.


Kita telah mengenal indonesia dengan berpedoman Bhineka Tunggal Ika sehingga dari perbedaan itu kita semua bisa bersatu. Apabila semua masyarakat berpedoman dengan Bhinea Tunggal Ika maka tidak akan ada perbedaan ras maupun agama, sehingga bisa terciptanya kerukunan antar suku dan agama.

Tidak ada Agama yang mengajarkan untuk berbuat tidak baik, sehingga di harapkan kepada seluruh umat beragama untuk bisa meningkatkan kerukunan antar umat beragama. Kita harus belajar dari daerah-daerah atau negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerukunan antar umat beragama.

Di Papua kita telah mengetahui bahwa kita tinggal di tanah ini tidak lepas dari perbedaan suku, ras maupun agama, namun dari perbedaan itu kita harus teta bersatu demi keutuhan NKRI. Oleh karena itu, menjaga kerukunan antar umat beragama merupakan suatu tugas seluruh masyarakat.

Bagaimanapun juga, kerukunan antar umat beragama merupakan suatu aset sehingga di harapkan kepada seluruh generasi muda untuk bisa menjaga aset tsb guna menciptakan kedamaian di NKRI khususnya di tanah Papua.
 
Selama ini jika berkembang informasi bahwa di Papua ada konflik agama, maka masyarakat Papua tidak akan menyakininya karena menilai hal tersebut sebagai hoax saja. “Kami tegaskan bahwa di tanah Papua tidak ada konflik agama, yang ada hanyalah konflik terkait sosial dikarenakan agama tidak ada yang mengajarkan tentang keburukan,” kata Sirajuddin, salah satu tokoh muslim di Manokwari.

Salah satu bukti ada kerukunan beragama di Papua adalah lancarnya aktivitas keagamaan, seperti hal konkrit yang sudah dilakukan umat muslim yaitu dengan adanya Tempat Pendidikan Al Qur’an (TPA) di Masjid, sedangkan setiap minggu rutin tokoh agama menyampaikan pesan-pesan moral pada ibadah di gereja. Oleh karena itu, politisasi dengan menggunakan isu sensitif bahwa Manokwari akan menjadi tanah Injil yang disuarakan salah satu kontestan dalam Pilgub Papua Barat, sejauh ini tidak bergema sama sekali, hal ini disebabkan adanya sinergitas yang selalu ditingkatkan dalam memahami peran semua elemen bangsa kembali membangun kerukunan yang ada.

Kerukunan Beragama Terawat Dalam Bingkai NKRI

Sampai dengan saat ini kerukunan antar umat beragama di wilayah Papua, khususnya Manokwari berjalan sangatlah baik dan kondusif. Hal ini disebabkan karena masyarakat Papua sangat menghargai nilai-nilai agama, nilai toleransi dan nilai kearifan lokal, bahkan masyarakat Papua juga sering memberikan masukan yang konstruktif untuk merawat dan menjaga keberagaman dan kehidupan beragama di Papua, seperti mengusulkan agar ucapan salam sejahtera disesuaikan dengan kearifan lokal adat istiadat.

Salah seorang tokoh pemuda Papua Barat yang tidak mau disebutkan namanya dalam sebuah dialog interaktif di sebuah radio menegaskan yang sudah kita laksanakan bahwa kita mengkomunikasikan solidaritas antar umat beragama di Papua barat haruslah dengan baik, bahwa kita hidup dalam satu bingkai NKRI. Kita harus bisa menggunakan perbedaan itu untuk membangun pemuda-pemuda Papua agar kedepannya bisa menjadi lebih baik, karena diharapkan seluruh pemuda untuk mengedepankan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, pemuda Papua harus mengedepankan kearifan lokal, karena dalam kehidupan di Papua ini kearifan budaya sangatlah utama.

Umat muslim di Papua juga berkontribusi positif dalam menjaga perdamaia, keberagaman dan kehidupan agama di Papua dengan melakukan peranan kolektif untuk menjaga kerukunan antar umat beragama. Bahkan melalui TPA-TPA diajarkan pedoman dan nilai hidup berdasarkan ajaran Islam yang dapat dijadikan pedoman bagi generasi penerus sehingga dengan pedoman tersebut kedepannya tidak ada gesekan-gesekan antar umat beragama.

Yang juga perlu dicatat positif dan diapresiasi adalah keberadaan FKUB atau Forum Kerukunan Umat Beragama yang sangat berjalan dinamis di Papua dan Papua Barat, sehingga keberadaannya bisa menghindari atau meminimalisir adanya gesekan-gesekan antar umat beragama.

Sebenarnya, aspirasi umum yang berkembang di masyarakat Papua dan Papua Barat adalah mereka ingin mengajak GSP/OPM ataupun ULMWP, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), PRD, KNPB ataupun NFRPB untuk sama-sama membangun dan melestarikan Papua dan Papua Barat dalam naungan NKRI, karena masyarakat Papua dan Papua Barat pada umumnya sudah berprinsip bahwa integrasi Papua dalam NKRI sudah final. Mereka menilai, gerakan politik GSP/OPM dan kolega seafiliasinya tidak akan pernah berhasil melepaskan Papua dari Indonesia. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika elemen-elemen masyarakat di Papua dan Papua Barat bersatu membangun Papua yang didalamnya berarti juga menjaga dan merawat kerukunan beragama di Papua dan Papua Barat yang sudah terbangun dengan baik. Semoga.


*) Penulis adalah peneliti muda di LSISI, Jakarta.




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »