» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Afrika
01-03-2017
PBB: Kekeringan di Tanduk Afrika Bertambah Parah dalam Beberapa Bulan

Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan kekeringan di Tanduk Afrika diperkirakan bertambah parah dalam beberapa bulan ke depan. Awal musim hujan dan tingkat ramalan curah hujan diperkirakan tertunda untuk Maret-Mei di kebanyakan Wilayah Tanduk Afrika. Kondisi ini menyebabkan jumlah orang yang menghadapi kondisi rawan pangan parah di seluruh Tanduk Afrika yang lebih luas telah naik jadi 22,9 juta pada Februari, saat kekeringan yang berkepanjangan mengakibatkan gagal panen.


"Kebutuhan dipicu oleh babak-demi-babak kemarau, yang telah mengakibatkan gagal panen secara berturuk-turut, ditambah oleh konflik dan kondisi tidak aman, dan guncangan ekonomi yang mempengaruhi orang yang paling rentan," kata OCHA di dalam laporan terakhir Humanitarian Outlook, yang dikeluarkan di Ibu Kota Kenya, Nairobi.

Lebih lanjut laporan PBB itu menyebut, dampak dari kekeringan bisa dibandingkan dengan dampak kekeringan akibat El-Nino di Afrika Timur pada Oktober-November 2010, yang menyebabkan krisis gizi dan rawan pangan di wilayah tersebut pada 2011.

Gagal panen luas dan catatan rendah sayuran, serta kematian ternak dalam jumlah banyak, saat ini terjadi di seluruh Somalia, Ethiopi Timur dan Selatan, dan Kenya Pantai dan Utara.

Menurut laporan tersebut, Kenya Barat, beberapa bagian barat-daya Ethiopia, beberapa bagian Sudan Selatan dan Tengah, dan Uganda Timur terpengaruh sekalipun tidak parah.

"Sumber air dan rumput buat konsumsi ternak serta manusia berada pada tingkat sangat rendah di banyak wilayah, terutama di antara Somaliland dan Ethiopia Selatan," jelas laporan PBB itu.

Laporan itu dikeluarkan setelah kelaparan diumumkan di beberapa bagian Negara Bagian Unity di Sudan Selatan, sementara kondisi kemanusiaan di Somalia memburuk dengan cepat dan kelaparan sangat mungkin terjadi pada 2017.

"Kekeringan parah, kenaikan harga, terbatasnya akses dan kondisi tidak aman yang terus melanda, selain ramalan hujan yang buruk menunjukkan kelaparan mungkin terjadi lagi di Somalia," demikian peringatan OCHA.

Penduduk yang menghadapi rawan pangan di Somalia bertambah dari lima juta pada September 2016 jadi lebih dari 6,2 juta pada Februari.

"Ini meliputi peningkatan drastis jumlah orang dalam 'krisis' dan 'kondisi darurat' dari 1,1 juta enam bulan lalu jadi hampir tiga juta --yang diproyeksikan untuk Februari sampai Juni," katanya.

Sementara OCHA juga menyatakan konflik telah menjadi penyebab utama pengungsian di seluruh perbatasan dan ancaman bagi keamanan rakyat.

Ada empat juta pengungsi dan pencari suaka di wilayah itu, dan kebanyakan orang yang baru kehilangan tempat tinggal berasal dari Sudan Selatan. Lebih banyak orang telah menyelamatkan diri dari Sudan Selatan sejak Juli 2016 dibandingkan dengan yang dari Suriah sepanjang 2016. (ANT)



 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »