» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Analisis
14-02-2017
Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute
Seperti sudah diprediksi para peneliti Global Future Institute beberapa waktu lalu, situasi di Semenanjung Korea belakangan ini semakin memanas, terutama sejak Donald J Trump menjadi presiden Amerika Serikat. Pada hari Minggu 12 Februari lalu, Korea Utara kembali melakukan uji peluncuran rudal. Perkembangan ini tentu saja meresahkan Jepang dan Korea Selatan yang sejak berakhirnya Perang Dunia II, praktis merupakan sekutu strategis Amerika di kawasan Asia Timur. 

Menariknya lagi, uji rudal pada hari Minggu lalu itu bertepatan dengan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, di Florida, Amerika Serikat. Dalam pertemuan tersebut, kedua kepala negara bersepakat mengecam Korea Utara dan menyerukan Korea Utara untuk  mematuhi resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 
 
Keresahan pihak AS, Jepang dan Korea Selatan memang tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Begitu uji coba rudal Korea Utara itu dilakukan, ketiga negara tersebut kontan mengajukan konsultasi darurat kepada Dewan Keamanan PBB. untuk membahas penembakan rudal balistik oleh Korea Utara ke Laut Jepang Lebih tepatnya rudal Korut itu jatuh di antara Semenanjung Korea dan Jepang. 
 
Meskipun belum mencapai wilayah territorial Jepang, namun sebagai perang urat syaraf, manuver militer Korut itu sudah sangat efektif untuk menciptakan kecemasan dan kekhawatiran dari pihak Jepang maupun Korea Selatan. Apalagi ketika pihak Korut sendiri memang membenarkan bahwa telah menguji coba rudal jarak menengah tipe baru. 
 
Dalam tulisan kami terdahulu di situs ini, Korea Utara Korea Utara sebelum uji coba rudal jarang menengah tipe baru ini, pernah menguji coba rudal balistik antarbenua Intercontinental Balistic Missileatau ICBM). Sehingga AS kemudian mendorong Korea Selatan untuk mengembangkan rudal jenis serupa untuk mengimbangi ICBM Korut. 
 
Bukan tidak mungkin bahwa manuver Korut yang paling akhir ini, bisa dibaca sebagai reaksi balik Korut terhadap dukungan AS  kepada Korea Selatan dalam pengembangan ICBM. Salah satu pertimbangan kenapa Korut lakukan uji coba rudal jarang menengahnya adalah, ketika AS dan Korea Selatan menyepakati Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Sehingga memicu kemarahan Pyongyang dan Beijing.
 
Tindakan Korut yang seakan menantang tekanan Presiden Trump dan Perdana Menteri Abe ini, patut diduga telah mendapat dukungan sepenuhnya dari Cina. Mengingat sejak pecahnya Korea, Cina mendukung sepenuhnya pemerintahanan Korut. 
 
Maka dari itu, dalam tulisan kami di global review pada 9 November 2016, Global Future Institute memprediksi akan semakin meningkatnya eskalasi persaingan dan konflik global AS versus Cina di Semenanjung Korea. Apalagi dengan terpilihnya Donald Trump yang sangat agresif terhadap beberapa negara seperti Iran dan Korut. 
 
Jepang dan Korea Selatan memang sangat beralasan untuk khawatir dengan uji rudal balistik antar benua, karena CBM merupakan rudal jarak jauh yang dapat menghantam sasaran antarbenua. Rudal ini diluncurkan dengan kekuatan peluncuran roket sendiri untuk diterbangkan jarak jauh dan dengan seketika kekuatan peluncurannya dihentikan. 
 
Bahkan pihak Korut sempat mengancam bahwa ICBM-nya bisa meluncur hingga 9000 km dan mencapai Benua Amerika. Jenis ICBM memiliki jarak jangkauan minimum sekitar 5.500 dan maksimal 10 ribu km atau lebih. 
 
ICBM dapat berfungsi sebagai bom dahsyat dengan posisi lintasan peluru. Ada juga rudal penjelajah, yakni peluru kendali yang dikontrol oleh kekuatan roket peluncur secara keseluruhan dari tahap peluncuran sampai tahap pemboman. ICBM dikembangkan oleh Uni Soviet pada tahun 1957 untuk bersaing dengan Amerika Serikat. Teknologi pembuatan ICBM dewasa ini mampu meluncurkan rudal dalam jarak 10 ribu kilometer dengan penggunaan bahan bakar padat efisiensi tinggi untuk menghantam sasarannya dengan lebih tepat. (Bacahttp://world.kbs.co.kr/indonesian/archive/program/news_zoom.htm?no=4841 )
 
Isyarat AS untuk mengembangkan ICBM tandingan di Semenanjung Korea dengan dalih ancaman ICBM Korea Utara, kiranya perkembangan tersbebut perlu dicermati dengan seksama, karena cukup mengkawatirkan bagi stabiltias keamanan regional di Semenanjung Korea, dan bahkan bisa berdampak buruk bagi Indonesia. Khususnya terkait Konsep Poros Maritim Dunia yang dicanangkan Presiden Jokowi pada East Asia Summit  atau KTT Asia Timur di Nay Pyi Taw, Myanmar, pada November 2014 lalu. 
 
Nampaknya, inilah tren global yang sama sekali tidak terbayangkan di benak para perancang kebijakan strategis politik dan keamanan pemerintahan Presiden Jokowi maupun para pakar masalah-masalah internasional dan strategi. 


Artikel Terkait
» Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
» Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump
» Mengingatkan Perdana Menteri Shinzo Abe Atas Beberapa Kejahatan Perang Jepang di Indonesia
» Pemerintah Jepang Tidak Punya Itikad Baik Menyelesaikan Masalah Ianfu di Indonesia
» Donald Trump Membuka Babak Baru Konflik AS-Tiongkok di Asia Tenggara dan Semenanjung Korea



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »