» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Internasional
24-02-2017
Sekjen PBB: Empat Negara Hadapi Rawan Pangan

Sekretaris Jenderal Antonio Guterres kepada wartawan di PBB, New York, AS, Rabu (22/2/2017) mengatakan, lebih 20 juta orang di Sudan Selatan, Somalia, Yaman dan bagian timur-laut Nigeria menghadapi tingkat kondisi rawan pangan "yang menghancurkan".


Menurut data statistik PBB, di antara mereka, hampir 1,4 juta anak menghadapi resiko kematian yang tak terelakkan akibat kekurangan gizi sangat akut.

"Operasi kemanusiaan di empat negara ini memerlukan lebih dari 5,6 miliar dolar AS tahun ini," kata Guteres, sebagaimana dikutip Xinhua.

"Kita memerlukan sedikitnya 4,4 miliar dolar sampai akhir Maret guna menghindari bencana," imbaunya.

Menurut Guterres, untuk mencegah resiko kelaparan parah, PBB perlu meningkatkan operasi kemanusiaan di empat negara tersebut untuk mengirim makanan dan gizi, tapi menghadapi kekurangan dana menjadi penghalang terbesar.

Sepanjang tahun ini, PBB baru menerima 90 juta dolar AS untuk mendanai program kemanusiaan di keempat negara itu, kata Guterres, "sebanyak dua sen untuk setiap dolar yang diperlukan".

Oleh karena itu, ia mendesak masyarakat internasional untuk "melakukan apa pun yang dapat dilakukannya" guna mengerahkan dukungan, melakukan tekanan politik atas semua pihak dalam konflik dan mendanai operasi kemanusiaan.

Guterres juga menyeru semua pihak dalam konflik agar menjamin pekerja bantuan akses guna menjangkau orang yang memerlukan bantuan kemanusiaan.

Guterres mengatakan, satu komite pengarah akan didirikan untuk menghubungkan kelompok pembangunan PBB dan komite kerja antar-lembaga bagi bantuan kemanusiaan. (TGR07/ANT)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »